Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
48. Sungai Amazon


__ADS_3

Author POV


15 menit setelah Reta meninggalkan kelas, Uta baru terbangun dari tidur lelapnya. Badan yang menempel di atas meja perlahan bangkit dan duduk tegap. Gadis itu mengucek ucek matanya. Mata yang tadinya masih rapat melekat seolah-olah sedang di beri lem, perlahan sudah membuka penuh.


"Loh kok kosong!! Yang lain pada ke mana??" Dia benar-benar kaget setelah menyadari kalau kelas sudah kosong dan hanya tersisa dirinya dan Alber yang masih dibangku belakang.


"Udah pada pulang." Ucap teman sebangkunya itu santai.


"Astaga!!! Kok gue gak nyadar udah jam segini sih??!!!" Uta bertambah kaget saat melihat jam yang tertera di layar handphonenya. Waktu sudah menunjukkan 20 menit sudah berlalu setelah jam pulang sekolah yang sudah ditentukan.


Buru buru ia yang merapikan segala barang barang ya ada di atas meja untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Alber yang duduk di sampingnya hanya bisa duduk diam di tempat. Diambilnya sesuatu dari dalam tas miliknya lalu menyerahkan benda tersebut pada Uta.


"Kenapa?" Uta yang sedang memasukkan barang barang ke dalam tas terhenti sebab Alber tiba-tiba menyerahkan tisu kepadanya.


"Lap dulu bekas aliran sungai Amazonnya." Ucap Alber menunjuk area wajah Uta yang teraliri sungai Amazon alias iler.


"Oh ya ampun." Gadis itu meraih tisu yang Alber tawarkan dan langsung mengelap sumber mata air murni itu tanpa sedikitpun merasa jaim. Alber yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Biasanya perempuan lain akan bersikap sangat jaga image dihadapannya, bahkan panik jika terdapat sedikit saja yang tak sempurna. Tapi itu semua tampak tak berlaku pada Uta. Setelah urusan sumber mata air selesai, ia kembali fokus buru-buru merapikan alat tulisnya ke dalam tas tanpa memperdulikan Alber yang takjub akan ulahnya.

__ADS_1


"Gak usah buru buru Ta, gue bisa anterin lo pulang." Ucap Alber berinisiatif untuk mengantar Uta pulang. Toh setelah ini ia tak punya agenda kemana mana. Mengantar Uta tak perlu membuatnya berpikir dua kali.


"No, gue mau singgah bentar nanti. Gue balik naik busway aja Ber. Duluan ya." Ditolaknya tawaran Alber mentah-mentah. Diraihnya tas miliknya lalu bangkit berdiri dan keluar dari kelas, meninggalkan Alber yang masih di ruangan. Ia sudah punya rencana tersendiri sehingga ia kekeh tak ingin Alber mengantarnya pulang.


Saat Uta keluar dari ruang kelas, tanpa disangka dirinya berpapasan dengan Felix yang berada di ujung koridor. Langkah gadis itu terhenti, seolah kakinya dipaku di lantai koridor tempatnya berdiri. Meskipun jarak mereka lumayan agak jauh, terpaut koridor dari ujung ke ujung, namun pandangan mereka satu sama lain saling bertemu.


Entah perasaan Uta saja atau bagaimana, Uta melihat sorot mata sedih pada kedua mata Felix. Mata itu terlihat sedih. Terlalu sedih bahkan. Tapi kenapa? Tak mungkin laki laki itu sedih karenanya. Uta masih ingat dengan jelas, teman-teman Felix membicarakan bahwa Felix merasa malu saat mereka masih bersama dulu. Meski tak keluar dari mulut Felix sendiri, tapi Uta ingat Felix tak sedikitpun membantah. Bukankah itu sama saja?


Lantas apa yang membuatnya sedih begitu? Apa ada masalah? Ataukah dirinya sedang tak enak badan? Ah sudahlah. Felix sudah bagian dari masa lalu sekarang. Sekuat tenaga Uta menepis segala hal yang membuatnya bertanya akan Felix. Cukup dan jangan lagi.


Alber yang tak lama juga keluar dari kelas, juga tak luput menangkap pemandangan di koridor Z1. Dirinya sangat menyadari hal tersebut, namun laki-laki jenius itu segera paham dengan situasi yang sedang terjadi.


"Tenang, jangan panik!! Kita bareng keluar Z1. Gue antar lo sampai halte busway. Oke??" Bisik Alber memecah kebuntuan yang terjadi pada Uta. Uta yang tak mampu menjawab dengan kata-kata hanya bisa mengangguk menyetujui apa yang Alber bisikan padanya.


Alber meraih tangan Uta tanpa bisa diantisipasi oleh gadis itu. Sepintar mungkin ia menyembunyikan wajah terkejutnya dan berjalan melewati Felix dengan pasti. Di tegarkannya hatinya agar jangan sampai Felix tau gejolak hatinya yang sebenarnya. Setibanya di depan si hitam, Alber membukakan pintu dan Uta langsung masuk cepat kedalam. Alber menutup pintu untuk kemudian masuk ke sisi kursi kemudi.


"Gak usah terlalu dipikirin. Daripada pusing mikirin dia mending lo mikirin matematika aja." Ucap Alber memecah keheningan di antara mereka yang sedang duduk di dalam mobil, dimana mobil sport milik Alber sedang melaju menuju halte busway. Ia sengaja berucap seperti itu agar Uta tak terlalu berpikiran tentang hal tadi.


Mendengar ucapan Alber, Uta hanya bisa menghembuskan nafas berat. Felix saja kadang kadang bagaikan momok untuk dirinya. Ditambah lagi matematika, alamat double combo.

__ADS_1


"Lagian hari ini kita belum les matematika. Gimana kalau besok aja kita les?" Lanjut Alber sebab Uta tetap hening dan tak menjawab apa-apa.


"Hemh ... Besok gue ada urusan janji penting jadi gue gak bisa Ber." Gadis itu otomatis panik mendengar usul Alber yang mengajaknya les esok hari.


"Kok urusannya besok bisa pas banget ya?" Alber sepertinya menangkap gadis di sampingnya sedang mencari-cari alasan untuk menghindari ajakan les besok. Tapi disisi lain Alber lega, Uta yang tadinya agak sendu sekarang sudah teralihkan dan menjadi lebih ceria.


"Yah mau gimana lagi, padahal gue pengen banget belajar." Ucapnya dengan nada dan mimik wajah di buat seolah-olah sedih sebab tak bisa les esok. Mendengar itu Alber tak bisa menahan tawanya. Gadis itu seolah selalu punya jawaban yang tak pernah Alber pikirkan, benar benar out of the box. Dirinya bahkan tak tau mau menanggapi apa perkataan Uta.


Mobil terus melaju sampai tepat di depan stasiun busway.


"Lo yakin stop di halte aja?" Tanya Alber sekali lagi memastikan ke Uta. Ia sangat tidak keberatan jika Uta meminta dirinya langsung sekalian mengantarnya pulang ke rumah.


"Yaps ... Thank you. Titi dj ya Ber, bye Alber." Jawabnya tanpa sedikitpun keraguan. Gadis itu bahkan langsung melompat turun setelah berpamitan dengan penyelamat nya kali ini. Alber hanya bisa melihat Uta berjalan makin menjauh dari tempatnya berada. Setelah Uta berlalu masuk, barulah ia kemudikan si hitam pergi dari sana.


Bersambung ............


_____________ Z _____________


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2