Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
15. Gak Ada yang Gendut


__ADS_3

Author POV


Flashback starts


Saat itu hari pertama masuk TK. Banyak orang tua yang menunggui anaknya sekolah dihari pertama sekolah ini. Pagi-pagi Uta diantar sang Mamah, tapi beliau tidak bisa menemani putri kesayangannya itu selama disekolah, karena harus pergi bekerja.


Uta yang sudah biasa ditinggal orang tuanya bekerja, seperti biasa tak ada protes yang keluar dari mulutnya. Ia yang memang berasal dari keluarga yang sederhana, mau tidak mau menjadi lebih dewasa sedari kecil.


Hari pertama sekolah tentu membuatnya masih bingung bagaimana beradaptasi. Namun Uta kecil yang ceria sangat antusias, dengan teman teman baru yang ada disitu. Terlihat sekumpulan anak anak perempuan di dekat ayunan nampak sedang saling berbicara. Ia pun menghampiri dan bergabung disana, mencoba menyimak pembicaraan disana.


“Aku punya boneka Barbie dirumah” Ucap anak yang bernama Ara.


“Aku juga punya Barbie dengan baju barbie banyak banget dirumah” Sambung Mery.


“Kalo aku punya boneka Barbie sama boneka peri, cantik banget deh pokoknya.” Celetuk Rara.


Anak anak lain satu persatu menyebutkan koleksi boneka mereka, serta kartun princess kesukaan mereka. Sementara Uta hanya menyimak dengan penuh kebingungan. Uta yang berasal dari keluarga sederhana, memang sedari kecil tidak memiliki banyak mainan, ia juga tidak pernah banyak meminta ke orang tuanya, termasuk hal mainan.


Begitupun tentang tontonan, ia biasa menonton kartun dirumah, hanya yang disiarkan saluran TV umum tayangkan. Pada saat itu, di TV hanya ada tayangan Doraemon ataupun Shinchan. Bahkan kartun Spongebob Squarepants, Dora the Explorer saja ditayangkan di saluran berbayar kala itu. Kala Uta kecil, tentulah belum ada banyak flatform digital seperti sekarang. Mentok mentok VCD original atau bajakan jika hendak menonton di luar dari yang TV tayangkan.


Orang tua Uta yang sedang merintis kehidupan di ibukota, tentu tak punya uang untuk membayar biaya saluran TV berbayar. Untuk biaya tempat tinggal dan biaya hidup sehari hari saja, kedua orang tua Uta harus bekerja keras, terlebih Mamah Celine. Jadilah Uta tak tau kartun barbie yang anak anak lain bicarakan saat ini. Bentuk mainannya apa lagi, sama sekali tak ada clue di otaknya.


“Gimana kita main jadi Princess yuk teman teman.” Ucap Mery memecah lamunan Uta sesaat. Semua anak antusias pun mendekat, membentuk lingkaran saling menghadap, termasuk Uta.


“Mulai aku dulu ya, aku jadi Cinderella” Ucap Rara.


“Aku Princess Aurora.” Ucap Mery.


“Aku Rapunzel ya.” Ucap Agnes.


“Aku Barbie Elina.” Ucap Manda.

__ADS_1


“Aku Putri duyung Ariel.” Ucap Ira.


“Aku Princess Jasmine.” Ucap Meisya.


“Aku Princess Tiana.” Ucap Nelly


“Aku Princess Belle.” Ucap Nana.


“Aku jadi Putri Salju.” Ucap Kirana.


Semua mata tertuju pada Uta yang bingung dengan tokoh- tokoh yang satu persatu anak sebutkan. Ia hanya tau anak - anak perempuan disekitar rumahnya seringkali menyebut Barbie, tapi ia sama sekali tak tau nama karakter, apalagi wujud Barbie itu. Uta benar benar tak tau sama sekali harus menjawab apa.


“Kamu mau jadi apa?” Tanya Rara ke Uta, diikuti anak- anak lain yang juga menunggu jawaban Uta. Ditatap semua anak, membuat Uta benar benar bingung. Ia ingin ikut main, tapi tak tau menjawab apa.


“Aku… aku… aku jadi Barbie.” Jawab Uta seadanya, sebab memang hanya itu yang ia tau. Sedangkan ia tak tau sama sekali nama tokoh Barbie lebih spesifik.


“Barbie apa?" Tanya Rara yang diikuti anggukan anak anak yang lain. Uta melihat satu persatu dari mereka yang menunggu ia menjawab apa.


“Aku gak tau nama Barbie nya. Barbie apa aja gak apa- apa kok.” Jawab Uta mengaku pasrah.


“Iya benar, berarti kamu jadi yang lain aja ya.” Kata Rara pada Uta.


"Iya Barbie semuanya kurus." Timpal Agnes mempertebal ucapan Mery dan Rara.


"Kamu mainnya nanti aja ya. Nanti kalo kita main yang bukan princess princess-an baru kamu ikut, iya kan teman teman?" Ujar Mery lagi. Mendengar itu anak anak yang lain hanya diam mengiyakan.


Uta hanya bisa mengangguk, karena ia tak tau harus menjawab apa. Kalo memang ia tak bisa ikut main, ya mau bagaimana lagi. Ia akhirnya hanya memilih duduk di pinggir lapangan, sambil melihat teman- temannya bermain princess princess-an. Ia tak ingin memaksakan bermain bersama, sementara ia tak tau apa apa tentang dunia barbie dan princess.


“Hei ngapain disini sendirian? Mau ikut main petak umpet?" Tanya seorang anak laki- laki menghampiri Uta. Anak itu juga bersekolah di TK yang sama. Uta memperhatikan anak itu. Kulit yang putih dengan rambut bewarna hitam. memiliki wajah yang sangat tampan. Matanya tajam seperti elang, namun tampak ramah karena pipi chubby nya yang memancarkan sisi imut.


"Ayok gabung.” Ajak anak laki- laki itu sekali lagi karena Uta hanya diam. Uta pun mengiyakan lantas bergabung dengan teman teman laki- laki untuk bermain petak umpet bersama. Uta tampak beberapa kali tertawa lepas saat permainan berlangsung. Seusai bermain bersama, mereka saling berkenalan satu dan lainnya. Disitulah Uta tau siapa nama anak laki laki yang mengajaknya bermain petak umpet tadi. Edgar. Anak laki laki itu bernama Edgar. Sejak saat itu Uta bersahabat dengan Edgar.

__ADS_1


Ia lebih banyak bermain bersama Edgar dan teman laki- laki lainnya, ketimbang teman perempuan. Ia merasa lebih nyaman karena bisa jadi dirinya apa adanya, karena Edgar dan teman laki- laki yang lain tak membeda- bedakan secara fisik atau tampilan.


Beruntungnya lagi, rupanya rumah Edgar tak jauh dari rumah Uta. Sekitar 10 menit jika ditempuh dengan kendaraan. Sehingga tak jarang orang tua Edgar sering menjemput dan mengantar Uta ke sekolah, agar bareng dengan anaknya. Orang tua Uta dan Edgar juga jadi akrab dan jadi teman, karena anaknya bersekolah di tempat yang sama. Bahkan tak jarang mereka saling support.


Edgar sering kali main ke rumah Uta, terlebih main dengan Tama, adik Uta. Maklum lah Edgar merupakan anak satu satunya, sehingga tak punya saudara untuk diajak bermain bola atau yang lainnya.


Main ke rumah Uta selalu menyenangkan untuk Edgar. Bahkan Edgar memanggil Mamah Celine dengan sebutan 'Mamah' juga, sama seperti Uta dan Tama. Dirinya juga salah satu fans berat masakan Mamah Celine. Setiap kali Mamah Celine menghidangkan sesuatu, Edgar selalu lahap makan masakan tersebut. Sering kali ia bahkan nambah sangkin sukanya.


Semenjak saat itu Uta dan Edgar tak terpisahkan. Mereka selalu masuk sekolah yang sama. Saling membantu dalam hal apapun. Saling care satu sama lain. Sudah layaknya saudara sendiri. Dan persahabatan itu terjalin baik sampai saat ini.


Flashback ends


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2