Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
158. Clear


__ADS_3

Uta Alber ep 158: Clear


Author POV


"Ba... barusan kamu bilang apa?" Tanya Alber sedikit terbata.


"Aku gak mau diantar suami orang, apa lagi sampe kerumah." Ucap Uta mengulangi ucapannya


"Suami orang siapa yang kamu maksud?" Tanya Alber yang agak panik maksud gadis itu.


"Kamu. Bukannya kamu sudah menikah? Bahkan nanti malam kamu mau mengantar istrimu ke dokter kandungan. Jangan kecewakan istrimu Ber." Ucap Uta berusaha menyadarkan Alber kembali ke jalan yang lurus.


Bukannya menjawab, Alber malah mengambil handphone yang berada dalam saku jas. Ia kemudian menelpon seseorang dengan cara me-loudspeaker panggilan tersebut. Uta yang bingung melihat tingkah Alber, memilih diam saja.


"Halo Alber. Abla udah telepon dokter Meisya. Jam 7 malam kamu anterin Abla periksa kehamilan." Ucap seorang wanita begitu panggilan telepon tersambung.


Ka ... Kak Syiba? *Uta


Sepersekian detik Uta langsung mengenali suara wanita yang Alber telepon. Suara wanita super cantik bak boneka yang 5 tahun lalu, tak sengaja ketemu di kedai legend karena Uta menemukan dompetnya yang tertinggal.


"Ya, gak masalah. Abla, tapi Alber mau tanya. Apa sekarang Abla sudah punya adik ipar?" Ucap Alber sambil menatap mata Uta.


"Adik ipar siapa? Ngaco kamu tuh." Jawab Syiba tak mengerti, apa maksud adiknya.


"Jawab yang jelas Abla. Apa sekarang Abla punya adik ipar dari aku?" Tanya Alber sekali lagi. Ia belum cukup puas jawaban dari sang kakak barusan.

__ADS_1


"Ya gak ada dong. Abla juga maunya begitu. Tapi gimana, kamunya jomblo terus. Gimana mau ngasih Abla adik ipar??!!" Jawab Syiba, memberikan pernyataan yang lebih jelas.


"See..!! Aku gak menikah dengan siapapun. Kamu seratus persen salah paham di cafe tadi." Kali ini Alber berucap pada Uta.


"Ma .. Maaf." Ucap Uta pada Alber. Ia benar-benar salah sangka. Bahkan merah padam tak bisa terhindarkan dari kedua pipinya sekarang.


"Uta? Alber itu suara Uta kan?" Syiba yang mengenali suara Uta lantas bertanya pada adiknya.


"Abla mau ngomong?" Tanya Alber spontan.


"Iya, kasihin handphonenya ke Uta." Pinta Syiba segera. Alber kemudian menyerahkan handphonenya ke arah Uta. Meski dilanda bingung harus bicara apa, Uta memilih sopan mengangkat telepon Syiba saja terlebih dahulu.


"Halo Kak Syiba, ini Uta." Ucap Uta terlebih dahulu menyapa.


"Ya Allah, Uta...!!! Uta kemana aja sayang? Kak Syiba kaget denger Uta pindah dari Jakarta, tapi gak tau kemana. Kenapa Uta gak bilang? Kak Syiba telponin tapi nomor Uta selalu gak aktif. Kak Syiba kangen banget sama kamu tau gak! Annem, Babam, Putri, tante Tifah juga sering nanyain kalau-kalau Uta ada kabar. Uta kemana aja sayang?" Repet Syiba panjang lebar. Membuat siapapun yang mendengar omelan itu pasti tahu, Syiba sekhawatir itu.


"Kak Syiba maaf. Maafin Uta pergi gak bilang sama semuanya. Keadaannya saat itu bikin Uta gak bisa cerita ke siapa-siapa. Maaf ya Kak." Ucap Uta merasa bersalah pergi tanpa pamit, sampai membuat kakak dari Alber itu jadi khawatir.


"Ya, Kak Syiba pasti maafin. Tapi jujur, Kak Syiba sedih Uta gak bisa hadir, waktu Kak Syiba sama Bang Tibar nikah. Padahal Kak Syiba ngerasa, Uta udah kayak adek ceweknya Kak Syiba. Udah kayak adek sendiri. Rasanya ada yang kurang waktu itu." Ucap Syiba mengungkapkan rasa sedihnya Uta tak ada disaat bahagianya bersama Tibar.


"Maaf, maaf banget Uta gak tau kakak nikah. Baru taunya kemarin dari Reta. Selamat ya Kak. Kak Syiba pasti cantik banget kayak princess di negeri-negeri dongeng." Ucap Uta menyeka air matanya. Ia kemudian tersenyum membayangkan, betapa cantiknya Syiba saat memakai gaun pengantin.


"Bukan lagi. Tapi ya Ta, kamu mesti tau nikahan kemarin Annem heboh. Hebbbboooohhh seheboh-sehebohnya. Pusing Kak Syiba." Ucap Syiba dengan nada super hiperbola, membuat Uta yang tadi menangis kini berganti tertawa. Sampai-sampai Alber terheran-heran dibuatnya.


"Wkwkwkwkk ... Uta ngebayanginnya aja udah ketawa. Apalagi lihat langsung ya kak. Pasti lebih seru." Ucap Uta cekikikan, meski jauh di lubuk hati, ia sedikit menyayangkan tak ada di momen berharga itu.

__ADS_1


"Bukan lagi. Pokoknya Uta mesti kerumah ya. Entar Kak Syiba ceritain selengkap-lengkapnya kehebohan Annem. Kita begosip ria. Ingat ya Ta. Harus, gak pake enggak. Kalo enggak, Kak Syiba marah. Oke sista." Ucap Syiba dengan nada sedikit mengancam.


"Wah .. ada ya, begosip pake di jadwalin segala." Jawab Uta sambil tersenyum. Seperti biasa, Kak Syiba selalu tak bisa ditebak, pikirnya.


"Ya ada dong. Hari gini apa yang gak ada. Ya udah, pokoknya Kak Syiba tunggu Uta main kesini. Kak Syiba kangen banget sama Uta. Oke." Ucap Syiba tak mau ditawar lagi.


"I .. iya Kak. Nanti kapan waktu Uta mampir kesana." Ucap Uta sedikit kikuk saat mengiyakan.


"Ya udah kalo gitu. Jangan lupa kasih tau sama si jomblo, jam 7 wajib nganter Kak Syiba ke dokter obgyn." Ucap Syiba sengaja menggoda adik semata wayangnya agar sebal. Uta menahan senyumnya saat melihat wajah Alber yang terpancing kesal.


"Ishhhh..!!!" Gerutu Alber.


"He .. he .. he .. Ya udah ya Ta, entar kita sambung lagi. Assalamualaikum." Syiba terkekeh mendengar protes Alber. Ia kemudian berinisiatif mengakhiri telepon ini.


"Waalaikumsalam." Jawab Uta yang sekaligus menandakan sambungan telepon terputus. Ia kemuliaan mengembalikan handphone kepada sang pemilik.


"Lets go kita pulang!" Merasa kesalah pahaman sudah clear, Alber kembali melaksanakan tujuan awalnya.


"Ta .. tapi ..." Uta hanya bisa pasrah. Alber kembali menggenggam tangannya dan menariknya berjalan meninggalkan restoran.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2