Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
2. Actor Hollywood


__ADS_3

Author POV


“Lo lagi ngumpet?” Tanya seseorang yang berada tepat di belakang Uta tiba – tiba.


“Husttt… jangan berisik entar ketahuan.” Ucap Uta tanpa menoleh. Pandangannya terus mengeker Pak Akbar. Jadilah ia masih tak sadar ada orang asing di sampingnya, akibat terlalu fokus melihat Pak Akbar memeriksa atribut siswa, dengan tongkat panjang yang selalu di bawanya.


Belum lagi mata elang guru killer itu menatap sekitar area gerbang, memastikan tak ada siswa siswi yang atributnya tak lengkap, putar balik untuk sembunyi. Maka Uta wajib memantau kemana arah pandang pak Akbar. Jangan sampai ia dan guru killer itu bertemu pandang.


“Kenapa lo gak masuk ke sekolah? Malah ngumpet disini.” Tanya orang dibelakangnya lagi.


“Dasi gue ketinggalan, gue belum siap dihukum kayak yang lain itu.” Jawab Uta tanpa berpikir, sambil menunjuk siswa siswi yang sedang dihukum pak Akbar. Akibat tertekan, suaranya sampai jadi pelan bagai bisikan.


“Wah berat ni, udah ga pake dasi, ditambah telat lagi. Lo lihat jam deh, tujuh menit lagi pagar bakalan ditutup.” Ucap orang itu lagi.


“WHATTTT???!!” Spontan Uta langsung balik badan.


BRUGHHH…!!!


Ia tak sengaja menabrak tubuh seseorang, yang sejak tadi bicara dibelakangnya.


“Aww kaget gue… Sorry sorry maaf, gue gak senga ...ja.” Ucap Uta, terkagum melihat laki-laki didepannya saat ini.


Gila ni orang ganteng banget kayak actor Hollywood. *Uta


Bagaimana tidak, pria yang ia tabrak itu berperawakan bule, dengan tubuh tinggi atletis. Memiliki rahang yang tegas, bola mata dengan warna abu abu gelap dibingkai dengan bentuk mata yang bagus, disertai alis mata yang tebal sangat kontras dengan kulit putihnya.


Tak cukup sampai disitu, tulang hidung yang tinggi, membuat hidung mancung pria itu jelas terlihat oleh siapapun. Bibir yang tak terlalu tebal namun bervolume, melengkapi wajah tampan nan rupawan itu. Semua anugerah dari Tuhan tersebut, dibingkai oleh bentuk wajah tegas yang memberikan kesan seksi.

__ADS_1


“Lo ga papa? Maaf gue gak sengaja, gue buru-buru, gue duluan yak.” Ucap Uta mengakui kesalahannya, kemudian cepat-cepat memutar arah ke gerbang sekolahnya, karena takut gerbang sekolah keburu ditutup. Ia juga sengaja berjalan tergesa, agar memutus secepat kilat interaksi dengan cowok ganteng yang tak ia kenal itu.


“Tunggu.” Ucap laki-laki tampan itu lagi. Barulah kali ini Uta menyadari suara berat bariton yang dimiliki si laki laki misterius. Sedari tadi rupanya ia terlalu fokus dengan guru killer, sampai tak sadar lawan bicaranya memiliki suara favorit kebanyakan kaum hawa. Uta spontan berhenti dan berbalik badan.


”Kenapa? Ada yang luka? Sorry banget gue gak seng…” Laki-laki tampan itu, tiba tiba memasangkan dasi yang entah darimana di leher Uta. Uta yang tak siap karena laki laki di depannya ini tiba tiba mendekat, membuatnya refleks menutup matanya.


“Lo mesti pake dasi, kalo mau masuk tuh gerbang dengan aman.” Ucap laki laki itu sambil merapikan kerah seragam Uta setelah dasi terpasang rapi.


Duh ini orang tiba-tiba banget!! Gue juga ngapain pake merem segala sih! Pasti dia mikir gue aneh banget kalo gini. *Uta


“Mau sampe kapan lo merem kayak patung disini? Gak jadi ke sekolah?” Ucapan laki- laki itu, menyadarkan Uta kembali ke kesadarannya.


Dipandanginya lagi laki-laki tampan itu dengan seksama. Jujur Uta bingung, rasanya ia tak pernah melihatnya di area sekolah. Lalu bagaimana bisa laki-laki itu memiliki dasi atribut sekolahnya, sementara dia tak sama sekali memakai seragam Z1. Lantas darimana datangnya dasi itu?


"Buruan masuk!" Ucap laki laki itu, sambil menjentikkan jari yang bunyinya menyadarkan Uta.


"Thank you." Ucapnya cepat, lalu berlari menjauhi gedung serbaguna itu. Ia malu sendiri dengan dirinya. Langkahnya secepat kilat menuju gerbang sekolah yang hampir tertutup.


“Yaudah cepetan masuk, upacara mau dimulai” Ucap guru killer itu.


“Iya pak, permisi pak.” Buru buru Uta menuju kelasnya, mengambil topi dan menaruh tas dengan serampangan di bangkunya, demi menghemat waktu. Ia langsung bergegas menuju lapangan tepat bersamaan dengan bel tanda upacara akan dimulai. Terlihat teman sekelasnya sudah membuat barisan, ia pun langsung mengisi barisan belakang.


“Tumben bener lo Ta datang kesiangan? Lo gak kenapa napa kan dijalan?” Tanya Reta pelan, yang tak lain sahabat dari Uta. Reta rupanya sengaja baris di area belakang, karena tak mendapati Uta berada di barisan depan. Ia punya feeling sahabatnya itu akan datang mepet waktu.


“Panjang ceritanya… entar gue ceritain deh.” Mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk tanda ‘suer’, yang biasa orang orang lakukan untuk meyakinkan lawan bicara. Dan benar saja, Reta yang kepo itupun berhenti mengintrogasi Uta. Mereka fokus mengikuti Upacara bendera seperti biasanya.


Setelah 45 menit berlalu, barulah rangkaian upacara selesai. Semua guru dan siswa bubar keruangan masing-masing. Begitupun Uta dan Reta langsung memasuki kelas mereka.

__ADS_1


Terlihat berbagai aktifitas anak dikelas itu. Ada yang sibuk mengipas wajah yang terpanggang panas matahari pagi dengan topi. Ada yang minum air dengan rakus. Ada yang sibuk cari tissue, guna menyeka bulir bulir keringat. Ada pula yang tidur dilantai supaya badan adem. Maklumlah, posisi barisan kelas 3 memang sangat strategis untuk merasakan hangatnya sang surya.


Sementara itu wanita paruh baya tengah berjalan menuju kelas 2 IPA-2. Tepat dibelakangnya, ada seorang siswa laki laki mengikuti langkahnya.


“Woy buruan duduk rapih lo semua, Bu Meta terlihat di radar, siaga 1 nih.” Ucap Abdur si ketua kelas. Semua penghuni kelas itu yang tadinya pada absurd gak jelas, langsung bergegas ke kursi masing masing. Mendengar kata ‘Bu Meta’ membuat mereka langsung sadar, bahaya akan datang mengancam jika mereka tak langsung ke posisi rapih.


Tak lama masuklah seorang wanita dengan aura mengancam yang terpancar jelas. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Bu Meta, wali kelas 2 IPA-2.


“Selamat pagi semuanya.” Ucap Bu Meta.


“Selamat pagi Bu.” Ucap mereka bersamaan.


“Hari ini hari pertama di semester genap, sebelum kalian naik kelas ke kelas 3. Kalian harus tetap semangat belajar dan jangan sampai prestasi kalian menurun, paham semua?” Ujar beliau santai, tapi mendengar mencekam di telinga semua siswa.


“Paham Bu.” Jawab semua anak bersamaan.


“Satu lagi, hari ini kalian kedatangan teman baru, murid pindahan dari Bali. Ibu harap kalian bantu dia untuk adaptasi kedepannya, paham semua?” Ucap Bu Meta dengan tegas dan tak terbantahkan.


“Paham Bu.” Jawab mereka bersamaan lagi. Meski tenang, tapi dalam hati mereka kepo siapa murid baru yang dimaksud Bu Meta.


“Alber silahkan masuk.” Ucap bu Meta sembari menatap kearah pintu kelas. Murid baru itupun memasuki kelas dan berdiri di sebelah bu Meta. Semua mata tertuju pada murid baru tersebut, khususnya perempuan diruangan itu, mereka benar benar terpesona dengan murid baru itu. Tapi tidak dengan satu orang. Uta. Gadis itu tampak sangat terkejut.


Dia kan… *Uta.


Bersambung .......


...___________ Z ___________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2