Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
78. Berbeda


__ADS_3

Author POV


"Tuta, tapi ada satu lagi yang paling penting." Ucapnya lagi dengan wajah super serius.


"Apa itu?" Tanya Uta menunjukkan mimik, super fokus terpaku dengan keseriusan Putri.


"Tuta harus cari pangelan, yang cowok." Jawabnya super out of the box. Benar benar GUBRAK. Uta sampe tepelongo beberapa detik. Berbeda dengan Alber yang sudah ngakak terpingkal-pingkal.


"Yaber banget deh itu sifatnya. Iya kan Put?" Tiba tiba saja Alber berucap. Dicoelnya pipi chubby bocah itu.


"Bukan Yabel." Putri yang pipinya dicoel oleh Alber, menoleh lalu mengucapkan hal itu.


"Kenapa bukan Yaber? Dulu Putri bilang Yaber itu pangeran bukan?" Protes Alber, karena bocah kecil itu langsung mengatakan tidak tanpa berpikir.


"Ehm .. Benal, Yabel memang sepelti pangelan, tapi Yabel pangelan yang jahil. Tuta gak boleh dapat pangelan yang jahil, kalena Tuta sabal olangnya. Jadi gak boleh Yabel. Iya kan Tuta?" Jawab bocah itu telak, menjabarkan hasil analisa tajamnya. Ia juga menoleh ke arah Uta untuk mengkonfirmasi ketepatan ucapannya barusan.

__ADS_1


"Binggo!! Pinter banget deh." Jawab Uta, bahkan ia memberikan tanda jempol untuk Putri. Uta benar-benar sependapat dengan apa yang Putri katakan.


Menurutnya ia dan Alber bagaikan bumi dan langit. Jauh berbeda. Baginya tidak mungkin, di masa ini maupun masa depan, Alber menjadi pangeran untuk dirinya. Terlebih teman sebangkunya itu sudah memiliki wanita yang ia suka. Maka, sudah tentu makin tak ada yang namanya kemungkinan. Sekarang ataupun nanti, mereka memang paling pas jadi teman. Tak kurang dan tak lebih. Sehingga ucapan Putri barusan benar-benar tepat, untuk ia dukung seratus persen.


Tanpa ada sedikitpun komentar, Alber kemudian melanjutkan menonton kartun itu dengan malas-malasan. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dengan wajah sedikit ditekuk. Mereka bertiga melanjutkan menonton serial Frozen yang hampir habis.


"A sayang!" Ucap Uta, menyodorkan satu dari tiga potongan mangga terakhir, dengan garpu ke depan mulut Putri, tapi bocah itu tak bergeming sangking fokusnya menonton kartun Frozen.


"Hey A.. dulu." Ucap Uta lagi sambil tersenyum jahil, sebab lucu mengganggu bocah fokus itu dengan mangga.


HAP!!


"YABEL!!" Protes Putri pada Alber.


"He .. he .. he .. Siapa suruh Putri gak buka mulut dari tadi, ya udah Yaber yang makan." Sambil tertawa, Alber ngeles memberikan alasan atas aksi begal mangga yang ia lakukan. Dikunyahnya mangga hasil rampasan dari suapan Uta.

__ADS_1


"Yabel tapi kan, Tuta itu suapin Putli, bukan suapin Yabel!!" Ucap bocah kecil itu, memblok segala alasan Alber. Ia tak rela mangga kesukaannya, di jarah oleh si pangeran jahil.


"Karena Yaber yang makan, berarti Tuta suapin Yaber, ya kan Tuta?" Ujar Alber masih saja ngeles, mencoba mencari dukungan pada Uta. Ia bahkan tersenyum sumringah ke arah teman sebangkunya itu.


"Enggak!! Tuta cuman mau suapin Putri, bukan yang lain." Dijawab Uta mentah mentah, membuat senyum cerah Alber menguap entah kemana.


"Benal, Tuta suapin Putli, bukan Yabel." Ujar Putri menebalkan perkataan Uta. Ibarat perumpamaan, sudah jatuh tertimpa tangga. Malang nian nasibmu Alber.


Alber pasrah, ia kalah telak sekarang. Dua lawan satu membuatnya tak berkutik. Tapi Alber merasa ada sedikit hal berbeda pada diri Uta, gadis chubby itu hanya bercanda riang dengan Putri, tapi sedikit tidak mood bercanda dengannya hari ini.


Beberapa kali ia menjalankan aksi usil pada gadis itu, tapi tak menghasilkan efek apa-apa. Meskipun Uta tak pernah menanggapi secara berlebihan, tapi setidaknya Uta akan merespon kecil keusilan Alber. Dan entah kenapa, ia kehilangan respon kecil itu saat ini.


Bersambung ............


_____________ Z _____________

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2