Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
74. Bersyukur


__ADS_3

Alber POV


Kami sampai di rumah Uta, kala hari memang sudah gelap. Mungkin karena mendengar suara si hitam, Tante Celine langsung membuka pintu dan keluar menyambut kami. Tante Celine langsung memastikan putrinya baik baik saja dan langsung memeluknya erat.


"Uta gak apa apa Mah." Ucap Uta berusaha menenangkan kekhawatiran Ibunya. Tante Celine membelai surai hitam gadis dasi dengan sayang.


"Sayang jangan ambil hati perkataan Papah, dia lagi ada masalah makanya banyak pikiran." Ucap beliau membelai lembut pucuk kepala Uta.


"Mamah gak usah khawatir. Soal Papah, Uta gak sama sekali ambil hati." Jawab Uta mengangguk lembut dan tetap menenangkan hati Tante Celine. Gadis itu kemudian mengurai pelukan dari Tante Celine.


"Uta ke atas bentar ya mah, gerah banget belum mandi." Ucapnya meminta izin untuk pergi membersihkan diri sebentar.


"Ber aku naik bentar ya." Ucapnya menatapku dan ku iyakan dengan anggukan. Wajar saja Uta ingin mandi sebentar, karena ia sedari pagi sudah datang ke rumah untuk menjaga Putri. Jika aku di posisinya pasti juga ingin mandi sekarang, biar merasa segar.


Tak berapa lama, aku juga menunaikan sholat dulu di lantai bawah. Tama adik Uta datang pas aku selesai sholat. Ia datang dengan baju dan celana jersey yang kotor dibeberapa bagian. Nampaknya Tama habis main bola.


"Loh Bang Alber dirumah? Yang lain kemanaan Bang?" Tanya Tama saat melihatku di rumah. Matanya mencari penghuni rumah yang sesungguhnya.


"Uta diatas, Tante di dapur. Baru pulang Tam?" Jawabku atas pertanyaannya, diikuti pertanyaan balik padanya.


"Iya Bang, seharian ini baru pulang sekarang. Kerja kelompok lanjut main bola sama anak anak. Maklum orang sibuk nih." Jawabnya sembari menyisipkan guyon guyon kecil, lengkap dengan mimik wajah dibuat songong saat mengatakan dirinya orang sibuk.

__ADS_1


"He .. he .. he .." Aku tak bisa tak tertawa. Tama memang lucu dan gampang bergaul dengan siapa saja. Tapi yang membuatku heran adalah ia benar benar mirip dengan Uta. Lebih tepatnya Uta versi cowok.


"Tama cabut mandi bentar Bang." Izinnya naik ke atas. Untuk hal ini pun benar benar persis kakaknya.


"Ya." Jawabku mempersilahkannya. Aku tau Tama pasti ingin segera membersihkan diri sekarang, sebab aku juga begitu jika habis bermain bola atau berolahraga. Rasanya tak betah bercokol dengan keringat, membuat tubuh terasa agak lengket.


Aku melipat sajadah dan berjalan ke dapur mencari Tante Celine. Kukembalikan sajadah yang kupakai ke beliau. Tante Celine menerima sajadah tersebut dengan senyum ramahnya.


"Alber duduk makan dulu, pasti pada belum makan tadi. Seperti biasa, gak boleh pulang kalo belum makan." Ucap Tante Celine menyuruhku duduk di kursi meja makan. Ibunda gadis dasi ini, memang sangat sangat murah hati dan ringan tangan berbagi. Tiap kali aku kerumah ini, selalu saja pulang dengan perut terisi. Beliau bahkan menarik lenganku agar duduk manis di kursi.


"Alber nunggu Uta sama Tama aja Tan, biar bareng bareng." Ucapku meskipun sudah duduk di salah satu kursi ruang makan tersebut. Rasanya tak enak kalau makan deluan.


"Tan, boleh Alber tanya sesuatu ke Tante?" Ucapku pelan namun serius, berusaha sebisa mungkin tak menyinggung perasaan Tante Celine.


"Pasti kamu bingung lihat sikap Papahnya Uta tadi. Apa Uta tadi nangis?" Ucap Tante Celine, menebak dengan tepat apa yang hendak ku tanyakan. Beliau yang memiliki kepekaan hati, tentu bisa dengan mudah membaca keadaan. Beliau juga menduga dengan tepat, perihal putrinya yang menangis.


"Meskipun Alber gak jawab, tapi Tante yakin anak itu tadi pasti nangis. Uta memang gak pernah sekalipun mengeluh ke Tante tentang sikap Papahnya. Tapi Tante bisa ngerasa, hatinya terluka." Jawab beliau dengan sorot mata, tak kalah sedih dari Uta tadi.


"Tante gak bisa cerita penyebabnya ke kamu. Tante gak mau membuka aib beliau. Bagaimana pun, itu Papahnya anak-anak. Tapi, begitulah hidup Ber, gak ada hidup yang sempurna." Ujar beliau bijak. Ya, tentu saja beliau punya hak untuk tidak membagi hal privasi keluarga mereka. Aku sangat mengerti itu, bahkan menurutku sudah semestinya beliau melakukan hal bijak tersebut.


"Apapun itu, Tante bersyukur masih dikasi sehat, rezeki, dan hati yang damai. Alhamdulillah Tuhan juga anugerahi Tante, dua anak yang luar biasa dengan punya hati yang lapang. Uta dan Tama, gak pernah sekalipun protes atau mengeluh ke Tante. Dan Tante bersyukur punya mereka. Mereka penguat Tante menjalani hidup." Ujarnya tersenyum, menceritakan kedua buah hati kebanggaannya.

__ADS_1


"Tapi yah itulah Ber, cobaan hidup ada aja. Papahnya anak anak memang bersikap kurang baik, tapi bagaimanapun takdir gak bisa diganti, beliau tetap orang tua untuk Uta dan Tama." Ucap beliau pasrah.


"Tante mau bilang makasih ke Alber, udah bantuin Tante bawa Uta pergi tadi. Pokoknya Alber doain aja ya, semoga Papahnya Uta suatu saat berubah." Ucap beliau padaku. Aku tak merasa menemani Uta pergi tadi, adalah suatu beban. Justru aku bersyukur hari ini mengantarnya pulang. Meskipun aku harus menjual nama Babam sebagai alasan mengantarnya. Tapi setidaknya, gadis dasi tak sendirian disaat peristiwa tadi terjadi.


Terdengar suara langkah seseorang menuruni tangga, membuat pembicaraan ini otomatis ditutup, meski tanpa kalimat penutupan. Suasana dan air muka Tante Celine secepat kilat beliau rubah jadi ceria. Beliau pasti tak ingin anak-anaknya merasa sedih. Benar-benar ibu yang luar biasa.


"Tama, ayok kita makan nak. Adek makan bareng sama bang Alber sini." Ujar beliau, rupanya Tama yang turun ke lantai satu. Dia sudah jauh lebih segar dari saat pulang tadi.


"Pas banget, Adek lagi laper banget ini." Jawabnya riang melihat menu lauk pauk yang terhidang, begitu menggugah selera.


"Panggil Kak Uta nya turun, kita makan rame rame." Titah beliau sebelum makan dimulai.


"Siap bos." Jawab Tama, dengan secepat kilat naik menjemput gadis dasi turun kebawah. Kami pun menikmati makanan bersama. Setidaknya kesedihan tadi, perlahan-lahan berubah menjadi gelak tawa di meja makan.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2