Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
115. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Author POV


"Aneh maksudnya?" Tanya Alber. Ia harus sabar mengorek informasi hati Putri.


"Soalnya kan, biasanya kalo Yabel libul, Tuta kesini temenin Putli sehalian. Tapi sekalang Yabel libul, Tuta gak kesini." Ujar Putri. Akhirnya terungkap sudah, apa yang mengganggu pikirannya.


"Oh, ada yang lagi rindu berat sama Tutanya?" Ledek Alber, karena Putri termasuk anak yang gengsi berat, mengakui perasaan rindu.


"Yabel!! Kenapa Yabel ketawain Putli?" Bukannya menjawab, Putri malah bertanya balik ke Alber.


"Sorry sorry ... Gimana kalo kita telpon Tuta. Mau?" Ujar Alber menawarkan sebuah ide cemerlang. Meski masih gengsi, tapi ekspresi tak penah bohong. Matanya membulat dan binar-binar senang terpancar dari bola matanya. Badannya juga otomatis condong mendekat kearah Alber.


Tut ... Tut ... Tut ... Terdengar panggilan video call tersambung dari loadspeaker handphone.


"Assalamualaikum. Halo Alber." Di akhir dering ke empat, barulah video call itu tersambung. Wajah Uta dengan kaos putih simpelnya terlihat di layar HP Alber. Rambut yang di kuncir satu dengan beberapa helainya yang terlepas dari ikatan, membuat si penelpon freeze sesaat. Alber tak buru-buru menjawab salam Uta, ia asik memandang orang diujung sambungan teleponnya.


"Tutaaaaaaa ..." Teriak Putri merusak kesenangan Alber. Bocah itu bahkan menarik handphone Alber, agar puas melihat wajah Tutanya dilayar handphone.


"Sayang??" Ucap Uta tersenyum lebar, senyum ceria yang menular ke Putri dan Alber.


"Tuta kenapa Tuta gak kesini? Putli kangen." Introgasi Putri karena Uta tak datang. Tak seperti biasanya, Putri yang memiliki gengsi besar kini mengaku terang-terangan, kalau ia merasa kangen karena Uta tak datang. Padahal biasanya dipancing untuk mengaku kangen, susahnya minta ampun. Alber sampai geleng-geleng.

__ADS_1


Uta bener-bener udah jadi pawang si bocil. *Alber.


"Kok sama sih?? Tuta juga kangen anak gemasnya Tuta yang satu ini." Jawab Uta jujur, dengan mimik wajah sedang gemas dengan bocil, yang tumben-tumbenan gak gengsi bilang kangen.


"Ta, kok aku gak ditanya kangen juga sih?" Ucap Alber nimbrung ke arah hanphonenya yang sedang dikuasai Putri. Uta terlihat tak menyangka dengan pertanyaan Alber.


"Yabel buat apa? Tuta gak usah tanya Yabel Tuta." Putri menoleh pada Alber, lalu kembali menoleh ke layar handphone saat berbicara ke Uta.


"He .. He .. He .. Oke-oke siap bos." Ujar Uta terkekeh, karena senang masalahnya terpecahkan oleh bocil


Wah ... Berkomplot kalian ya!! *Alber.


"Tuta, tadi malam Putli sudah jalanin misi dali Tuta, sudah belhasil." Ucap Putri memberikan laporan pada Uta, bermaksud agar Tutanya bangga padanya.


"Uhuk ... Uhuk ... Ehem, Putri lagi apa" Mendengar itu Uta terbatuk, ia lalu buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.


"Putli tadi nemenin Yabel nonton film. Tuta look, cookiesnya sudah habis, Yabel sama Putli makan." Jelas Putri menjabarkan aktivitasnya tadi. Bocah itu lantas mengarahkan kamera handphone Alber, mendekat ke tempat toples kosong berada. Samar-samar Uta dapat melihat keadaan cookies-cookiesnya yang sudah menghilang dari sana, dan hanya tersisa sedikit remahan gula palem saja.


"Really? Enak gak?" Tanya Uta sambil tersenyum, senang karena cookiesnya laris manis ternyatanya.


"Tuta ... Cookies buatan Tuta selalu enak. Gak pelnah gak enak." Jawab Putri, jujur memberikan testimoni pada Tutanya.

__ADS_1


"Owhhhh ... Hati Tuta jadi meleleh. Cium jauh. Muachh .. Muachh .. Muachh ..." Respon Uta dengan memberi gesture cium jauh alias kiss bye, pada bocah kecilnya. Putri yang melihat itu, balik memberikan cium jauh pada Uta.


"Tuta muachh .. Muachhh .." Ujar Putri terlalu bersemangat.


Kenapa kalian dua mesra-mesraan di depanku?? *Alber


"Wkwkwkw ... Sayang gak keliatan tau." Tawa Uta pecah saat layar handphonenya jadi gelap, sebab Putri betulan mencium handphone Alber, sehingga tanpa sadar menutupi kamera.


"Wkwkwkw ... Gak keliatan. Tuta, Tuta lindu Lele? Tuta mau liat Lele?" Sadar karena ditegur Tutanya, membuat bocah kecil itu tertawa.


"Eh .. Eh .. Tapi sayang ..." Uta sampai terkaget-kaget, sankin cepatnya topik berubah. Udah kayak roller coaster, pikir Uta.


"Tuta ... Tuta mesti lihat Lele, bial Tuta gak lindu sama Lele." Tanpa persetujuan Alber terlebih dahulu, Putri sudah berjalan pergi menuju taman belakang di mana kandang Lele berada, untuk memperlihatkan marmut kesayangannya pada Uta.


Melihat keceriaan Putri, Uta tak dapat menolak dan hanya bisa pasrah mengikuti kemauan bocah itu. Meski tak pandai mengatur kamera depan belakang ponsel, Putri tetap gas terus dan pantang mundur.


Alber sampe terheran-heran, dengan dua gadis chubby dua generasi itu. Terlebih pada bocah chubby, yang pagi ini bagai musuh dalam selimut. Menyabotase bagiannya telponan dengan gadis dasinya.


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...

__ADS_1


❤ ZEROIND


__ADS_2