![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Uta singgah di sebuah kedai minuman legend. Kedai minuman tersebut tak terlalu besar, tapi soal pembeli jangan ditanya. Tak pernah ada kata sepi, sebab pembeli mereka datang silih berganti. Uta memesan Brown sugar boba kesukaan Ibu Ratu, double choco dengan cream caramel kesukaan Tama dan avocado coffe untuk dirinya sendiri. Uta membayar sesuai tagihan pesanan. Kemudian ia diberikan nomor antrian untuk mengambil pesanan.
Dirasa nomor antriannya masih agak lama, Uta memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar. Saat memasuki toilet khusus wanita, Uta langsung masuk ke salah satu bilik toilet untuk BAK, sebab tak ada siapa pun orang disana. Sekeluarnya dari bilik toilet, ia menuju wastafel dan cermin besar yang berada tepat didepan bilik toilet.
Gadis itu mencuci tangan dan wajahnya agar lebih segar. Saat ingin keluar, ia tak sengaja melihat sebuah dompet kecil bewarna hitam seukuran kartu ATM tergeletak di tepi area wastafel. Dari visual dompet tersebut, Uta langsung tahu pemilik dompet ini bukan sembarangan, sebab ini dompet branded dengan harga mahal.
Uta bisa tahu, sebab dompet ini persis seperti yang Reta punya. Reta dihadiahi dompet seperti itu oleh orang tua Reta, di ulang tahunnya tahun lalu.
Jujur ia agak was-was, takut takut orang salah paham dan menganggapnya pencuri. Tanpa membukanya sedikitpun, segera dibawanya dompet tersebut untuk diserahkan kepada pegawai kedai. Saat keluar dari toilet dan menuju area dimana pegawai kedai beroperasi, dari jauh tampak beberapa pegawai kedai berkumpul mengelilingi seorang wanita.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun tampak ekspresi si wanita maupun para pegawai kedai cukup serius. Uta yang tak ingin mengganggu pembicaraan serius di antara mereka, memilih untuk menghampiri pegawai kedai yang baru saja mengantarkan pesanan ke meja pembeli.
"Mas maaf ganggu." Uta menghampiri salah satu staff kedai. Gadis itu membaca nama yang tertera di dada kiri atas, Alfi nama pegawai kedai yang ia hampiri tersebut.
"Ya, ada yang bisa dibantu Mbak?" Ucap pegawai bernama Alfi tersebut dengan ramah.
"Ini saya nemuin dompet tergeletak di pinggir meja wastafel di toilet. Saya gak berani ngebuka dompet ini. Gimana ya Mas, saya serahkan ke mana ya Mas?" Ucap Uta jujur sembari menunjukkan dompet hitam mini yang ia pegang kepada Mas Alfi.
"Sebentar saya tanyakan ke staff yang lain dulu Mbak." Terlihat Mas Alfi berbicara ke beberapa teman sesama pegawai kedai. Sempat beberapa kali mereka menunjukkan gestur menunjuk beberapa orang, sebelum kemudian Mas Alfi datang kembali menghampiri Uta.
__ADS_1
"Maaf Mbak, langsung di serahkan sama yang punya aja. Itu orangnya bilang kehilangan dompet." Ucap Mas Alfi yang lalu menunjuk ke arah seorang perempuan berparas sangat cantik. Perempuan yang ditunjuk itu jelas terlihat seperti anak kuliahan alias seorang mahasiswi. Perempuan cantik tersebut berjalan mendekat ke arah Uta dan Mas Alfi.
"Maaf Mbak, ini saya menemukan dompet di pojok meja wastafel dalam toilet. Sama sekali belum ada saya buka Mbak." Ucap Uta langsung to the point. Ia juga menyodorkan dompet hitam di tangannya ke arah Kakak mahasiswi cantik tersebut.
"Alhamdulillah ... Aduh saya pikir hilang. Terima kasih ya. Maaf siapa namanya?" Kakak cantik itu tampak lega melihat dompet tersebut.
"Uta Mbak." Ucap Uta menyebutkan namanya.
"Perkenalkan saya Syiba. Uta boleh panggil nya Kak aja, jangan Mbak." Ucap kakak cantik yang ternyata bernama Syiba, ramah kepada Uta. Tak lupa lengkap dengan senyum manis di wajahnya. Dijulurkan nya tangan untuk berjabat tangan dengan Uta.
"Oh ya Kak Syiba." Uta menyambut uluran tangan tersebut. Kalau boleh jujur, melihat kecantikan Kak Syiba, membuat jiwa insecurenya lumayan bergejolak. Rasanya ia terpental jauh jika dibandingkan dengan perempuan cantik itu.
"Maaf Mbak, bisa kami konfirmasi dulu ini dompet benar-benar milik anda?" Ucap Mas Alfi di sela sela perkenalan Uta dan Syiba. Karena beliau adalah salah satu pegawai kedai, yang mana sedang menjalankan tanggung jawabnya. Memastikan barang yang hilang di kedai kembali kepada pemilik yang sebenarnya.
"Kartu di dompet juga bisa dibuktikan kok Mas. Soalnya kan kartunya memang punya saya, jadi pasti pin-nya saya tau pasti." Ucap Syiba mencoba menawarkan option lain agar lebih akurat dan meyakinkan.
"Oh gak usah Mbak, verifikasi ini aja udah cukup. Terima kasih Mbak." Dari segala rangkaian kronologis dan bukti, ditambah juga pemaparan dari beberapa staff yang lain, Mas Alfi menyimpulkan bahwa dompet ini memang benar-benar milik Syiba. Untuk itu, beliau tidak perlu memverifikasi lebih jauh lagi dan memutuskan untuk undur diri.
"Iya sama-sama Mas." Ucap Syiba ramah kepada Mas Alfi. Bersamaan dengan itu, nomor antrian Uta untuk mengambil pesanan berbunyi.
"Kak Syiba maaf, Uta permisi dulu Kak mau ambil pesanan." Ucap Uta sembari menunjukkan kertas nomor antrian yang ia pegang. Dia lalu bergegas pergi ke tempat pengambilan pesanan minuman yang sudah ia bayar.
__ADS_1
Selesai mengambil pesanannya, tentu saja Uta ingin langsung bergegas pulang ke rumah. Namun ada sebuah suara memanggilnya, membuat langkahnya terhenti dan menoleh ke arah suara datang.
"Kak Syiba?? Kenapa Kak?" Tanya Uta kepada Syiba yang memanggilnya.
"Gak kenapa kenapa. Cuma mau ngasih ini." Tanpa ba bi bu Kak Syiba memberikan sebuah paper bag kepada Uta.
"Ini apa Kak? Kok dikasih ke Uta?" Ucap Uta yang bingung kenapa diberikan paper bag oleh Kak Syiba.
"He .. he .. he. Bukan apa-apa kok. Cuman mau bilang terima kasih ke Uta karena udah nemuin dompet Kak Syiba." Jawab Syiba tulus, meskipun dirinya sedikit terkekeh melihat tingkah lucu Uta yang kaget menerima paper bag darinya.
"Gak usah Kak, Uta cuman nyerahin ke pemiliknya." Jawab Uta yang masih merasa agak berat menerima pemberian Syiba yang tiba-tiba ini.
"Jangan ditolak ya. Oh iya, kak Syiba balik duluan ya, soalnya bentar lagi mau ada kelas. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya." Syiba yang menyadari gesture Uta, terlebih dahulu mengatakan untuk tidak menolak pemberiannya. Ia juga tanpa gengsi mengajak Uta terlebih dahulu untuk bisa berjumpa lagi di lain waktu.
"Tapi Kak..." Ucapan Uta yang masih berusaha menolak dengan sopan terpotong di tengah jalan.
"Gak pakai tapi tapi. Udah ya Ta, lagi buru buru nih. Bye bye." Kakak cantik itu berlalu pergi buru-buru, karena mengejar waktu sebentar lagi kelas akan dimulai, meninggalkan Uta yang masih terbengong menatap kepergian Kak Syiba.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
__ADS_1
❤
ZEROIND