Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
109. Melihat


__ADS_3

Lanjutan Flashback


Alber POV


"Pianis pengiring musik wisuda tadi pingsan di depan, terus sama staf kantor dibawa ke RS. Karena kejadiannya dadakan, Ibu bingung cari penggantinya. Makanya Ibu minta tolong kamu yang gantiin hari ini, jadi pianis dadakan." Terucaplah tujuan yang beliau inginkan.


"Darimana Ibu tau ...?" Spontan aku bertanya meski terpotong ditengah.


"Darimana Ibu bisa tau kamu jago main piano? Sekitar 4 tahun yang lalu, Ibu pernah lihat kamu di salah satu kompetisi piano di Bali. Namamu Ibu gak ingat, tapi wajahmu Ibu ingat. Makanya, Ibu terpikir minta tolong kamu pas urgent gini. Gimana Ber bisa gak?" Rupa-rupanya beliau pernah menghadiri perlombaan yang pernah ku ikuti, saat SMP di Bali.


"Sikat bro, selamatkan kelangsungan acara ini. Kasian noh, ibu-ibu udah pake konde berat-berat." Kata seto menunjuk beberapa wali murid yang sudah datang.


"Di maklumi aja Bu, emang murid ibu satu ini, gak ada saringannya." Kata Sandi menengahi. Bu Melati geleng-geleng, sankin heran dengan Seto.


"Gimana Ber?" Tanya beliau lagi. Wajah beliau tersirat benar-benar berharap, kendala yang ada cepat terselesaikan.


"Ya udah Bu, saya coba." Jawabku akhirnya.


"Syukurlah, kalau gitu kamu ikut ke lantai 2, buat briefing acara." Ucap beliau memberikan instruksi.

__ADS_1


"Set, tolong jagain 3 kursi ini buat, gue, Uta sama Reta. Gue mau nyusul Bu Melati." Ucapku yang dijawab 'Aman' oleh Seto. Kutinggalkan mereka menuju lantai 2, untuk briefing dan persiapan.


Bu Melati tanya ukuran jas ku, untuk di jemput cepat di penyewaan jas. Namun aku ingat, setelan pagi tadi yang kupakai meeting masih didalam si hitam. Ku bilang pada beliau, aku memakai setelan sendiri saja karena kebetulan bawa dan ada di mobil. Beliau terlihat lega, karena satu masalah kembali terselesaikan.


Aku sedang menunggu MC mempersilahkan semua undangan, untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Disitulah aba-aba pertanda untukku memasuki panggung, sebab grand piano terletak di pinggir panggung bagian depan. Terpisah dengan pemusik lainnya yang duduk berjejer rapi, di area belakang panggung.


Aku sudah duduk di bangku piano. Pertama yang kulihat adalah, tempat dimana aku tadi duduk. Kupastikan Uta sudah duduk disana. Meski jauh, tapi aku masih bisa menangkap ekspresinya, yang bingung bercampur khawatir. Tak apalah, setidaknya ia melihat kearahku.


Ku alihkan pandangan ke arah partitur musik, tepat di hadapanku. Dan memulai ketukan tuts pertamaku. Semua undangan menyanyikan lagu dengan kompak. Usai lagu berakhir, tepuk tangan riuh mengiringiku turun dari panggung, termasuk Uta yang bertepuk tangan sambil tersenyum. Membuatku merasa telah mengambil keputusan tepat, menjadi pianis dadakan.


Aku kembali bergabung dengan Uta dan kawan-kawan, setelah memastikan aku tampil lagi masih agak lama. Kedatanganku yang tiba-tiba membuat gadis dasi kaget, ekspresinya lucu sekali. Karena penasaran, akhirnya kutanya padanya bagaimana penampilanku tadi.


"Keren banget." Dua kata yang membuat perasaanku senang. Baru kemudian Reta, Seto dan Sandi bergantian memberikan pujian. Terbersit untuk mengusili Uta sekali lagi. Aku berbisik di telinganya kemudian menanyakan pertanyaan yang sama, yang di jawabnya dengan anggukan teramat imut menurutku.


Bukan aku bermaksud kepedean, hanya saja aku ingin tau bagaimana reaksinya saat aku tampil. Setidaknya itu akan terekam di kamera nanti, meski mungkin hanya suaranya yang terekam. Aku balik menuju ke belakang panggung, setelah memastikan ia bisa mengoperasikan kamera.


Aku mengiringi musik, bagi siswa-siswi calon wisudawan menjalani prosesi wisuda. Satu persatu mereka naik keatas panggung secara bergantian, untuk diresmikan kepala sekolah, sebagai wisudawan Z1.


Sesekali aku mencuri pandang ke arah Uta. Kulihat ia menjalankan tugasnya merekamku, sambil sesekali tersenyum membuatku otomatis semangat. Tapi ekspresi wajah itu berubah ketika Felix, mantan pacarnya naik keatas panggung bersama Devina, puteri Z1 di angkatan Felix.

__ADS_1


Senyum ceria itu mendadak hilang, terlebih saat ia dan Felix bertemu tatap. Ia bahkan berhenti merekamku karena itu. Entah kenapa hatiku terasa sesak, untungnya jari-jariku masih bisa diajak berkompromi, sehingga penampilanku tak terganggu.


Masuklah acara selanjutnya. Ini adalah part terakhirku sebagai pianis dadakan. Tersisa 3 lagu terakhir sebelum tugasku usai. Kulihat kembali ke arah gadis dasi, yang ternyata tak ada dibangkunya. Tapi Reta masih duduk disana, bahkan mini kamera pocket sudah berpindah ke tangan Reta. Lantas kemana Uta pergi?


Aku menyelesaikan tugasku dengan baik. Tepuk tangan gemuruh mengiringi langkahku turun dari panggung. Saat aku berniat ingin mengdatangi Reta untuk menanyakan kemana Uta, kulihat Felix baru saja keluar dari ruang acara.


Aku juga tak mengerti dengan diriku, tapi entah mengapa intuisiku mengatakan untuk mengikuti Felix. Namun aku kehilangan jejaknya, saat aku keluar dari ruangan. Kupikir mungkin saja Felix ke parkiran mobil, sehingga kuputuskan untuk kembali mencari si gadis dasi.


Saat akan melewati tangga, terdengar suara seseorang sedang menuruni tangga, sambil mengatakan Felix naik ke lantai 2 lewat sambungan telepon. Aku ingin tau pemilik suara itu, namun kami berselisih sehingga tak sempat berpapasan.


Tanpa ragu aku ke lantai atas. Tak ada orang sama sekali disana, hanya ada banyak atribut yang di siapkan untuk perform. Samar-samar terdengar suara, dari sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Semakin mendekat, suara samar itu semakin jelas.


"Please izinin aku, peluk kamu sebentar aja." Terdengar suara Felix dengan intonasi lembut.


Hatiku rasanya dihantam palu gada, saat aku melihat Felix memeluk gadis dasi.


Bersambung .............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2