![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Sekarang coba check rapor kamu." Ucap Alber, menyodorkan handphonenya ke Uta. Karena rapor hanya bisa di akses tiap siswa untuk dirinya masing -masing, menggunakan NIS dan password masing masing. Jadi Alber tak bisa sembarang mengakses.
"Enggak ah, takut aku tuh. Ditambah lagi udah lihat rapor punyamu. Ngeri ah." Uta menolaknya. Ia semakin ngeri, setelah melihat nilai Alber yang perfect. Gimana kalau seandainya, ia punya rangking semakin menurun dari semester lalu. Tentu akan malu sekali.
"Ngapain takut. Sekolah itu gak jaminan jadi sukses atau enggak, karena nilai itu gak selamanya jadi ukuran. Ada banyak faktor yang menentukan masa depan. Tapi yang paling penting itu, keinginan mau terus belajar, attitute yang baik dan bersyukur ke Tuhan dalam keadaan apapun. Itu yang penting. Kalo kamu punya minimal 3 hal itu, dijamin mental bakal strong menjalani kehidupan, sampai sukses itu datang." Ujar Alber menenangkan Uta.
Selama 6 bulan ia mengenal Uta, Alber bisa tau Uta sebenarnya sangat cerdas dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Tapi memang, ia butuh metode berbeda untuk pelajaran eksak. Tapi jika metodenya tepat, Uta sangat cepat menyerap pelajaran.
"Handphone." Ucap Uta akhirnya, meminta handphone Alber yang tadi ia tolak. Handphone Uta ketinggalan di ruang keluarga, karena ditarik buru-buru oleh Putri ke taman belakang. Uta malas pergi mengambil handphonenya karena rumah Alber terlalu luas, ruangan per ruangan. Diketikkannya user name, NIS serta passwordnya, di layar itu lalu menyerahkan ke Alber kembali.
"Tunggu, aku deg degan." Saat Alber hendak menekan tombol log in, Uta sempat mencegahnya.
"Ya udah, nanti aja kalo kamu deg-degan." Ucap Alber sedikit tak tega, melihat Uta benar benar gugup, terlihat di ekspresi wajah dan gesturnya.
"Jangan!!" Ucap Uta lagi.
"Terus gimana kalo kamunya deg-degan. Masa aku doang yang lihat." Ucap Alber bingung, dengan jawaban Uta yang berubah ubah.
"Ya udah kamu dulu yang lihat, entar kasi aku kode. Kalo rangking uncit, gak usah kasi lihat aku hasilnya." Ucap Uta akhirnya.
"Deal." Kata Alber setuju usulan tersebut. Uta kemudian menutup matanya. Ia takut melihat ekspresi Alber.
"Udah?" Tanya Uta kepo.
__ADS_1
"Masih loading." Ucap Alber, yang memang baru memencet tombol log in.
"Udah?" Tanya Uta lagi. Alber diam.
"Udah belum?" Tanya Uta penasaran karena Alber diam. Tapi tetap hening, tak ada jawaban.
"Alber udah lihat belum?" Uta semakin penasaran. Ia hampir saja membuka mata karena penasaran, kenapa Alber diam.
"Buka matamu Ta, kamu mesti lihat sendiri!" Perintah Alber pada Uta. Uta membuka matanya dan melihat layar handphone dengan takut-takut.
"Rangking 5. WHAT??" Ucap Uta tak percaya. Ia menatap Alber mencari penegasan, bahwa ia tak salah lihat. Alber mengangguk membenarkan yang ia lihat, sama dengan yang Uta lihat.
"AAAAAA !!!! OH MY GOD ... OH MY GOD ... OH MY GOD ... OH MY GOD." Uta yang senang, refleks memeluk Alber sambil melompat-lompat kecil. Alber yang tak menduga Uta memeluknya, sempat diam mematung sesaat. Namun setelah itu, ia melingkarkan tangannya balas memeluk Uta balik.
Uta yang ingin memastikan layar HP sekali lagi, melepaskan pelukannya dari Alber kemudian fokus menatap handphone. Namun tidak dengan Alber, tangannya masih melingkar tipis di pinggang Uta. Gadis itu memang melepas pelukannya dari Alber, namun ia keburu sibuk dengan layar handphone, tanpa menggeser jarak dari tubuh atletis Alber terlebih dahulu. Jadilah hitungannya Alber masih memeluknya, meski tidak seerat tadi.
"Kenapa mikir gak bisa?" Tanya Alber menatap wajah Uta lekat-lekat. Tangannya masih bertengger di pinggang Uta. Alber mati-matian menahan senyumnya. Ia tak ingin banyak tingkah, agar Uta tak sadar dirinya masih dalam rengkuhannya.
"Soalnya ... ALBERRR!! Kok kamu masih peluk aku. Lepasin tangan kamu!!!" Protes Uta menyadari Alber masih merengkuh pinggangnya, meski tak erat seperti tadi. Ia yang terfokus melihat hasil rapornya di layar HP, tak menyadari lengan kekar Alber masih tipis-tipis mengelilingi tubuhnya.
"Kamu tuh sadarnya kecepetan." Ucap Alber yang akhirnya, melepas total Uta dari pelukannya. Kejahilannya terendus oleh yang dijahili.
"Ishh ... Iseng banget jadi orang." Uta yang merasa dijahili, memukul lengan kekar Alber kemudian mundur beberapa langkah, supaya berjarak dari Alber. Ia sedikit merutuki dirinya, karena tak sadar memeluk Alber terlebih dahulu.
"Wkwkwkwwkwkwk. Selamat tembus 5 besar. Gak sia-sia aku mentorin kamu." Ujar Alber membelai lembut pucuk kepala Uta.
__ADS_1
"Alber thank you so much. Seenggaknya aku kebagian 1 persen jeniusnya kamu. He ... he ... he .." Ucap Uta dengan ekspresi, seolah-olah sedang melihat masa depan yang cerah.
"Kamu tuh pada dasarnya pinter Ta, cuman ..." Ucap Alber jujur apa adanya, dengan ekspresi wajah tulus terpancar, saat menyatakan hal itu. Uta yang melihat itu jujur merasa tersentuh, selama ini Uta merasa dia tidak bisa bersaing di Z1 layaknya saat di SMP pinggir kota dulu. Tapi, ternyata ia bisa menembus 5 besar di kelasnya.
"Cuman apa?" Tanyanya penasaran.
"Cuman kalo mentornya kamu itu aku. Ha .. ha .. ha." Ucap Alber, sembari mencuri kesempatan untuk menjahili Uta kembali. Dipeluknya gadis yang tak mau dia peluk, agar ia kesal. Kesal yang lucu. Uta yang tak menduga akan dipeluk Alber lagi, membeku sesaat.
"ALBER IIIHHH...!! Jangan peluk-peluk aku! Kamu tuh iseng banget sih!! Kamu peluk si Lele aja sana!!." Protes Uta saat kesadarannya sudah balik seutuhnya. Ia mendorong dada bidang Alber, sehingga pelukan itu terlepas.
"Wkwkwkwkwkkw. Si Lele gak enak dipeluk. Soalnya dia gak lucu kayak kamu." Alber ketawa ngakak, karena berhasil mengisengi Uta dengan memeluk gadis gemas itu.
"Berisik!!!" Ucap Uta dengan tatapan kesal. Tampaknya, ia sudah tertular sindrom Reta ke Seto.
"Wkwkwkwkkwk." Alber tertawa melihat itu, ia merasa sering kali Uta semakin lucu jika sedang kesal.
"Mau kemana hey?" Teriak Alber pada Uta yang berjalan menjauh ke arah rumah.
"WC." Jawab Uta tetap dengan langkah kedepan, sama sekali tak berbalik. Alber semakin tertawa ngakak. Ia melihat ke arah Putri yang asik dengan si Lele. Untung saja perhatian bocah kecil itu tersita oleh si Lele. Mana bisa dia peluk Uta, kalo ditengah-tengah ada bocil yang ngerecokin.
Bersambung .............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND