Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
25. Ongkir


__ADS_3

Author POV


Uta sudah kembali ke kamarnya. gadis Itu tampak bingung sambil menimang-nimang handphonenya. Dia ingin mengechat Alber untuk menanyakan pertanyaan Mamah Celine, tapi dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Ia jadi agak khawatir mengechat Alber, sebab menurutnya ini sudah agak malam. Bagaimana kalau Alber sudah beristirahat? Bagaimana kalau ia mengganggu? Tapi kalau tidak bertanya sekarang, bagaimana kepastian bekalnya besok?


Chat enggak? Enggak usah? Chat aja?*Uta. Bingungnya gadis itu dalam hati.


"Ah tau ah ... Ketik aja. Klik klik klik." Ocehnya sambil jari jarinya menari di layar ponsel. Namun belum sempat ia mengirim pesan tersebut, handphonenya lebih dulu bergetar karena sebuah notif pesan yang masuk.


[Ta udah tidur? Gue ganggu gak?] *Alber


Tanpa disangka tanpa di duga, Alber mengirim pesan padanya di waktu yang tepat. Buru buru Uta hapus pesan yang terlanjur dia ketik sebelumnya. Segera ia ketik pesan baru untuk menjawab chat dari Alber.


[Belum, kenapa Ber?]*Uta


[Soal obrolan istirahat tadi.Gimana Ta? Nyokap lo ACC gak??]*Alber


[Tadi gue udah tanya ke Mamah dan beliau enggak keberatan sih, tapi ...]*Uta


[Tapi apa?]*Alber


[Tapi emang enggak apa apa kalau menunya sederhana? Usaha catering Mamah kan usaha rumahan kecil-kecilan, jadi menunya bukan yang wah. Apa lo keberatan Ber?]*Uta


[Gue gak keberatan sama sekali. Justru gue senang banget kalau nyokap lo bolehin gue catering bekal tiap hari. Nyokap lo pada dasarnya emang udah jago masak. Jadi apapun lauknya nggak jadi masalah.]*Alber


[Oke kalau gitu, entar gue sampaikan Mamah.]*Uta


[Terus biaya catering gue gimana Ta?]*Alber


[Mamah biasanya bikin seporsi lengkap dengan air minumnya sekitar 30 ribu Ber. jadi kalo kita sekolah 5 hari seminggu, total 1 bulan sekitar 600 ribu Ber.]*Uta


[Mantap, kirim nomor rekening Tante Ta. Gue mau transfer sekarang.]*Alber


[Mamah udah tidur Ber, besok aja aku tanyain.]*Uta


[Lo punya nomor rekening?]*Alber


[Ada, kenapa?]*Uta

__ADS_1


[Please kirim ke gue]*Alber


[Besok aja gak apa apa kok Ber. Gak mesti buru buru Ber.]*Uta


[Gue gak enak Ta kalau belum transfer, padahal bakal dimasakin. Please lah kirim nomor rekening Ta.]*Alber


[009 - xxxx - xxx]*Uta


[Oke wait.]*Alber


Tak sampai 2 menit, Uta mendapat SMS dari bank yang memberitahukan informasi transfer yang terjadi dalam rekeningnya. Ia tak kaget dengan hal itu, karena memang Alber mengatakan ingin mentransfer pembayaran catering sekarang. Yang membuatnya kaget adalah jumlah yang Alber transfer. Bagaimana tidak kaget, Alber mentransfer 3 kali lipat dari biaya catering bulanan yang tadi sudah ia sebutkan.


[Alber kamu nggak salah kirim? Ini kelebihan? Sisanya gue balikin ya.]*Uta


[Jangan!! Gue sengaja kirim lebih. Anggap aja selebihnya itu biaya ongkos kirim.]*Alber


[Gak usah Ber. Bekal lo entar gue bawain aja. Kan kita satu kelas, jadi sekalian. Enggak perlu pake ongkir ongkiran segala.]*Uta


[Ya nggak bisa gitu dong, itu namanya gue ngebebanin. Ya udah kalau lo enggak terima ongkir gue, gue bakal setiap hari ke rumah lo buat jemput bekal gue sendiri. Sekalian kita berangkat ke sekolah bareng tiap hari. Gimana??]*Alber


Eh ...eh ... Kok gitu sih!! Ini sih namanya nambah urusan baru.*Uta


[Maksudnya, gue mau bilang makasih ongkos kirimnya Alber.]*Uta


[👍]*Alber


..._____________ Z _____________...


Pagi harinya Mamah Celine bersama dua pegawainya, sudah sibuk berkutat membungkus pesanan catering untuk pagi ini. Mamah Celine dan 2 pegawai beliau, setiap harinya start habis subuh. Kemudian nanti akan rolling shift dengan 2 pegawai lainnya sekitar pukul 12 siang.


Uta sendiri sedang sibuk menyiapkan 3 bekal pagi ini. 1 untuk dirinya, 1 untuk Tama adiknya dan 1 untuk Alber. Uta tentu tidak memasak menu menu itu. Ia hanya menata masakan yang sudah Ibu Ratu sisihkan terlebih dahulu, untuk bekal yang akan mereka bawa ke sekolah.


Di bungkusnya juga, 4 buah bolu gulung coklat dengan krim vanila yang Mamah Celine bikin kemarin sore, ke dalam plastik bening khusus makanan. Semua perangkat perbekalan itu ditata rapi dalam tas bekal, agar mudah dibawa nanti. Barulah gadis itu sarapan pagi bersama adiknya Tama.


Tak seperti biasa, Tama lebih dulu berangkat daripada Uta, dikarenakan hari ini adalah hari piketnya. Uta sendiri sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya.


Tin .. Tin . .


Terdengar suara klakson mobil tepat dari arah depan rumah.

__ADS_1


"Uta Edgar udah datang, buruan nanti telat." Teriak Mamah Celine dari depan rumah agar Uta bergegas keluar. Ya, Edgar menghubungi Uta dan bilang akan menjemput pagi ini, agar mereka berangkat bareng ke sekolah. Sebenarnya Uta dan Edgar sedari dulu sering berangkat bareng sekolah, hanya pulangnya saja yang tidak bareng, karena jadwal kegiatan yang berbeda. Namun belakangan ini, Edgar lebih sibuk dan tak jarang Edgar menginap di rumah teman satu klub basketnya, sehingga ia dan Uta tak berangkat bareng.


Mereka akhirnya tiba di parkiran sekolah, setelah bertarung dengan padatnya lalu lintas ibukota.


"Thank you my friend." Ucap Uta menepuk-nepuk bahu sahabat kecilnya itu. Ia dan Edgar keluar dari mobil dan tak sengaja bertemu pandang dengan Alber, yang juga bersamaan sampai di sekolah. Entah hanya perasaan Uta saja atau bagaimana, Alber pagi ini seolah memiliki mood yang kurang baik. Wajahnya terlihat kesal, tak seperti Alber yang biasanya ramah.


"Pagi semua!! Wah ... wah ... Bau bau enak nih." Tanpa diduga Reta datang merangkul mereka berdua.


"Apaan sih Re, aku bukan anak kecil. Gak usah di rangkul rangkul segala." Edgar melepaskan diri dari rangkulan Reta. Uta geleng geleng karena menduga ada hawa hawa bakal adu mulut, antara kedua orang di sampingnya ini.


"Stop!! Mending kalian berdua makan bolu gulung pagi - pagi, daripada tengkar gak jelas. Pusing gue." Uta memberikan 2 bungkus bolu yang sudah ia siapkan tadi, kepada masing-masing mereka. Ia lalu memutuskan pergi duluan ke kelas, meninggalkan Tom and Jerry itu. Ia tak ingin berada diantara perang dunia mereka dua.


Saat berjalan meninggalkan Edgar dan Reta, tak tampak lagi Alber di tempatnya tadi berada. Sepertinya dia sudah terlebih dahulu ke kelas, saat fokus Uta terpecah karena Reta. Uta memasuki kelas 5 menit sebelum bel berbunyi. Benar saja prediksinya, Alber sudah lebih dulu ke kelas.


Tapi ia tidak seperti biasanya, Alber duduk memejamkan mata, sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada. Alber juga memakai earphone di kedua telinganya. Melihat gesture Alber itu, Uta menyimpulkan Alber mungkin tak ingin diganggu. Gadis itu sudah tentu tak berani mengusik Alber, terlebih sampai memperparah mood-nya.


Bel istirahat berbunyi, seperti biasa anak-anak berhamburan mencari sesuap nasi untuk mengganjal lapar di perut. Tersisa lah Uta dan Alber saja di dalam kelas. Rasa canggung memenuhi ruangan kelas itu. Uta mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas bekal yang ia bawa.


"Jeng jeng." Ucap Uta riang, lengkap dengan sebuah senyum, berusaha mencairkan suasana yang canggung antara dia dan Alber. Tanpa terduga, sebersit senyum muncul di wajah tampan Alber, meski ia sempat freeze beberapa detik melihat tingkah Uta. Melihat itu gantian Uta yang freeze.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies dan Lidah Kucing Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya. Untuk lebih mudah, scan barcode dibawah ini.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2