Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
165. Memilih Menepati Janji


__ADS_3

Uta POV


Waktu sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari, tapi aku masih belum bisa tertidur. Pikiranku kembali pada beberapa jam yang lalu.


Tak lama setelah menyatakan perasaannya padaku, Alber mendapat telepon dari Baris, asistennya. Baris mengatakan, Alber harus menghadiri sebuah pertemuan penting dan tidak bisa diwakilkan. Alber pun memutuskan untuk pamit pulang.


Aku yang masih syok dengan apa yang baru saja terjadi, akhirnya meminta waktu 1 minggu untuk berpikir terlebih dahulu. Dan Alber tak keberatan dengan hal itu.


Aku kemudian mengantar Alber kedepan rumah. Seperti biasa, laki-laki itu menyuruhku terlebih dulu masuk dan mengunci pintu rumah, baru kemudian ia melajukan mobilnya menjauh.


Laki-laki baik itu terlalu sempurna. Kenapa bisa laki-laki sesempurna itu jatuh cinta padaku? Kenapa? Sulit kupercaya.


Kutarik nafas dalam. Rasanya udara malam ini mendadak lebih berat. Aku seperti merasakan deja vu sekarang.


Dulu Felix juga seperti itu. Laki-laki yang hampir tak punya celah itu, tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku, sampai rasanya aku terbang ke angkasa. Namun kenyataannya semua itu palsu belaka. Kepalsuan yang membuatku jatuh terhempas luka. Trauma. Aku trauma.


Pengalaman mengajariku satu hal. Jangan berekspektasi ketinggian, apalagi untuk sebuah kata cinta.


Bagaimana mungkin, aku yang bukan princess berani mengharap seorang pangeran. Alber terlalu sempurna untuk aku yang seadanya.


..._____________ Z _____________...


Author POV

__ADS_1


Sudah hari ketiga Uta merasa rumah ini berbeda. Alber yang seminggu lalu hari-hari berkantor di rumahnya, kini tak lagi menyabotase meja makannya.


Keadaan rumah yang biasanya penuh gelak tawa dua orang saling usil, kini begitu sunyi. Bahkan kicau burung sangat jelas terdengar hari ini.


Uta mengaduk teh yang ia buat dengan tatapan tak menentu. Galau. Bingung dengan perasaannya.


Derrtttt ... Derrtttt.....


[Uta, sibuk gak hari ini?] *Syiba [Kak Syiba lagi gak ngapa-ngapain hari ini. Bang Tibar lagi keluar kota. Gabut you know.] *Syiba [Kapan main kerumah. Ayok begosip kita dirumah Annem. Mumpung Alber juga lagi keluar kota.] *Syiba [Ayok sister. Kita reuni.] *Syiba


Sebuah chat yang membuat kesadarannya kembali utuh. Teringat kembali janji akan main kerumah sesuai permintaan Syiba.


"Kak Syiba, kenapa reuni mesti di rumah Annem sih?" Ucapnya pada diri sendiri. Uta kembali pusing melihat lokasi temu di chat Syiba.


"Duh gimana ini??" Tambah pusinglah dirinya. Teh yang sedari tadi ia inginkan, sudah tak lagi ia pedulikan.


"Datang? Enggak? Datang? Enggak? Datang? Enggak? Datang?"


"Arrgggghhhhh ....!!"


..._____________ Z _____________...


Uta baru tiba di rumah Annem pukul 02:00 siang. Ia memilih menepati janjinya pada Syiba. Gadis itu memutuskan untuk pergi dulu mengambil mobil ke apartemen Reta, baru kemudian ia pergi belanja beberapa buah tangan untuk dibawa ke rumah Annem. Untung saja hari ini langit seolah mendung sejuk, namun tak hujan.

__ADS_1


Saat melewati gerbang istana Alber, Uta menyapa pak Bayu. Rupanya beliau masih senantiasa bekerja disini. Awalnya pak Bayu sempat tak mengenalinya, namun setelah beberapa saat beliau sadar, gadis langsing itu Uta.


Uta deg-degan hendak memasuki pintu istana Alber. Meski tangannya membawa penuh buah tangan yang lumayan berat, namun jadi tak terasa sangking gugupnya.


"Assalamualaikum." Ucap Uta saat memasuki istana Alber.


"Waalaikumsalam. Neng Uta??" Bi Ida yang membukakan pintu sontak terkejut melihat Uta.


"Bi Ida? Aaaaaaa kangen banget." Uta yang tak menyangka Bi Ida masih bekerja disana, lantas meletakkan bawaannya lalu memeluk Bi Ida.


"Ya ampun, neng Uta cantik banget. Bi Ida sampe pangling." Puji Bi Ida yang kagum dengan perubahan Uta. Yang dipuji malah menggelengkan kepala.


"Uta biasa aja Bi. Bi Ida apa kabar?" Tanya Uta balik.


"Baik neng. Sini Bibi bantu bawain. Non Syiba sudah nunggu di taman neng." Bi Ida dengan sigap membantu Uta membawa bawaannya. Bi Ida menuntun Uta berjalan menuju ke teras taman belakang. Dari jauh Uta melihat Annem dan Syiba sedang sibuk melakukan sesuatu.


"Assalamualaikum." Ucap Uta kembali memberi salam meski ia sangat gugup sekarang.


"UTA...??" Ucap Annem.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2