Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
111. Berjuang Sekali Lagi


__ADS_3

Lanjutan Flashback


Alber POV


Malam sudah memasuki pertengahan, namun mataku tak kunjung terlelap. Tak kusangka pikiranku jadi sekusut itu, hanya karena sebuah pelukan. Tak bisa kubayangkan seandainya Felix mencium ... Aarrrgggghhh!!! Mungkin aku sudah menggila habis-habisan.


Aku benar benar dilema saat ini. Kelegaan karena tau perasaanku yang sesungguhnya pada gadis dasi, menimbulkan kegamangan baru. Apakah yang harus kulakukan? Haruskah aku tetap memperjuangkan perasaanku? Atau memilih mundur jika kenyataannya mereka kembali bersama?


Yang aku tau, Uta tak memiliki perasaan apapun terhadapku. Selama ini, ia jelas hanya menganggapku sebagai teman. Ketampanan dan fisik atletisku, seolah tak mampu menyita perhatiannya. Kecerdasan maupun pribadiku pun, tak juga bisa menawan hatinya. Harta? Itu bahkan tak masuk dalam listnya.


Beberapa kali aku menanyakan kemungkinan untuk kita bersama di masa depan, ia selalu menjawab dengan pasti, bahwa itu tidak mungkin. Malah lebih parahnya lagi, ia menganggapku sakit dan menyarankan pergi berobat.


Uta benar-benar membangun benteng super kokoh, untuk melindungi hatinya. Tangis yang keluar saat menceritakan kenangannya bersama Felix, bisa mengindikasikan dua hal. Pertama, ia merasakan kembali rasa sakit kala itu. Atau yang kedua, ia masih terlalu mencintai pria itu. Hanya hal tersebut, alasan yang paling logis untuk mengartikan air mata Uta ketika itu.


Apakah itu pertanda aku harus mundur? Menyudahi perasaan ini, bahkan sebelum sempat untuk merekah. Tapi sumpah demi apapun, aku benar-benar tak rela.


Aku memilih untuk berpikiran positif. Mungkin saja pertemuan tadi sebagai pertemuan silaturahmi, sebelum Felix resmi meninggalkan Z1. Toh Uta mengatakan dirinya bertekad move on dari laki-laki itu. Kuputuskan untuk berjuang sekali lagi. Memperjuangkan perasaanku untuk gadis dasi.


Kantuk yang tak kunjung datang, membuatku tiba-tiba terlintas mengecek hasil rekaman kameramen dadakan tadi. Kuambil kamera yang tergeletak di nakas samping tempat tidur. Kuambil memori card kamera itu, lalu kumasukkan ke sebuah tab yang tersedia di laci nakas. Kuputar file yang berasal dari kamera.

__ADS_1


Sebenarnya aku sedikit malu, karena rasanya aku seperti manusia kepedean, meminta Uta merekamkan aksiku. Tapi perasaan malu itu berubah menjadi senyum, saat mendengar Uta mengatakan sesuatu.


"Aaaaaaaa Alber keren banget." Terdengar ia ikut bersorak dengan penonton yang lain.


"Kalau gini sih, mulai besok aku mau les piano supaya jadi pianis kayak Alber, biar wisuda angkatan kita tinggal beli jas bagus. Siap-siap teriak kalian, wahai Seto Mania." Terdengar Seto mengatakan rencananya yang ingin berada di posisiku tahun depan.


"HUEKKKK ... Mau muntah gue!! Yang kayak gini nih, yang jadi aib Z1. Malu Set kalo ada yang denger. Yang ada, lo di boikot pas wisuda sama anak-anak." Kali ini Reta yang menanggapi ucapan Seto, lengkap dengan akting mual dan ingin muntah. Hal itu aku tahu, sebab fokus kamera berpindah ke arah Reta, Seto dan Sandi. Nampaknya Uta tak sengaja mengarahkan kamera, karena perhatiannya tersita oleh pertikaian mereka.


"Wkwkwkk ... Seto .. Seto. Lo tuh ada-ada aja. Lagian cewek-cewek pada heboh, karena Albernya emang udah ganteng dari sononya, alias ganteng to the max." Ujar Uta menjawab Seto. Aku sama sekali tak menyangka, Uta memujiku seperti itu. Senyum lebar tak bisa kutahan, melengkung maksimal di wajahku saat ini.


"Tapi Aa Seto juga ganteng kan Neng? Sebelas dua belas lah, sama Alber." Tanya Seto lagi, iseng menggoda ke arah Uta dan Reta. Benar-benar si Seto ...


"Sebelas dua ratus kali." Jawab Sandi yang juga heran dengan mahkluk disampingnya.


Bagaimana tidak, egrang adalah sebuah permainan tradisional, yang menggunakan sepasang bambu tinggi untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat tinggi, yang memiliki tumpuan kaki dan terbuat dari kayu. Egrang umumnya dimainkan oleh anak zaman dulu, karena permainan itu dulu begitu populer. Egrang juga, bisa digunakan untuk suatu atraksi atau pertunjukan. Bisa-bisanya Seto disuruh main egrang, oleh Reta.


Video berlanjut dengan fokus kembali ke diriku. Uta tampak menikmati hiburan yang ada, sebab kamera bergerak dengan ritme sama persis dengan gerak penonton. Sesekali ia tanpa sadar memujiku, saat satu persatu lagu selesai kumainkan.


Tapi terlepas dari pada itu, rasa bersalah kembali datang direlung hatiku. Rasanya, aku sudah fix kekanak-kanakan mendiamkan Uta seperti tadi. Bagaimana besok aku menghadapinya? Bagaimana jika ia marah padaku? Semoga saja, ia tak marah padaku.

__ADS_1


_____________ Z _____________


Masih lanjutan Flashback


Alber POV


Besok harinya, meskipun aku tidur terlalu larut, namun aku tetap terbangun pukul 05:00 pagi. Selesai menyelesaikan sholat subuh, kuputuskan untuk tidur kembali. Akibat baru bisa tidur jam 3 malam, mataku masih belum bisa melek sepenuhnya. Tanpa sadar aku terbangun pukul 08:30. Benar benar definisi bangun kesiangan, untuk diriku yang terbiasa bangun pagi.


Bukannya langsung mandi, aku memilih mencari tau dimana keberadaan Uta dan Putri , serta apa yang mereka lakukan. Saat ingin mengintip dari lantai 2, tiba-tiba Abla keluar dari kamarnya, sehingga membuatku salah tingkah.


"Tumben banget bangun siang Ber? Hayo kamu mau ngapain?" Tanyanya dengan tatapan curiga, membuatku mendadak gugup.


"Nge-gym." Ujarku langsung ngacir ke ruang gym yang ada di rumah. Abla memang bukan Kakak biasa. Sedari dulu, Abla sangat tau kalau aku menyembunyikan sesuatu. Entah spesifikasi insting apa yang dia punya, tapi aku tak bisa berbohong padanya.


Aku memutuskan olahraga saja, sebab aku sudah terlanjur masuk ke ruang gym. Di sisi lain aku juga belum siap untuk bertemu dengan Uta. Khawatir canggung seperti kemarin. Bagaimana jika Uta balik mencueki aku? Rasanya benar-benar tak siap. Olahraga sepertinya tepat, untuk mempersiapkan mentalku menghadapinya.


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2