Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
150. Akhir Perjalanan


__ADS_3

Author POV


Uta kembali kerumah dengan wajah tak seceria pergi. Tapi dengan lihainya ia sembunyikan bekas-bekas air mata yang tadi luruh membasahi pipi. Dipasangnya wajah ceria sebelum masuk.


"Assalamualaikum." Salam Uta berdiri di depan pintu, namun tak terdengar jawaban akan salamnya.


Saat ia membuka pintu rumah, telah berjejer beberapa koper dekat pintu. Sejenak ia terdiam memandang koper-koper itu. Rasanya seperti mimpi saat mereka harus meninggalkan rumah ini.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah anak Mamah udah pulang. Udah tuntas pamitannya? Uta gak ngebocorin kan?" Jawab Mamah Celine yang rupanya dari dapur.


"Aman Mah." Jawab Uta meski dalam hati ia kembali sedih, niatnya tak jadi ia lakukan.


"Ya udah kalo gitu, Uta siap-siap dulu sana. Mandi, sholat baru entar makan. Setengah jam lagi, pak Akbar suami Bu Nani datang buat anter kita ke pelabuhan. Buruan gih nak, biar kita gak telat." Ucap beliau membelai rambut Uta yang tergerai indah.


"Iya Mah." Jawab Uta lantas naik kelantai atas.


Gadis itu menjalankan apa yang sang Mamah perintahkan. Adiknya, Tama pun melakukan hal yang sama. Untuk terakhir kalinya, mereka bertiga makan di meja makan yang puluhan tahun setia menemani mereka.


Selesai makan, sembari menunggu dijemput pak Akbar, Tama berinisiatif merekam semua sudut rumah dari ujung-ujung menggunakan handycam miliknya. Adik Uta itu memang yang lebih sentimental dengan kepindahan ini. Ia mungkin yang paling drop saat diberi tahu akan pindah hari ini. Tama merasa sedih kehilangan teman-temannya. Terlebih Tama sudah punya banyak teman sefrekuensi disini.


Hingga akhirnya pak Akbar tiba. Tampak Bu Nani juga ikut didalam mobil. Tak lama, Mela, Ana dan Hesti datang dengan menaiki dua sepeda motor, membuat Mamah Celine terharu dengan keempat karyawan setianya. Mamah Celine mengatakan pada mereka, kalau mereka boleh mengambil peralatan dapur yang ditinggal kalau mereka mau.

__ADS_1


Mereka juga boleh mengambil bahan catering yang sudah dibeli namun belum sempat diolah. Tadi Mamah Celine sengaja sudah merapikannya dalam beberapa kerdus, sehingga siap untuk langsung diangkut. Mamah Celine menunjukkan beberapa kardus berisi item yang ia ucapkan pada empat wanita pekerja keras itu.


Setelah berpamitan dan menitipkan pesan untuk tak memberi tahu siapa-siapa, mereka langsung berangkat. Hanya Pak Akbar dan Bu Nani istrinya yang ikut mengantar. Perjalanan ditempuh kurang lebih 45 menit. Sepanjang perjalanan mereka berbincang santai dengan topik yang ceria-ceria saja, meski kesedihan tampak menyelimuti air muka Bu Nani. Bagaimanapun, beliau sudah bekerja bertahun-tahun dengan Mamah Celine.


Hingga mereka berpisah saat keluarga Uta memasuki kapal. Hanya air mata yang membuktikan dalamnya luka perpisahan. Kapal perlahan mulai berlayar, meninggalkan pelabuhan. Pak Akbar dan Bu Nani semakin lama kian tak terlihat. Jakarta yang begitu luas perlahan kian mengecil, menandakan akhir perjalanan mereka di kota ini.


_____________ Z _____________


Lima tahun kemudian .......


Author POV


"Kirim kamano?" [Kirim kemana?] Tanya sang bos yang sedang fokus melihat laporan keuangan.


"Duo-duonyo Banduang Uni." [Dua-duanya Bandung kak.] Jawab Kia kembali.


"Awak lah etoang, stok kito cukuik?" [Kamu sudah hitung, stok kita cukup?] Sang bos berhenti menatap lembaran kertas. Ditatapnya Kia kemudian.


"Cukuik Uni." [Cukup kak.] Jawab Kia pasti.


"Langsuang packing kok baitu." [Langsung packing kalau begitu.] Jawab bos pada Kia.

__ADS_1


"Yo Uni Uta." [Ya kak Uta.] Jawab Kia. Merasa mendapat lampu hijau untuk mengirim produk dalam jumlah besar oleh Uta, Kia pun pamit untuk langsung mulai mengepack pesanan yang akan dikirimkan ke Bandung.


Ya, bos dari Kia adalah Uta. Saat ini Uta sibuk mengembangkan usaha yang ia rintis sejak lima tahun yang lalu. Tak pernah terbersit dalam benaknya ia akan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Namun nyatanya hari ini, hampir 50 orang menggantungkan hidup pada usaha miliknya.


Sejak lima tahun lalu, Uta mulai merintis usaha cookies miliknya. Palm cheese cookies dan lidah kucing cookies lebih tepatnya. Berawal dari ia, Mamah dan Tama, hingga kini ia dibantu hampir 50 orang pegawai. Mulai dari hanya 1-2 toples yang laku terjual, hingga kini ribuan toples cookies terjual setiap harinya.


Ia tak menyangka, cookies yang selama ini ia anggap hanya sekedar cookies biasa buatan rumah, sekarang menjelma menjadi cookies kesukaan banyak orang. Ada saja pesanan yang datang dari Sabang sampai Merauke, seluruh Indonesia. Bahkan penikmat cookies miliknya tersebar hingga keluar negeri. Tidak jarang mereka sampai kehabisan stok, karena orderan yang tak kunjung berhenti. Luar biasa.


Setelah apa yang terjadi pada dia dan keluarganya, hingga memaksa mereka harus angkat kaki untuk menyelamatkan diri. Meninggalkan segala yang mereka telah rintis di Jakarta dan memulai kembali dari nol di tempat yang baru. Kini Tuhan bahkan memberi lebih. Jauh lebih dan lebih, dari yang telah mereka relakan. Allah Maha Baik.


Bersambung .............


_____________ Z _____________


NB: Bahasa minang yang ada diatas, tentu saja Author dapat dari mbah gugel. Jadi maaf, jikalau kurang dari sempurna atau terdapat kesalahan. Author kebetulan bukanlah orang minang. Tapi Author suka budaya minang. Author percaya, untuk cinta budaya dan bahasa yang berbeda, tentu tidak ada batasan. Budaya dan bahasa minang keren. Onde mande rancak bana lah pokoknya.


Kalau ada koreksi dari teman-teman, boleh banget. Author dengan senang hati menerimanya.



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2