![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Lanjutan Flashback
Alber POV
Penyesalan keduaku muncul, usai aku meninggalkannya sendiri di sana dan pergi pulang. Aku merasa tak berdaya, ego benar-benar menguasaiku hari ini.
Tak sampai di situ, esok harinya. Aku yang menentukan jam bertemu, sengaja datang terlambat ke cafe Z. Meski sebenarnya, 30 menit sebelum waktu yang ditentukan, mobilku sudah terparkir tak jauh dari cafe. Hal itu kulakukan semata-mata agar Uta menghubungiku dan aku memiliki nomor kontaknya.
Segala pergerakan Uta terpantau jelas oleh kedua mataku. Hingga hampir 1 jam aku duduk di mobil, sebuah pesan masuk. Uta mengirimkan pesan bahwa, dirinya sudah berada di cafe Z sejak tadi. Ia juga mempertanyakan, apakah janji temu ini perlu diatur ulang.
Tak perlu waktu lama, kubalas bahwa aku akan segera tiba di sana. Aku pun berjalan keluar dari mobil dan segera memasuki cefe. Aku lantas duduk di hadapannya. Kulihat, dua gelas cangkir kosong terletak anteng di atas meja.
Saat kami akan membicarakan perihal proyek, sebuah telepon masuk dan membuat pembicaraan berhenti. Abla menelpon untuk memintaku mengantarnya ke dokter kandungan malam nanti. Abla terpaksa memintaku, disebabkan Bang Tibar sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Rencananya, beliau baru akan pulang tiga hari lagi.
Telepon baru terputus, setelah aku berjanji mengiyakan permintaan Abla. Obrolan dengan Uta pun berlanjut. Namun betapa kagetnya aku, saat Uta meminta untuk mengakhiri kerja sama denganku. Setidak suka itukah dia berinteraksi denganku? Ataukah gadis itu membenciku? Kenapa dia sampai terpikir untuk memutus kerjasama ini?
Aku memutar otak, mencari segala cara agar keinginannya itu tak terwujud. Hingga pasal penalti yang mengharuskannya membayar ganti rugi berkali-kali lipat, menjadi penyelamatku.
__ADS_1
Akhirnya Uta memilih melanjutkan kerja sama ini, meski dengan berat hati. Ia lantas pamit pulang saat itu juga. Namun ku sadari satu hal. Uta terlihat agak pucat. Keringat yang sedari tadi hanya di sekitar pelipisnya, kini menyebar membasahi lehernya.
Detik itu juga, instingku mengatakan Uta tak baik-baik saja. Aku lantas bangkit dari tempat duduk untuk mengejarnya. Benar saja, kulihat ia sedang bersandar di dinding tembok cafe sambil memegang perutnya. Wajah cantik itu tampak meringis menahan sakit.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menggendongnya. Berkali-kali ia berontak, namun untungnya ia gagal membelot tubuh ini. Ku dudukkan Uta di kursi samping kemudi. Debaran jantungku kembali bergemuruh saat wajahku dan wajahnya terlampau dekat. Bahkan deru nafasnya terasa lembut di pipiku. Andai aku tak ingat Uta sedang kesakitan sekarang, sudah pasti aku betah berlama-lama di posisi itu.
Kututup pintu mobil Uta duduk, lalu secepat kilat berjalan ke kursi kemudi. Kuarahkan setir mobil ke rumah sakit terdekat dari cafe Z berada. Tak lupa kukirimkan pesan pada Baris, asistenku bahwa aku menuju rumah sakit sekarang.
Entah apa yang Baris lakukan, tapi kinerjanya kali ini benar-benar membuatku ingin memujinya. Saat aku tiba, para dokter langsung sigap menangani Uta. Tanpa banyak kata terucap, tampaknya mereka sudah paham, untuk memberikan fasilitas serta tindakan medis terbaik pada Uta.
Gadis itu lantas meninggalkan ku terlebih dahulu dari ruangan. Pertengkaran kembali terjadi, saat aku marebut kertas resep obatnya. Entah kenapa aku tak suka ia terus memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Kutekankan padanya untuk kembali berbicara santai padaku.
Ia jelas terlihat sebal. Bahkan wajah cantik itu tanpa sadar ia tekuk karena kesal. Namun aku tak peduli. Yang jelas aku ingin mendengarnya bicara santai denganku. Kuberikan kertas resep tersebut kepada Baris yang baru sampai. Aku kemudian menarik tangan Uta agar ia mengikutiku.
Aku membawanya ke sebuah restoran mewah yang terkenal akan kelezatan makanannya. Namun Uta yang kesal, tampak tak menyentuh satupun menu yang tak terhidang. Rupanya ia ingin pulang.
Mengetahui ia sakit karena stress berat, mebuat egoku terkikis habis. Aku meminta maaf padanya. Aku juga mengaku perilaku ketus ku terdorong karena rasa kecewa. Sama sekali bukan karena niat jahat atau benci padanya.
__ADS_1
Diluar dugaan, Uta juga meminta maaf padaku. Meski ia belum menjelaskan alasan kenapa ia pergi tanpa pamit, tapi tak apa. Aku memilih tak mencecarnya lebih jauh. Aku menghargai permintaan maafnya. Kupikir masih ada banyak waktu, aku akan bersabar menunggu penjelasan itu.
Seusai lega mengungkapkan kegundahan masing-masing, barulah Uta mau makan. Aku berinisiatif untuk mengantarnya pulang, namun ia menolakku dengan tegas. Tapi bukan penolakan itu yang membuatku terkejut. Melainkan alasan mengapa ia menolakku. Gadis itu mengira aku adalah suami orang lain. Uta berpikir aku sudah menikah. Bagaimana bisa ia berpikir begitu?
Rupanya ia salah paham tentang telepon di cafe tadi. Kutelpon ulang Abla yang jadi biang kerok kesalah pahaman ini bisa terjadi. Hingga pipi chubby itu merah merona saat Abla meluruskan segalanya. Entah kenapa aku jadi ingat perkara 'burung' saat di Ragunan dulu. Kasusnya tak jauh berbeda dengan saat ini.
Seusai kesalah pahaman ini clear, Uta akhirnya pasrah kuantar pulang.
Flashback ends
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
❤
ZEROIND
__ADS_1