Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
104. Semakin Keren


__ADS_3

Author POV


"Oh itu ... Aku ... Aku ..." Ayleen gugup, tampak sedangberpikir.


"Oh itu ... Aku sempet kehilangan handphone aku Ber. Gak sengaja jatuh entah dimana, terus hilang. Mungkin pas pikiran aku tuh masih gak bisa fokus, jadi gak sadar handphone aku hilang. Kamu tau kan Ber, semua kontak dan pesan apapun itu, ya udah pasti hilang total. Alber aku minta maaf yah. Duh aku jadi gak enak ke kamu, kalo gini." Ucap Ayleen berusaha menjelaskan pada Alber, kenapa ia tak bisa merespon chat Alber.


"Udah lupain aja, lagian kalau dipikir-pikir itu juga gak terlalu penting." Ucap Alber tak ingin memperpanjang obrolan itu.


"Sekali lagi sorry ya Ber. Aku janji deh, mulai hari ini aku gak bakal nyuekin pesan dari kamu." Kata Ayleen dengan memberikan senyum semanis mungkin.


10 menit kemudian, mereka sudah sampe di sebuah rumah 2 lantai dengan halaman yang tak terlalu luas. Rumah tersebut memang terlihat masih dalam proses pengerjaan. Tampak beberapa orang pekerja, sedang menyelesaikan tugasnya masing-masing. Ayleen dan Alber turun dari tunggangan mewah tersebut. Ayleen yang terlebih dahulu menghampiri, salah seorang pekerja konstruksi yang mengerjakan huniannya. Ia memberi info, akan mengecek progres rumah ini.


Alber mulai mengamati bagian luar rumah terlebih dahulu, baru kemudian ke bagian dalam rumah dengan di dampingi salah seorang pekerja disana. Beberapa kali Alber memberi arahan, saat pekerja ada permasalahan atau ada kendala. Ketangkasan serta kejelian Alber dalam menangani problem yang ada, tak luput dari pantauan seseorang.


Diam-diam Ayleen selalu memperhatikan gerak-gerik Alber. Ayleen pertama kalinya melihat Alber seperti ini. Ia tahu perusahaan keluarga Alber salah satunya bergerak di bidang konstruksi. Tapi Ayleen berpikir itu dikerjakan oleh ayah Alber. Ia tak tahu, ternyata Alber berkemampuan dalam bidang yang sama. Entah kenapa saat ini Ayleen memandang Alber dengan sisi yang berbeda. Alber terlihat lebih mempesona bagi ayleen.


Selesai mengecek rumah yang masih proses, Alber dan Ayleen kini duduk bersampingan kembali di mobil. Ayleen meminta ditemani mencari beberapa keperluan, untuk beberapa hari selama dia di hotel. Mau tidak mau Alber menemaninya, sebab ia tak sampai hati membiarkan Ayleen bingung mencari barang keperluannya sendiri, mengingat gadis itu baru saja menginjak kota ini.

__ADS_1


Tak seperti di Bali, Ayleen disini ia tak disertakan asisten satupun oleh sang Daddy. Sedikit aneh, tapi mungkin tujuannya untuk Ayleen lebih mandiri. Dan Alber bisa memaklumi hal tersebut, andai ia di posisi Ayleen, pastilah dengan adanya teman akan sangat membantu. Itulah sebabnya ia menuruti permintaan gadis itu.


Ayleen meminta Alber untuk mengantarnya sebentar ke butik dengan brand tertentu, sebab ia tak membawa banyak pakaian ke Jakarta. Barang-barangnya baru akan dikirim dari Bali, beberapa hari lagi. Tapi yang tak Alber tak duga, kata sebentar itu menjelma menjadi 3 jam. Alber sampai bosan menunggu Ayleen dengan pakaian-pakaian itu.


Saat Ayleen sudah selesai, Alber langsung membayar item yang Ayleen pilih. Ayleen sempat menolak, tapi Alber lebih dulu menyerahkan kartu miliknya. Alber berpikiran ini sebagai ucapan selamat datang, pada Ayleen di Jakarta. Toh ia dan Ayleen sudah lama bersahabat.


Selesai belanja baju, Ayleen minta Alber menemaninya untuk singgah di departement store, untuk mencari cemilan yang akan menjadi teman nonton Flixnet, selama ia di hotel. Total 1 jam lebih mereka disana karena antrian lumayan panjang. Maklum, hari ini hari Minggu, otomatis banyak keluarga beramai-ramai belanja keperluan rumah dalam jumlah banyak, untuk seminggu kedepan.


Ayleen sempat ingin meng-cancel saja saat melihat antrian tersebut, tapi Alber melarangnya, karena waktu 30 menit tadi akan jadi sia sia. Selain itu, jika Ayleen tetap ingin mencari snack di store lain akan sama saja, kemungkinan antri panjang tetap ada. Lanjutkan saja pikir Alber.


Di perjalanan Alber yang memilih sibuk menyetir, memang tak banyak bicara dengan Ayleen. Berbanding terbalik dengan Ayleen, yang nampak lebih antusias. Ia memperhatikan Alber yang jelas-jelas melihat jalan di depannya. Sesekali Ayleen mengalihkan pandangan ke sekeliling jalanan ibukota, saat Alber melihat kaca spion di sisi Ayleen.


"Wah .. Ini bagus banget Ber. Selera Uncle sama Aunty emang gak pernah meleset. Bener-bener diatas ekspektasi aku." Tutur Ayleen, takjub melihat interior apartemen itu. Ia terbiasa melihat hal-hal mewah dalam hidupnya, namun ini bukan sekedar mewah, tapi juga sesuai dengan seleranya. Itulah mengapa ia merasa ini melebihi ekspektasinya. Ia berjalan perlahan berkeliling ruang demi ruang di apartemen ini, sementara Alber berjalan di belakang Ayleen.


"Oh ya, katanya Abla sempet tinggal di apart, waktu baru-baru kesini." Tanya Ayleen pada Alber. Mengingat obrolan dengan Syiba, saat bertemu di Bali kala itu.


"Unit Abla di lantai atas, waktu itu dia malas tinggal di rumah, karena cuman sendiri. Sesekali Abla masih suka ambil barang-barangnya di unit atas." Jawab Alber terus terang.

__ADS_1


"Jangan bilang gedung apartemen ini punya keluarga kamu?" Tanya Ayleen dengan mata membulat. Ayleen bahkan sampai berbalik melihat Alber, yang posisinya di belakang dirinya.


"Perusahaan Babam memang kebetulan yang menangani proyek konstruksi gedung ini, dan Babam punya beberapa unit disini, tapi setau aku kepemilikan gedung bukan Babam." Jawab Alber menjelaskan kebenarannya pada Ayleen. Ia merasa harus meluruskan, agar tak terjadi kesalahpahaman.


"Kok kamu gak pernah cerita-cerita sih Ber?" Tanya Ayleen, tak menyangka sama sekali.


"Tentang apa? Tentang ini? Buat apa? Semua itu usaha Babam dan Annem, aku pikir mereka yang paling berhak buat cerita ke orang-orang, itupun kalo mereka mau." Jawab Alber yang merasa itu bukan haknya.


"Alber kenapa ya, aku ngeliat kamu sekarang semakin keren." Ujar Ayleen tiba tiba.


Bersambung .............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2