Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
147. Sisa Waktu


__ADS_3

Author POV


"Kenapa tiba-tiba Mah?" Tanya Uta yang kaget mendengar kabar mendadak ini dari Mamahnya. Paginya yang begitu tenang, mendadak berubah ketika Mamah Celine mengatakan mereka akan pindah hari ini.


Awalnya Uta pikir ini bercanda atau hanya sekedar prank dari Mamahnya. Tapi melihat Mamah Celine yang bicara serius lalu memulangkan 2 pegawainya, membuatnya mulai berpikir mungkin ada masalah. Tak sampai disitu, Mamah Celine juga sibuk mentransfer balik semua uang pesanan yang belum dikerjakan. Membuat Uta akhirnya mulai percaya, ini tak main-main seperti yang ia sangka. Ini bukan prank.


"Sayang, Mamah gak bisa jelasin sekarang. Tapi Uta masih percaya kan sama Mamah? Mamah sudah ambil keputusan, ini yang terbaik untuk kita sayang." Ujar beliau memegang lembut tangan Uta. Beliau tahu, ini tak mudah untuk anaknya. Kota ini khususnya rumah ini, adalah bagian dari Uta dan Tama hampir diseluruh hidup mereka. Sehingga untuk pindah adalah suatu keputusan besar bagi kedua anaknya.


"Tapi Mah, Tama gimana?" Tanya Uta pada Mamahnya.


"Tama nanti lanjut sekolah disana. Semuanya nanti Mamah urus. Yang penting kita pindah hari ini." Jawab Mamah Celine. Beliau bahkan menelpon Tama yang sedang gowes bersepeda bersama teman-teman SMP-nya, agar segera pulang.

__ADS_1


"Tapi Mah? Apa gak bisa diundur beberapa hari lagi? Uta belum pamitan sama Edgar, Reta, Seto dan Sandi." Ucap Uta mencoba tetap tenang, meski bulir bening sudah membasahi pelupuk matanya. Disuruh mendadak pindah dari rumah masa kecilnya, sama saja seperti pohon yang dicabut tiba-tiba sampai ke akar-akarnya. Lubang kosong itu mendadak menganga lebar dihatinya.


"Justru kamu gak boleh pamitan sama mereka. Kita gak boleh ninggalin jejak Ta. Nanti ... nanti kalau situasi sudah kondusif, Uta boleh kabari mereka." Larang Mamah Celine dengan tegas kali ini.


"Maksud Mamah?" Tanya Uta yang juga shock mendengar larangan tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai ia tidak boleh sekedar berpamitan pada teman-temannya? Mengapa hanya perkara berpamitan, Mamah Celine sampai melarangnya?


"Mamah mohon, Uta jangan tanya ini itu dulu. Cukup ikuti perintah Mamah sekarang. Mamah janji nanti Mamah akan jelasin semuanya ke Uta. Tapi please, turutin Mamah tanpa bertanya kali ini." Ucap beliau tegas tak ingin dibantah. Genggaman tangan beliau pun menegaskan ini hal serius yang tak bisa Uta langgar. Uta yang menangkap sinyal itu, hanya bisa terdiam pasrah. Hanya bulir bening dari matanya yang mengalir semakin deras.


"Ya udah. Sekarang Uta packing barang yang perlu Uta bawa. Bawa yang penting-penting aja sayang, nanti selebihnya kita beli di sana aja. Tiket kapalnya nanti jam 4 sore. Jadi jam 3 kita sudah harus jalan." Ucap beliau memberikan instruksi selanjutnya.


DEG ....

__ADS_1


Jam 3 sore? *Uta


Uta seketika langsung menoleh menatap jam dinding di rumah mereka. Waktu sudah menunjukkan jam 10:00 pagi. Berarti ia hanya punya sisa waktu 5 jam lagi. 5 jam lagi ia akan meninggalkan kota ini. Meninggalkan rumah bersejarah tempat ia menghabiskan masa kecil. Meninggalkan segala kenangan yang terukir disini. Meninggalkan sahabat dan teman-teman yang ia sayang. Meninggalkan seseorang yang sengaja ia tinggalkan. Seseorang yang bernama Alber Syargan Farabaks.


Bersambung .............


_____________ Z _____________



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2