Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
32. Kenyataan


__ADS_3

Uta POV


Lanjutan Flashback


Hari ini aku rencananya akan pulang bersama Edgar, sebab sebelumnya kak Felix mengabari, bahwa ia ada urusan dan tak bisa mengantar ku pulang seperti biasanya. Jujur aku tak merasa sedih sama sekali, karena sudah lama juga aku tak pulang bareng dengan Edgar. Ada perasaan senang karena aku dan Edgar bisa pulang bareng seperti dulu, sebelum diriku berpacaran dengan Felix. Anggap saja nostalgia zaman dulu.


Saat jam pulang tiba, Edgar meminta bantuanku untuk memindahkan atribut basket yang baru saja datang, dari ruang sekretariat OSIS menuju loker basket yang bertempat di gedung serbaguna. Tentu saja aku dengan sangat senang hati membantunya. Toh Edgar mengatakan tak banyak yang harus dipindahkan, hanya saja akan lebih cepat, apabila dikerjakan oleh dua orang. Lagian ruang sekretariat OSIS dan ruang aula serbaguna itu, sejalan menuju parkiran Z1, jadi hitungannya kita tak akan bolak-balik.


Berjalanlah kami menuju ruang sekretariat OSIS. Mendekati ruang OSIS, handphone Edgar berdering, Edgar lalu memberikan kode bahwa ia harus mengangkat telepon sebentar, karena panggilan tersebut penting. Melihat kode itu aku mengangguk mengerti. Edgar kemudian sedikit menjauh untuk menjawab telepon tersebut. Kuputuskan untuk masuk duluan ke ruang OSIS. Ruang OSIS tampak sepi karena memang hari ini hari terakhir sekolah, besoknya sudah weekend dan Z1 libur.


Aku berjalan menuju ruang sekertariat OSIS yang berada diarea paling ujung. Terdengar suara dari ruang rapat, yang berada tepat disebelah ruang sekretariat OSIS. Awalnya aku acuh saja, sampai aku mendengar nama ku disebut oleh suara yang sangat familiar bagiku. Langkahku otomatis berhenti, tepat di depan ruangan tersebut.


"Menang banyak lo!! Total uang anak-anak 80 juta cash ke lo semua, plus PS 5 terbaru. Untung gede lo!!!" Ucap Kak Ken, sahabat Kak Felix yang juga merupakan anggota OSIS Z1.


"Jadi kapan lo mau putusin si Uta? Nggak malu apa lo sama tuh cewek gendut kemana-mana?"


DEG ...!


Aku yakin itu suara seorang wanita, suara yang mirip dengan suara Kak Devina, satu-satunya perempuan dalam grup Kak Felix.


Mendengar perkataan Kak Devina barusan, perasaanku yang beberapa waktu ini sangatlah bahagia, mendadak berubah. Rasanya aku terlempar ke dasar jurang yang paling dalam. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan??


"Nggak sekarang, kasih gue waktu dulu." Ucap seorang pria.


DEG ...!

__ADS_1


Kak Felix?? Ya itu suara kak Felix.*Uta


Hatiku rasanya teriris mendengar perkataan Kak Felix. Air mataku terjatuh tanpa bisa ku cegah. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, untuk mencegah suara tangisanku timbul dan terdengar oleh mereka.


"Mending lo putusin sekarang, sebelum tuh anak tahu, dia cuman bahan taruhan lo doang. Mumpung dia belum tahu, aman hidup lo. Cewek kalau udah sakit hati, sampai kapanpun bakal di ingat, ribet lah pokoknya." Suara yang terdengar persis seperti Kak Tommy, sahabat Kak Felix yang lainnya.


"Enggak saat ini. Gue ... gue masih cari alasan yang bagus, biar dia nggak curiga." Ucap Kak Felix terbata-bata menanggapi pertanyaan Kak Tommy.


DEG ...!


Ternyata Kak Felix hanya menjadikanku bahan taruhan. Sedari awal, rupanya dia mendekatiku untuk memuluskan jalannya memenangkan taruhan. Pantas saja laki-laki setampan dan sepopuler dia, mau memiliki pacar yang bahkan jauh dari kata cantik dan menarik sepertiku.


Ketulusan dan sifat baiknya yang aku pikir semua itu sungguh-sungguh, rupanya tidak lebih dari sebuah trik untuk memuluskan misinya memenangkan taruhan.


BODOH .....!* Uta


Air mataku rasanya berlomba-lomba keluar dari tempatnya berada. Begitu deras dan tak dapat lagi ku hentikan. Rasa sakit di hati ini bagaikan dihantam batu besar. Laki-laki yang ku anggap tulus dan baik, tega memperlakukan ku tak lebih dari sebuah barang. Bodoh sekali kamu Uta!! Kamu tidak lebih dari sekedar bahan taruhan Kak Felix dan teman-temannya.


"Felix .. Felix .. Ada seribu alasan yang bisa lo pilih buat mutusin cewek gendut itu, gak usah dibuat ribet deh. Atau jangan jangan, lo udah mulai jatuh cinta sama tuh cewek?!!" Ucap Kak Devina, dengan sedikit terselip nada selidik tak suka.


"Jangan ngaco, dari dulu tipe gue tuh kayak lo Dev. Dia benar-benar cuma bahan taruhan aja untuk buktiin cinta gue ke lo." Ucap Kak Felix yang tak terima dengan tuduhan Kak Devina barusan.


DEG ...!


Tak cukup kak Felix mempermainkanku sebagai barang taruhan. Rupanya dia juga menjadikan ku jalan pintas untuk mendapatkan Kak Devina, wanita yang sebenarnya ia inginkan. Kenapa? Kenapa Kak Felix tega melakukan hal itu padaku? Apa salahku padanya? Sampai-sampai ia begitu jahat mempermainkan perasaanku?

__ADS_1


Tubuhku rasanya lemas. Rasa sakit yang luar biasa menusuk hatiku, tak mampu lagi untuk ku redam. Rasanya hati ini di lemparkan dari atas gedung tinggi dan tiba di dasar dengan keadaan hancur berkeping keping.


"BANGS*T LO!!!" Teriak Edgar yang entah kapan datang sembari membuka pintu ruangan tersebut. Tiba-tiba Edgar sudah masuk menerjang dan memukul Felix membabi buta.


BUGHH ... BUGHH ... BUGHH ...


Aku yang menyaksikan perkelahian tersebut, sontak berteriak agar Edgar berhenti. Namun rasanya percuma, Edgar malah memukul Felix semakin membabi buta. Bahkan Kak Ken, Kak Tommy dan Kek revan yang berusaha melerai mereka berdua, tak sanggup menahan amarah dari Edgar.


"Edgar stop!! Edgar sudah Gar!! Edgar!! Edgar Please stop!! PLEASEEE!!" Dengan tangan yang gemetaran dan air mata yang bercucuran, aku berusaha menarik lengan Edgar agar berhenti memukuli Kak Felix.


"U ... Uta ..." Ucap Kak Felix, saat mata kami bertemu pandang.


"DIAM LO BANGS*T!!" Satu pukulan dari Edgar kembali mendarat di rahang tegas Kak Felix. Dengan satu sentakan Edgar mendorong Kak Felix sehingga laki-laki itu tersungkur di lantai.


"Lo masih mau belain cowok brengs*k ini Ta??? JAWAB GUE TA!!" Edgar yang emosi mendengar perkataanku, mencengkram kedua bahuku dan mengguncangkan nya. Air mataku hambur semakin deras. Aku yang tak mampu menjawab pertanyaan Edgar dengan kata-kata, akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya. Hal itu lantas membuat emosi Edgar sedikit mereda.


"Edgar ayo kita pergi. Please!!" Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Aku mengajak Edgar untuk pergi meninggalkan tempat ini. Edgar yang menyadari kondisiku yang begitu terpuruk, langsung mengiyakan untuk membawaku pergi dari sini.


"Ta ... Ta tunggu, gue bisa jelasin semuanya Ta." Sebuah tangan yang sangat kukenal menahan pergelangan tanganku, memaksa langkahku terhenti.


Bersambung ............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2