Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
60. Rejeki Anak Sholehah


__ADS_3

Author POV


"Bundaaaa???" Teriak Putri melihat siapa yang datang menyapa. Bunda Latifah rupanya baru saja pulang dari luar kota. Putri bangkit dari sofa dan berlari memeluk Bundanya erat erat.


"Kak Latifah?" Gumam Uta pelan melihat Bunda Putri datang. Ia juga tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu begitu erat. Berpelukan, saling melepas rindu.


"Sayangnya Bunda. Senang gak Bundanya pulang cepet?" Tanya Bunda Putri mencium pipi anak semata wayangnya yang chubby menggemaskan.


"Seeeenneeenngggggg banget. Putli so happy-happy." Jawab bocah kecil itu memeluk leher Bundanya. Ia benar benar super senang, terlihat dari senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


"Hai Ta, hai Ber. Uta makasih ya, Uta udah mau jagain Putri. Kak Tifa jadi tenang kerjanya." Sapa Bunda Latifah menyapa dua orang dewasa di sana sambil tetap menggendong putri kecilnya.


"Sama sama Kak, Uta juga senang bisa ketemu anak segemas ini tiap weekend." Jawab Uta jujur, ia salim ke Kak Tifa sebagai yang dituakan, sekaligus juga mencoel pipi gemas Putri yang di maksud.


"Tante Tifa kapan pulang? Annem bilang katanya sore baru flight pulang." Ujar Alber yang berdiri kemudian salim ke Tantenya itu.


"Kemarin rencananya gitu Ber, tapi ternyata pertemuannya di majuin, jadi pulangnya bisa lebih cepat." Jawab beliau menceritakan hal yang terjadi.


"By the way, Tante beberapa hari lalu baru tau, ternyata kalian berdua satu kelas. Jadi lucu sendiri deh, yang satu panggil Kak, yang satunya lagi panggil Tante. Tau gitu Kak Tifah gak request ke Uta buat dipanggil 'Kak' waktu itu. Tapi gak papa ya Ta, lagian udah terlanjur juga. Terusin aja. Lagian umur Kak Tifah gak beda jauh dari kamu dan Alber. Oke" Ujar Bunda Putri itu.


"Oke Kak. Lagian masih cocok banget kok dipanggil Kakak. Muka masih mendukung banget." Jawab Uta menanggapi.


"Tante pasti capek, Tante mau langsung istirahat?" Ucap Alber menyadari Bunda dari Putri itu tampak lelah.

__ADS_1


"Iya capek banget Ber, mau langsung istirahat aja sama Putri. Mau kan sayang bobo siang temenin Bunda?" Tanya beliau pada anak yang sedang ia gendong.


"Mau Bunda, okay." Putri yang juga kangen dengan Bundanya tentu saja langsung setuju.


"Senengnya Bunda ditemenin anaknya bobo siang." Bunda Tifah tentu saja langsung mencium pipi gemoy anaknya yang setiap weekend mesti ia tinggal keluar kota.


"He .. he .. he .." Tawa Putri merasa kegelian dicium Bundanya.


"Oh iya, Uta kalau mau pulang lebih cepat, boleh loh. Putri Kak Tifah ambil alih, sekalian mau kangen-kangenan dulu." Ucap beliau sopan, mempersilahkan jika Uta ingin pulang lebih cepat dan berkumpul dengan keluarganya di weekend ini.


"Ya udah kalau begitu, Uta sekalian pamit dulu ya Kak." Langsung saja Uta pamit karena mendapat lampu hijau dari Kak Latifah untuk pulang lebih dulu.


"Tuta mau pulang?" Tanya Putri karena Uta mengatakan pamit. Sama seperti kemarin, bocah kecil itu sedih mendengar Tutanya mau pulang.


"Ehm .. okey. Tuta bye bye. Tuta pulangnya be caleful. Okey Tuta." Akhirnya keluar perkataan setelah diamnya Putri beberapa saat. Setelah acara berpamitan, ibu dan anak itu terlebih dahulu masuk ke dalam kamar untuk tidur siang, karena Bunda Putri sudah sangat-sangat lelah. Uta sangat bisa memaklumi hal tersebut. Alber yang tadi menonton film bersama sama juga pergi ke lantai dua.


Uta hendak pergi menemui Annem untuk pamit pulang, tapi ternyata beliau sedang ada meeting melalui Zuum. Jadilah Uta pergi menemui Bi Darmi, kepala staf dapur rumah Alber. Ia berinisiatif meminta tolong pada bi Darmi untuk menyampaikan izin pamitnya pada Annem. Bi Darmi dengan senang hati akan menyampaikan pesan Uta ke beliau nanti. Seusai berpamitan, Uta yang hendak berjalan keluar rumah di cegat oleh seseorang.


"Eits mau kemana?" Ucap Alber menuruni tangga dengan cepat dan mendekat ke arah Uta.


"Mau pulang dong. Aku pamit pulang dulu yah, okey my friend." Pamit Uta dengan riang gembira karena pulang lebih cepat.


"Oke, yok aku anterin ke rumah." Alber mengeluarkan sebuah kunci mobil dari dalam kantong celana.

__ADS_1


"Stop!!" Uta langsung menyetop Alber dengan mengacungkan telapak tangannya pertanda 'stop'.


"Thank you Ber, tapi aku gak mau dianter." Lanjutnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Alber spontan karena dilarang Uta. Gadis itu menggelengkan kepala pertanda tidak.


"Aku mau naik MRT aja. Kangen naik MRT, lagian masih jam setengah dua juga." Ucapnya yakin tak mau diantar oleh Alber.


"Uta mau pulang? Kalo iya, pas banget kalau gitu, bareng kak Syiba aja kalo gitu. Sekalian Kak Syiba mau ke rumah teman kampus." Syiba yang sedang menuruni tangga langsung menawarkan tumpangan kepada Uta, karena dirinya juga akan pergi ke rumah seorang teman.


Kakak kandung Alber yang berparas super cantik turun dengan celana jeans dan kaos over size, lengkap dengan tote bag monokrom. Simple tapi cuuaaaanntikkkkk banget pokoknya. Uta mau heran berapa kali pun, tetap aja kecantikan Kak Syiba gak bisa dijelaskan. Untung saja dia perempuan, kalo seandainya ia laki laki, pasti sudah meleleh tadi.


"Bener Kak?" Tanya nya sungguh sungguh. Kak Syiba tentu mengiyakan pertanyaan Uta. Ia juga langsung memberi sinyal untuk langsung berangkat sekarang.


"Alhamdulillah rejeki anak sholeh. Eh maksud aku, rejeki anak sholehah. He .. he.. he .. Bye bye Alber." Uta tertawa senang dan pamit secepat kilat pada Alber. Sama sekali tak memberi kesempatan Alber untuk berargumen balik.


Alber akhirnya memutuskan untuk naik kembali ke kamarnya. Saat melihat buku matematika di atas meja belajar membuatnya otomatis tertawa, karena mengingat kembali kelakuan Uta saat belajar tadi. Entah perasaan apa yang mengusiknya, ia juga tak tahu. Karena bingung, Alber akhirnya memilih berenang untuk menetralkan pikirannya.


Bersambung ............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2