Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
159. Up And Down


__ADS_3

Alber POV


Aku baru pulang dari mengantar Uta ke rumahnya. Ternyata selama di Jakarta, ia tinggal sebuah rumah yang tante Celine beli untuk Tama berkuliah. Jaraknya kurang lebih 20 menit dari lokasi proyek cabang kedua usaha Uta.


Aku sempat khawatir karena ia tinggal sendiri di sana. Tama masih beberapa bulan lagi baru ke Jakarta. Tapi Uta mengatakan kompleks perumahan itu termasuk aman. Dan aku mengakuinya.


Tempat yang Uta tinggali, merupakan kompleks perumahan menengah ke bawah. Namun pihak developer nampaknya sudah lebih peka dengan keamanan. Terbukti dari adanya CCTV di berbagai sudut kompleks. Ditambah lagi, ada pos keamanan yang dijaga 2-3 satpam bergantian selama 24 jam. Membuatku akhirnya jauh lebih lega.


Uta memang tak mempersilahkan ku masuk ke rumah mungilnya, di sebabkan hari sebentar lagi gelap. Tapi itu tak mengurangi kebahagiaan ku, karena kami sudah kembali ngobrol seperti dulu. Ya, usai kesalah pahaman tadi selesai. Uta sedikit demi sedikit mencair, defense-nya tak sekuat tadi.


Kupastikan dia masuk kerumah dengan aman. Ekor mataku mengikuti langkahnya sampai pintu menutup. Sebersit senyum melengkung di wajahku. Dua hari ini rasanya up and down begitu cepat.


Falasback starts


Dua hari sebelumnya ....


Pagi itu aku tiba di sebuah area yang sedikit jauh dari pusat Jakarta. Semacam layer kedua untuk masalah keramaian. Tapi prospeknya cerah untuk 2-3 tahun kedepan.

__ADS_1


Kulihat sebuah bangunan tua yang memiliki halaman cukup luas. Luas total bangunan tua beserta halamannya sekitar 500 meter x 500 meter. Area yang rencananya akan aku eksekusi menjadi tempat usaha.


Sengaja kuparkirkan mobilku agak menepi dari lokasi proyek yang akan kugarap. Tak lama, dari dalam mobil aku melihat sosok yang sangat kurindukan 5 tahun ini. Gadis manis yang 5 tahun lalu menghilang tanpa kabar, kini berjalan tak jauh dari tempatku berada.


5 tahun tak bersua, Uta tampak berubah. Tubuhnya yang dulu sedikit berisi, kini tampak langsing bak gadis-gadis lainnya. Untungnya pipi chubby-nya tak serta-merta hilang. Pipi menggemaskan itu masih stay di tempatnya. Rambut hitam lurus miliknya juga tampak tak berubah, panjang sebahu tergerai indah.


Meski tidak kentara, tapi aku bisa menangkap kulit Uta sedikit lebih putih ketimbang 5 tahun yang lalu. Sehingga sapuan make up tipisnya tampak bersinar di kulit putih mulus itu. Uta benar-benar menjelma bagai wanita dewasa sekarang. Bahkan, dress simple setinggi lutut yang ia kenakan, terlihat begitu manis di tubuhnya.


Tanpa diperintah, mataku otomatis mengikuti kemana pun ia melangkah. Hatiku yang selama 5 tahun terasa hampa, kini kembali berdebar. Tapi aku juga tak bisa menutupi secercah rasa kecewa. Kecewa karena Uta pergi, tanpa ada sepatah kata pun terucap.


Aku keluar dari mobil dan berjalan kearah lokasi proyek berada. Kuketuk pintu perlahan. Terdengar suara yang dengan cepat menambah ketegangan di dalam hatiku. Tak lama pintu terbuka.


Kini aku berhadapan dengannya. Kutatap jelas wajah yang 5 tahun ini selalu kutunggu kabarnya. Cantik. Benar-benar cantik. Wangi parfum manis namun unik, persis menggambarkan dirinya menerpa penciumanku. Kurasakan debaran hati ini berkali-kali lipat berdetak. Rasa rindu begitu mendalam, kini terbayar tuntas saat melihatnya.


Namun bahagia itu terusik akan satu hal. Begitu jelas dimataku, Uta yang tampak terkejut saat tahu akulah orang yang datang. Senyum yang tadi merekah perlahan sirna. Setidak suka itukah dirinya bertemu lagi denganku? Apakah dia lebih suka jika Panji yang mengerjakan proyek ini?


Ah entahlah, ku rasakan mood ku begitu cepat berubah buruk. Rasa kecewa yang sedari tadi tersingkir oleh perasaan bahagia, kini berbalik menguasai hatiku.

__ADS_1


Tanpa kusadari, sikapku juga jadi terimbas. Aku yang sangat suka bercanda dengan Uta, mendadak jadi pendiam dan bicara sangat ketus padanya. Bahkan saat ia ingin mencairkan suasana dengan bertanya kabar Annem Babam, kutepis dengan menegurnya tak profesional.


Arrghhhhh .... Ada apa dengan diriku...??!!! *Alber


Penyesalan pertamaku timbul, ketika aku melihatnya sedikit kaget saat kata-kata itu terlontar dari bibirku. Dirinya pun berubah menjadi pendiam dan mengikuti kemauanku. Tak ada canda tawa yang terdengar, selain kata-kata formal seputar proyek.


Aku mencoba memberikan sedikit penjelasan mengenai keadaan bangunan padanya. Namun yang kusesalkan, rasa gugupku membuat mata ini menghindari pandangannya. Aku lebih banyak menatap layar ipad, ketimbang dirinya.


Uta yang salah mengira, jadi lebih banyak menunduk diam. Kecanggungan betul-betul menguasai sekarang. Diakhir pertemuan kami, ku katakan pada Uta untuk melanjutkan pertemuan esok hari di sebuah cafe Z. Kuberikan kartu namaku padanya untuk ia hubungi esok hari.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2