Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
141. Janji


__ADS_3

Author POV


Alber menunggu Uta di basecamp Uta. Tempat yang gadis itu dan teman-temannya dulu biasa menghabiskan waktu. Sebenarnya ia ingin sekali menemui Uta dikelasnya sekarang, tapi gadis itu memberi tahu Alber untuk mereka bertemu disana saja, agar tak banyak anak-anak yang melihat dan jadi makin salah paham.


Ia berdiri gelisah menunggu Uta datang. Kedua tangan menyilang di depan dada untuk sedikit mengurangi kegugupan. Hingga orang yang di tunggunya datang dan berjalan mendekat. Sebersit senyum lega terukir di rahang tegasnya.


"Ta, kamu gak apa-apa kan? Dari kemarin sore aku kepikiran pas tau kabar itu. Are you oke Ta?" Ujar Alber lembut pada Uta yang kini berdiri di hadapannya. Ditatapnya Uta dalam-dalam, menelisik di kedua bola mata indah gadis itu, ia benar baik-baik saja atau sebaliknya.


"Ya aku baik-baik aja. Jangan khawatir Ber. I'm okey." Jawab Uta menatap Alber tak kalah serius. Ia ingin Alber berhenti khawatir.


"Ta aku mau minta maaf sama kamu. Bagaimana pun itu kesalahan aku juga. Andai aja kemarin aku gak ngajak kamu anter titipan Annem, pasti kamu gak akan diserang seperti ini." Ujar Alber penuh rasa bersalah. Ia benar-benar merasa bersalah Uta sampai terseret fitnah ini. Andai ia saja yang masuk mengantar titipan Annem, mungkin ceritanya akan beda. Uta tidak akan dihujat oleh anak-anak seperti ini.


"Udahlah Ber, toh aku ikut dengan sukarela. Bukan karena paksaan siapa-siapa. Gak perlu merasa bersalah." Ucap Uta lagi. Ia menggelengkan kepala karena tak setuju Alber menyalahkan sepenuhnya dirinya, atas isu yang terjadi sekarang.


"Aku masih berusaha mencari siapa orang yang mengikuti dan memotret kita kemarin. Aku juga masih melacak siapa pengunggah foto itu di web Z1. Tapi aku minta kamu sabar ya Ta, sepertinya aku butuh waktu karena orang ini lihai sekali. Ga apa-apa kan?" Jelas Alber sungguh-sungguh.


Sebenarnya ia bisa saja meminta bantuan Babam untuk menyelidiki masalah ini agar selesai lebih cepat. Tapi Alber khawatir orang tuanya ikut salah faham karena terhasut omongan jahat yang bertebaran disana. Ia tidak ingin Uta jadi dipandang buruk orang tuanya meski hanya setitik. Jadilah Alber menggunakan koneksi yang ia kenal, tanpa sepengetahuan Babam dan Annem. Dan itu memakan waktu lebih.


"Ehm ... Gak papa. Tapi gak usah terlalu memaksakan diri Ber. Kita sudah tingkat akhir. Lebih baik fokus kamu gak kepecah karena persoalan yang gak penting ini." Ucap Uta, mencoba membawa Alber ke perspektif lain yang memang kewajiban utama mereka.


"Gak bisa Ta! Bagi aku ini penting. Orang-orang mencemooh kamu luar biasa jahat. Aku harus temuin orang yang menebar fitnah ini. Bila perlu aku akan seret dia ke pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Alber tak kalah tegasnya. Sikap tak mau dibantah itu jelas terlihat di wajahnya.


"Gak perlu Ber. Kamu gak perlu ngabisin pikiran dan waktu kamu untuk nyelesaiin masalah sepele begini." Jawab Uta tak kalah sengit. Baginya, usaha Alber terlalu berlebihan jika sampai mengganggu aktifitas lain hanya untuk itu.


"Enggak, gak bisa Ta!" Ucap Alber dengan intonasi berat. Tak ada nada persetujuan sedikitpun disana.

__ADS_1


"Kenapa Ber? Please kamu dengar omongan aku sekali ini." Ucap Uta bahkan sampai memohon pada Alber, agar hati laki-laki itu melunak.


"Karena masalah ini tentang kamu. Aku gak bisa tinggal diam aja. Kamu terlalu berharga untuk aku, karena aku jatuh cin ..." Ucap Alber dengan intonasi tegas namun sorot matanya melembut. Ia yang tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya terhadap Uta, memilih menyatakan isi hatinya. Namun belum selesai pengakuan itu terucap, Uta keburu memotong pernyataan cinta Alber.


"Aku balikan dengan Kak Felix." Ucap Uta to the point tanpa basa basi, tepat sebelum Alber tuntas menyatakan seluruh isi hatinya.


DEG ....


Alber mencoba mencerna perkataan Uta yang barusan gadis itu katakan.


"Mak ... maksud kamu apa?" Tanyanya terbata mendengarkan kenyataan yang selama ia takutkan.


"Aku udah balikan dengan Kak Felix. Kami memutuskan untuk kembali berpacaran. Itu sebabnya Ber, kamu gak perlu pusing nyelesaiin permasalahan ini. Terserah orang mau bilang apa, selama kak Felix percaya sama aku, itu sudah cukup." Ujar Uta lagi.


Perasaan Alber bagai di hujam sebilah pedang kala mendengar ucapan Uta. Momok yang selama ini menghantuinya, hari ini menjadi nyata dan memukulnya terlalu dalam.


"Bukankah kamu bilang ingin move on dari dia? Kenapa kamu berubah pikiran?" Ucap Alber dengan masih berharap ada secuil asa tersisa.


"Aku gak bisa Ber. Aku gak bisa move on dari Kak Felix. Aku terlalu mencintainya. Aku gak bisa nencintai laki-laki lain selain dia."


DEG .....


Ucapan Uta yang begitu mengoyak-ngoyak perasaan Alber.


"Tapi dia pernah menyakiti kamu. Dia memboho ..."

__ADS_1


"Itu sudah masa lalu dan aku sudah memaafkannya. Kehilangan cinta Kak Felix jauh lebih menyakitkan ketimbang memaafkan kesalahannya dulu. Aku gak bisa Ber, aku gak bisa hidup tanpa dia." Ujar Uta begitu sedih. Bulir bening bahkan menyeruak keluar dari bola matanya. Alber yang menyaksikan Uta saat ini, makin dibuat nelangsa tak berdaya. Lidahnya kelu hingga tak ada kata yang terucap satu katapun.


"Aku minta sama kamu, kita gak usah berinteraksi lagi. Aku gak mau kak felix mikir gosip ini bener. Kita udah berjanji untuk saling menjaga kepercayaan, dan aku gak mau merusak janji itu. Kedepannya lebih baik untuk kita saling jauh. Menghindarkan ada gosip-gosip lain tercipta." Ucap Uta menatap lurus Alber yang diam tercenung.


"Apa kamu bahagia bersamanya?" Tanya Alber dalam.


"Ya, hanya Kak Felix kebahagiaanku. Hanya dia Ber. Aku bahagia bersamanya." Ucap Uta tanpa ragu.


DEG .....


"Baiklah, jika kamu hanya bahagia dengan Felix. Aku akan mendukung kebahagianmu. Berbahagialah Ta. Kamu pantas untuk itu. Berjanjilah padaku, bersamanya hanya ada tawa. Jangan pernah menangis untuk hal apapun." Ucap Alber tulus dari hati yang terdalam, meski hatinya kini hancur terhantam kenyataan.


"Ya, aku berjanji." Ucap Uta menatap Alber.


Alber yang yakin kedua bola mata itu tak main-main saat mengatakan janjinya, akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang mungkin jadi pertemuan terakhirnya. Tempat terakhir ia bisa berinteraksi dengan Uta. Ia sudah berjanji untuk memenuhi permintaan Uta walau hatinya remuk.


Gadis itu bahagia bersama Felix. Hanya seorang Felix yang menjadi kebahagiaannya. Maka, ia sudah bertekad untuk mundur akan perasaannya. Asalkan Uta bahagia, itu sudah lebih dari cukup, pikir Alber.


Bersambung .............


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ Z \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



ZEROIND

__ADS_1


__ADS_2