![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta berjalan pasti meninggalkan kantin Z1. Ada perasaan sedikit tak enak hati pada Alber. Rasanya seperti egois, meninggalkan laki-laki itu makan sendiri, sementara ia sendiri balik ke kelas. Tapi ini hal yang tepat, karena Uta yakin tak akan bisa menelan makanan dikantin, jika semua orang disana menatap setiap jengkal dirinya, hanya karena makan bareng seorang Alber. Ditambah lagi, mengingat bekal Ibu Ratu sudah menantinya.
Perlahan ia memasuki jalan menuju ke kelas yang rupanya sudah tak seramai tadi. Koridor-koridor sudah tampak lengang, mungkin semua siswa-siswi sudah duduk di kantin, menikmati santap siang. Uta lega karena tak perlu lagi deg-degan diperhatikan banyak mata, seperti tadi akan ke kantin. Kini ia bisa berjalan dengan santai menuju kelasnya berada.
Gadis itu memasuki kelas yang memang kosong. Tak ada satupun siswa yang berada di kelas 2 IPA-2. Ia melangkah menuju mejanya dan duduk manis di sana. Dikeluarkannya bekal dari dalam tasnya. Tak lupa mengeluarkan alat bantu makan seperti sendok, garpu. Usai perkara tata menata, Uta kemudian membaca doa makan.
"Amin" Suara yang membuat Uta yang sedang berdoa kaget.
"Alber!!??" Gadis itu bingung karena Alber tiba tiba sudah kembali ke kelas. Bukankah seharusnya ia masih antri di kantin?
"Loh kenapa? Udah selesai makannya?" Tanya Uta langsung. Jujur, ia bingung Alber sudah kembali kekelas secepat itu.
"Antriannya panjang banget Ta, takut waktunya gak keburu." Jawabnya sambil memamerkan plastik besar makanan yang ia beli. Dikeluarkannya sekaligus isi dari plastik besar tersebut, di atas meja. Apa apa yang berada didalamnya, seketika berebut hambur keluar dari dalam plastik.
Tampaklah beberapa jenis sandwich dengan aneka macam isian. Terdapat juga beberapa snack, seperti keripik kentang maupu singkong yang tampak menggiurkan. Bahkan ada sebuah box dessert ukuran sedang, berisi potongan bolu gulung dengan isian dan topping berbeda, tertata-tata cantik di dalamnya. Dan yang terakhir Alber juga membeli beberapa minuman kemasan botol. Ada jus jeruk, kopi, teh dan air mineral biasa.
"Gimana? Oke gak?" Tanya Alber dengan senyum cengar cengir dan sedikit memainkan alisnya naik turun ke arah Uta. Uta yang takjub tak menjawab, melainkan ia langsung bertepuk tangan karena terperangah dengan belanjaan Alber di atas meja.
"Ha ... ha ... ha. Sengaja gue beli banyak, biar lo nyobain juga Ta." Alber tertawa melihat aksi Uta.
"Lo bawa bekal apaan Ta?" Tanya Alber, kepo dengan isi tersembunyi dari kotak bekal Uta yang belum terbuka.
"Ehm ... bekal sederhana, lauknya juga sederhana." Jawab Uta polos, sambil membuka tutup dari kotak bekalnya.
"Wahh ... Ini sih fix kalah telak gue." Ucap Alber takjub dengan menu bekal Uta yang menurutnya, lebih menggiurkan. Dalam kotak bekal itu terdapat nasi yang disertai macam-macam menu. Mulai dari terong balado, ikan suwir pedas, oseng buncis jagung, bakwan jagung dan sambal bawang. Menurutnya sandwich dan kawan-kawan yang ia beli, otomatis kalah dengan bekal spektakuler si gadis dasi.
"Ya enggak dong!! Makanan lo segitu lengkapnya. Makanan gue simple begini." Ujar Uta membantah kata-kata Alber. Menurutnya lauk yang mamah Celine bawakan sebagai bekal, adalah menu rumahan sederhana dari bahan yang juga sederhana dan mudah didapat di pasar.
Keduanya mulai menyantap makan siang mereka masing-masing. Uta mulai menyendokkan beberapa lauk dengan nasi ke dalam mulutnya. Diambilnya salah satu bakwan jagung lalu mencocolnya dengan sambal bawang, kemudian menyantapnya. Sementara Alber meraih sebuah sandwich ukuran tanggung dan langsung hilang dengan sekali suap. Sandwich itu terasa enak, namun kelezatannya belum mampu mengalihkan pandangan Alber dari bekal yang Uta makan, dan nampaknya Uta menyadari hal itu.
"Ehm ... Ber lo mau cicip bekal gue?" Tanya Uta sedikit ragu-ragu, apa iya Alber ingin mencicipi menu sederhananya itu. Tapi melihat pandangan Alber yang terus melihat kearah bekalnya, membuatnya memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Boleh??" Di luar dugaan, Alber malah terlihat antusias.
"Ya boleh." Jawab Uta sembari menggeser kotak bekalnya, ke arah Alber untuk dicicipi pria itu dengan lebih nyaman.
"Oh iya gue gak ada sendok lagi. Ini Ber garpu gue belum kepa ... ke." Ucap Uta menyerahkan garpu yang masih bersih kepada Alber, namun terlambat. Alber sudah lebih dulu menyantap bekal Uta, dengan sendok yang tadi gadis itu pakai. Satu suapan besar sudah masuk ke dalam mulut melewati rahang kokohnya.
"Sumpah enak banget Ta." Ucap Alber dengan ekspresi wajah yang benar-benar menunjukkan kalau makanan yang ia coba memang enak.
"Kenapa?" Tanya Alber, menyadari ekspresi Uta saat menatapnya, seolah ada sesuatu yang tak tepat.
"Kenapa lo pakai sendok bekas gue pakai?? Mestinya lo pakai garpu yang masih bersih ini Ber." Ucap Uta masih memegang erat garpu yang ia ambilkan untuk Alber pakai.
"Kenapa? Emang gue nggak boleh pakai sendok lo ya?" Tanya Alber mengapa Uta keberatan.
"Boleh, tapi ... " Ucapan Uta menggantung sesaat.
"Tapi kenapa?" Tanya Alber penasaran.
"Tapi, apa lo nggak merasa jijik pakai bekas gue??" Ucap gadis itu akhirnya memilih jujur saja.
"Ta jangan marah ya, gue mau makan 3 suap lagi. Boleh ya Ta?" Tanya Alber lengkap dengan muka pengennya.
"He ... he... he. Boleh, 5 suap juga boleh." Gadis itu tertawa geli melihat ekspresi Alber benar-benar suka dengan bekalnya.
"Yes. Ta lo cobain sandwich nya deh." Ucap Alber senang. Uta mengambil salah satu sandwich berukuran mini, yang terlihat paling menggiurkan milik Alber.
"Enak." Ujar Uta mengungkapkan rasa sandwich yang ia makan. Sandwich dengan roti butter panggang yang berisi smoke beef, telur mata sapi, selada, mayonaise, saos sambal lengkap dengan 2 lembar cheese.
"Masih kalah itu dengan bekal lo. Terutama yang ini nih." Alber menunjuk salah satu menu bekal Uta, yaitu terong balado. Sepertinya itu yang paling dia suka di antara yang lainnya.
"Masa seenak itu? Memangnya masakan Turki, gak ada olahan menu terong?" Tanya Uta penasaran.
"Ada, karniyarik namanya. Hidangan khas Turki. Terbuat dari terong yang diisi dengan daging giling, terus ada saos dengan banyak rempah." Jelas Alber ala kadarnya. Maklum pengetahuannya tentang bumbu bumbu dan masakan sangat terbatas. Ia hanya bisa membedakan enak dan tidak enak.
__ADS_1
"Sepertinya lezat, apa lagi pakai daging giling dan bumbu." Ucap Uta setelah menyelesaikan gigitan terakhir sandwich yang ia makan.
"Tergantung selera sih. Keduanya punya rasa yang berbeda. Buat gue terong balado rasanya lebih masuk." Alber bicara sambil memperhatikan Uta, yang sedang menyendok bekalnya dengan terong balado plus sambal. Sepertinya gadis itu ngiler saat menceritakan masakan khas Turki karniyarik.
"Ehm ... Ta boleh nggak ya?" Tanya Alber masih tetap fokus melihat Uta makan.
"Boleh apa?" Tanya Uta yang juga tetap asik makan. Dari ekspresinya, gadis Itu tampak agak kepedasan karena sambal yang ia makan.
"Boleh gak gue catering bekal ke nyokap lo?" Tanya Alber to the point.
"Uhuk ... uhuk." Uta terbatuk mendengar pertanyaan Alber.
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND