![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Sorry sorry Ber. Duh kok gue jadi curhat ke lo sih?? Sorry ya Ber." Ucap Uta merasa malu, karena tanpa sadar ia jadi curhat pada Alber.
"It's oke Ta. Justru gue lega, lo cerita ke gue. Seenggaknya, gue akhirnya tahu alasan cowok brengs*k tadi bersikap begitu. Tapi jujur gue pengen banget kasih hadiah minimal dua tonjokan ke cowok brengs*k itu. Mestinya lo tadi jangan buru-buru narik gue pulang." Ucap Alber. Mendengar cerita Uta tadi, membuatnya tersulut emosi.
"Lo Ber ada-ada aja, gak worth it berantem sama orang kayak gitu. Lagian gue juga gak mau lagi berurusan sama dia. Udah masa lalu." Ujar Uta jujur kepada teman sebangkunya itu. Cukup Edgar saja yang berantem dengan Kak Felix karena dirinya. Ia tak ingin ada orang lain lagi yang berantem gara-gara membela dirinya.
"Sumpah, bangga gue dengernya. kayaknya ini salah satu alasan lo lulus remedial." Alber yang beneran bangga bahkan sampai bertepuk tangan, mendengar perkataan Uta barusan.
"Alber lo bener-bener ya!! Iseng banget jadi orang!! Ha .. ha .. ha." Ucap Uta kesal karena di tepuk tangani oleh Alber, sekaligus geli mendengar ucapan Alber yang tadi.
"Nah gitu dong ketawa." Ujar Alber dengan senyuman lebar. Tawa Uta sepertinya menular otomatis padanya.
"Duh gue malu cengeng begini, tapi gimana udah terlanjur." Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menandakan dirinya sedang benar-benar malu.
"He .. he .. he. Lo tuh ya, lo tuh juga iseng kalo ngomong, tapi suka gak sadar aja kalau lagi iseng. Kan gue jadi ketawa. Jatuh deh jiwa gentleman gue." Kelakar Alber agar gadis di sampingnya itu tertawa.
"Ha .. ha .. ha. Wkwkwkw." Dan benar saja sesuai prediksinya, Uta tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar kelakarnya barusan.
"Hapus air mata lo Ta, cowok kayak gitu gak worth it untuk lo tangisi. Move on Ta, move on." Ucap Alber, secepat kilat berpindah ke mode serius.
"Gue juga pengennya begitu Ber. Gue pikir gue udah berhasil move on. Tapi hari ini gue sadar, ternyata gue belum berhasil move on. Padahal begitu putus, gue udah bertekad move on dari dia. Ternyata move on gak semudah yang gue pikir." Uta pun menjawab serius dan apa adanya. Ia juga menyadari ternyata dirinya, belum sepenuhnya berhasil move on dari seorang Felix Dwinson. Meskipun mungkin hanya sisa sisa perasaan kecil, tapi kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu saat akan berubah menjadi racun yang menyerang dirinya sendiri.
"Dengar gue baik-baik, mulai sekarang anggap aja dia itu rumus fisika. Pokoknya setiap kali lo liat dia, bayangin rumus-rumus yang bikin pusing itu. Gue yakin lo pasti bisa move on. Percaya sama gue." Ucap Alber dengan gaya seolah-olah sedang menghipnotis Uta. Sepersekian detik Uta benar-benar fokus menyimak apa kata Alber.
__ADS_1
"He .. he .. he. Kalau sarannya gini sih, udah pasti mujarab. Dijamin jur manjur ini mah." Ucap Uta, benar benar tak habis pikir dengan ide kreatif Alber.
_____________ Z _____________
Author POV
Flashback sisi Felix
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa sudah bubar dengan agendanya masing-masing. Ken pergi, karena ingin berkumpul dengan anak-anak OSIS yang lain. Tommy harus segera pulang, karena ingin menjenguk neneknya yang sedang sakit. Sementara Revan, sedari jam terakhir tadi memang sudah tak mengikuti pelajaran, sebab mengikuti kelas khusus persiapan olimpiade sains nasional bidang informatika / komputer. Atau lebih sering dikenal OSN komputer. Di antara group mereka, tersisa Felix dan Devina.
"F kamu habis ini kemana? Kamu ngerasa gak, kita udah jarang pulang bareng." Ucap Devina yang menghampiri kursi Felix.
"Sorry Dev, aku dipanggil guru sepulang ini." Jawabnya tanpa melihat lawan bicara, ia malah sibuk mengetik pesan di layar handphone.
"Buat apa?" Tanya Devina, kali ini menyentuh lengan kokoh Felix. Gadis itu berharap dengan begitu, Felix menoleh padanya.
"Jadi hari ini, kita gak pulang bareng lagi F?" Devina seolah tak menyerah, kali ini jemari lentiknya dengan berani membelai rahang tegas Felix.
"Lain kali mungkin. Aku deluan Dev." Ucap Felix yang bangkit dan langsung berlalu pergi, meninggalkan Devina yang masih terduduk di kursi.
"F ..." Devina hanya bisa memanggil Felix dengan nada yang begitu pelan. Jujur ia merasa Felix beberapa bulan ini berubah. laki-laki itu tak seperti Felix yang dulu ia kenal. Jika dulu Felix senantiasa menatapnya dengan tatapan memuja. Akhir-akhir ini, hal itu hilang entah kemana, berganti dengan sikap acuh tak acuh Felix, bahkan terkesan dingin terhadap dirinya.
Semenjak saat itu, Devina berusaha untuk selalu di dekat Felix. Seharusnya Felix senang karena itulah yang dirinya nanti-nantikan selama ini. Namun anehnya, Felix merasa kurang nyaman dan malah sering sekali berinisiatif menjaga jarak. Debaran hatinya kepada Devina, mendadak hilang entah kemana.
Di ruang serbaguna yang sering kali dipakai sebagai ruang rapat para guru, Felix berkutat dengan laptop dan kertas kertas berisi fortofolio beberapa siswa berprestasi. Dengan syarat syarat yang telah dipenuhi, mereka mengajukan rekomendasi dari sekolah untuk bisa mendapatkan kuota pertukaran pelajar keluar negeri.
__ADS_1
Guru meminta bantuannya hari ini, karena dia juga telah selesai mengikuti program pertukaran pelajar tersebut, sehingga sudah pasti lebih familiar dan bisa membantu lebih banyak. Setelah satu jam lebih, barulah Felix keluar dari ruang guru.
Baru beberapa langkah berjalan meninggalkan ruang guru, pandangan Felix terpaku pada orang yang sangat ia rindukan belakangan ini. Namun hatinya terasa terbakar, saat ada siswa laki-laki yang berada sangat dekat dengan Uta. Alber, siswa pindahan yang sempat menghebohkan seluruh siswi karena penampilannya yang di atas rata-rata, berada begitu dekat dengan Uta. Otaknya tak dapat lagi berpikir jernih, saat melihat Alber membelai pucuk kepala Uta. Sampai akhirnya, terlontarlah kalimat yang tak seharusnya ia ucapkan.
Dirinya sadar sudah salah bicara, saat melihat reaksi Uta. Gadis itu tersentak kaget dan bahkan sempat menahan tangis. Padahal ia yang paling tahu, bahwa Uta bukanlah perempuan penggoda. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata-kata yang sudah terucap, tak dapat ditarik kembali.
Jutaan rasa bersalah ke Uta menyergap perasaannya. Apesnya saat Felix ingin meminta maaf ke Uta, Alber terlebih dahulu menantang permintaan maafnya. Hal itu membuat Felix yang sedang berada di depan Uta, merasa harga dirinya di usik oleh Alber. Akal sehatnya kembali tertutup oleh emosi, sehingga ia mengucapkan maaf tak tulus dari hati, melainkan hanya untuk memenuhi tantangan Alber saja.
Hatinya mencelos saat Uta tiba-tiba meraih lengan Alber, untuk meminta Alber mengantarnya pulang. Uta yang sepengetahuan Felix sangat tertutup, dan hanya dekat dengan Reta dan Edgar, hari ini begitu mengejutkannya. Sejak kapan Gadis itu akrab dengan Alber? Sejak kapan mereka begitu dekat? Ada hubungan apa diantara mereka, sampai-sampai Uta meminta Alber mengantarnya? Sepengetahuan Felix, Alber pindah ke sekolah ini, belum terlalu lama. Bagaimana mungkin mereka sudah sedekat itu?
Tak sampai disitu saja, hatinya benar-benar terbakar, saat melihat Alber menggenggam jemari Uta dan membawanya pulang. Emosi yang memuncak itu bisa saja berakhir dengan aksi pukul, andai saja Revan tak datang guna menahan Felix.
"Pakai akal sehat lo F!! Uta bukan lagi milik lo, dia bebas dekat dengan cowok manapun." Revan langsung menahan lengan Felix, agar sahabatnya itu tak mengejar Alber untuk melampiaskan emosinya. Revan sadar betul sahabatnya itu sedang terbakar api cemburu.
"Sh*ttttt. AAAHHRRRGGG!!" Teriak Felix mengusap kasar kepalanya. Matanya memerah pertanda ia sangat marah.
"Sadar F, cara lo udah salah sedari awal. Gadis itu korban dari lo dan kita- kita. Stop menambah luka ke dia F." Ucap Revan berusaha menyadarkan Felix, bahwa tak sepantasnya ia marah terhadap Uta maupun Alber. Disini, Felix dan kawan kawannya lah yang melakukan kesalahan. Mendengar ucapan Revan, Felix hanya bisa menatap diam ke depan. Berharap waktu bisa diputar kembali.
"Dari awal gue udah ingatin lo, jangan pernah main main dengan hati." Ucap Revan dalam. Ditepuknya pundak Felix sebagai bentuk support. Revan menyadari ini bukan hanya soal penyesalan Felix ke Uta. Melainkan ini juga tentang Felix yang jatuh cinta terhadap target taruhannya.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
__ADS_1
ZEROIND