Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
79. Marah


__ADS_3

Author POV


Jam menunjukkan tepat 5.15 sore. Rupanya Uta ketiduran saat menemani Putri tidur siang. Uta terbangun saat Syiba masuk ke kamar Putri dan membangunkan Uta, untuk memberi tahu jam sudah pukul 5 sore. Uta kemudian bangun dan bergegas ke kamar mandi putri untuk mncuci muka. Setelah itu ia pun berpamitan pada Syiba yang memilih merebahkan diri disamping Putri, karena baru saja pulang dari luar. Setelah merasa Putri sudah aman, Uta keluar kamar itu pelan pelan.


Sejauh mata memandang tak nampak keberadaan teman sebangkunya, Uta berpikir mungkin saja Alber berada di kamarnya di lantai dua. Jujur, Uta merasa lega karena Alber tak nampak di area lantai satu. Entah kenapa hari ini Uta merasa tak nyaman, saat di dekat Alber.


Dirinya kemudian berjalan mengambil tas nya di loker area belangkang, sekalian pamit ke staff rumah Alber. Setelah tas sudah menggantung di badannya, Uta kemudian berjalan ke arah pintu belakang, sebab sepatunya berada di sana.


Dirinya hari ini memang masuk ke istana ini lewat area belakang rumah, dikarenanakan membantu Bi Ida. Jadilah pulangnya ia juga tak melewati pintu depan, melainkan melewati pintu belakang. Berjalan memutarlah Uta menuju arah gerbang utama.


"Hey mau kemana?" Tanya Alber yang bersandar di area samping rumah, dengan menyilangkan tangan di depan dada. Alber rupanya menunggu Uta di halaman rumah samping, sebab tau Uta tadi pagi datang lewat area belakang.


Alber berpikir, besar kemungkinan Uta pulang lewat area belakang juga. Ia tampil dengan wajah segar, seperti baru habis mandi. Dirinya juga sudah rapi dengan pakaian casual, yang membuat ketampanannya meningkat sepuluh kali lipat. Langkah Uta lantas tersetop, karena memang tak ada jalan lain menuju gerbang utama, terlebih Alber berjalan mendekatinya.


"Aku mau pulang. Aku udah titipin Putri ke Kak Syiba, dia masih nyenyak tidur. Aku pamit pulang ya Ber." Ucap Uta memilih berpamitan pada Alber, sebelum melanjutkan langkahnya menuju gerbang utama. Ia merasa ini hal yang tepat, sebab dirinya juga belum berpamitan ke Alber.


"Ya hati hati pulangnya." Jawab Alber dengan santai, tapi menyisipkan sebuah senyum misterius. Uta yang tak ingin ambil pusing, memilih melanjutkan langkahnya menuju gerbang.


"Kamu ngapain ikutin aku? Aku mau pulang." Tanya Uta, yang menyadari Alber berjalan mengikuti dirinya.


"Iya kan tadi aku bilang, hati hati pulangnya." Jawab Alber yang terdengar ambigu bagi Uta. Aneh memang, Alber mempersilahkan dirinya pulang, namun sesaat kemudian mempraktekkan hal yang berbeda dari yang barusan ia ucapkan.


"Iya terus ngapain masih ngikutin kalo gitu?" Tanyanya lagi memastikan, karena memang Alber melakukan hal yang sebaliknya.

__ADS_1


"Kan tadi aku bilang hati hati pulangnya. Nah terus, gimana aku taunya, kamu pulangnya hati hati atau enggak? Ya aku mesti pastiin dengan mata aku sendiri lah, kalau kamu sampe rumah dengan selamat." Jawab Alber, sebagaimana biasanya. Dirinya selalu saja memiliki seribu satu alasan, agar Uta tak bisa mengelak ketika dirinya ingin mengantar gadis itu pulang ke rumah.


"Tapi aku pengen pulang sendiri. Lagian aku gak mungkin membahayakan diri aku sendiri. Pokoknya aku mau pulang sendiri." Jawab Uta bersikeras, dirinya tak ingin diantar pulang oleh Alber.


"Iya kamu pulang sendiri. Aku gak antarin, cuman mastiin, kamu selamat sampe di rumah." Jawab Alber kembali memainkan kata-kata.


"ALBER!!" Protes Uta dengan wajah agak kesal yang sangat lucu dimata Alber.


"Hemh ..?" Alber menanggapi protes Uta singkat. Sesaat mata gadis itu melihat mobil Lamborghini hitam yang terparkir tepat di depan gerbang utama, membuatnya paham niat usil Alber saat ini.


"Alber kamu tuh lama-lama nyebelin yah. Kesel aku sama kamu kalau begini." Ujar Uta meluapkan kekesalannya. Membaca niat usil Alber, membuat raut wajah kesal tak bisa lagi ia sembunyikan.


"Loh kok jadi marah?" Jawab Alber sedikit panik, menyadari sepertinya Uta beneran kesal kali ini.


Alber yang ditatap tajam seperti itu oleh Uta, menjadikannya semakin panik. Ia menyadari, kali ini Uta benar-benar marah atas keusilannya. Gadis itu bahkan langsung berjalan meninggalkannya, sebelum ia bisa memberikan penjelasan.


"Hey .. Ta please dengerin aku bentar. Maksud aku gak gitu ..." Alber terpaksa meraih lengan Uta dengan paksa, karena gadis itu tak mau berhenti barang sebentar untuk mendengar penjelasannya. Langkah Uta otomatis terhenti, sebab tubuhnya tertahan oleh jeratan tangan kokoh Alber yang menggenggam lengannya.


"Ta maksud aku gak gi..." Alber mencoba menjelaskan sekali lagi, namun perkataannya terpotong.


"Uta, kemari nak." Panggil seseorang yang keluar dari mobil mewah, yang baru saja memasuki area istana ini.


"Babam? Annem." Ucap Uta melihat kedua orang tua Alber. Ya, Babam dan Annem seharian ini tak di rumah, karena memang pergi ke luar kota dan baru pulang sore ini. Uta dapat merasakan lengannya perlahan terlepas dari tangan kokoh Alber.

__ADS_1


"Uta mau pulang?" Tanya Babam lembut namun tetap dengan ketegasannya.


"I .. Iya Babam." Sangking gugupnya, Uta sampai menjawab pertanyaan itu dengan sedikit terbata.


"Kalau gitu biar supir Annem yang antar Uta ke rumah, dan Uta jangan menolak." Ucap Babam yang tak bisa Uta bantah.


"Iya biar supir Annem yang antar Uta ya. Udah sore, Annem khawatir kalo pulang sendiri. Oke sayang." Ucap Annem membujuk lembut Uta.


"Uta pamit pulang dulu ya Babam, Annem." Ucapnya kemudian pamit, mencium tangan orang tua dari Alber.


"Iya hati hati ya sayang." Annem menjawab perkataan Uta, sementara Babam hanya mengangguk penuh wibawa. Annem bahkan berjalan mendekat ke arah Uta. Beliau merangkul Uta kearah mobil mewah yang sudah siap mengantar Uta pulang. Beliau sabar berdiri, sampai mobil yang mengangkut Uta berlalu meninggalkan gerbang utama.


"Ada kalanya menghargai keputusan, seratus kali lebih baik, ketimbang melakukan seribu kebaikan." Ucap Babam menepuk pundak Alber. Putranya itu tak menjawab, hanya diam menatap mobil yang mengantar Uta berlalu.


Aku gak ada maksud mengecilkan pendapat kamu, aku cuman cemas kamu pulang sendiri. Terlebih kalau kejadian buruk Minggu lalu terulang lagi.*Alber.


Bersambung ............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2