Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
18. Speechless


__ADS_3

Alber POV


"Permisi tante. Halo saya Alber, temannya Uta yang barusan nganterin kesini." Ucapku menyapa Ibunda dari Uta. Aku salim beliau dengan mencium tangan, seperti layaknya Uta menyalim Ibunya tadi. Meski sudah punya anak kelas 2 SMA, beliau masih tampak awet muda. Wajah ramah beliau terpancar meski ini pertama kalinya aku bertemu beliau. Tampak beliau ini orang yang menyenangkan dan positif vibes.


Aku masih bisa menangkap keterkejutan beliau, mungkin karena ini pertama kalinya kami bertemu. Namun yang paling terkejut sudah pasti gadis chubby di sampingku. Ia syok karena aku disini. Mungkin dia pikir tadi aku langsung pulang selepas ia turun dari mobilku.


"Oh iya nak Alber. Kenalin juga saya Celine Mamahnya Uta. Terima kasih ya, sudah anterin Uta selamat sampai ke rumah. Uta kok gak pernah cerita temannya mau main kerumah??" Ucap Tante Celine ramah padaku. Beliau sedikit protes yang dibalut dengan pertanyaan kepada putri semata wayangnya itu.


Maklum, para Ibu biasanya protes kalau anaknya tak bilang kalau temannya mau datang kerumah. Bukan apa apa, namanya Ibu- ibu maunya mempersiapkan banyak makanan untuk disantap, jika teman teman anaknya kerumah. Kalau bisa seluruh isi kulkas keluar, para Ibu senang senang saja.


"Ini yang tadi Uta bilang murid baru di Z1 Mah, teman kerja kelompok Uta tadi." Berusaha menjelaskan tentang diriku secara singkat ke Mamahnya. Rupanya ia memanggil Ibunya dengan sebutan Mamah.


"Oh nak Alber toh, siswa baru yang barusan Uta bilang. Masuk dulu nak Alber, Tante tadi bikin brownies. Monggo dicobain dulu." Ucap Tante Celine ramah padaku, tanpa peduli anaknya yang masih bingung dengan situasi ini. Tampak rasa penasaran beliau yang sedikit mulai terjawab.


"Ah iya Tante, izin masuk ya Tante." Ucapku mengiyakan ajakan Tante Celine. Kutengok gadis disampingku yang terbengong bengong dengan apa yang terjadi.


"Iya masuk deluan, Tante siapin brownies sebentar. Uta bawa temannya masuk kedalam, Mamah ambil brownies bentar." Tante Celine pergi hendak menyiapkan brownies, meninggalkan aku dan Uta berdua di halaman.


Uta menatapku tajam saat aku menoleh ke arah gadis itu. Dapat ku tangkap gadis di sampingku hampir muncul tanduk karena super kesal. Terlebih ia pasti melihat wajahku yang tanpa bersalah sama sekali.


"Ehem ... Ehem ... Ta gue cuma ngikutin kata kata lo tadi. Kata lo tadi 'kapan kapan mampir ke rumah Ber'. Terus gue mikir kapan ya? kayaknya sekarang aja deh, gitu Ta." Ucapku mencoba membela diri. Gadis itu menghela nafasnya, mencoba membuang kekesalannya ke udara, membuatku mati matian menahan tawa. Wajahku harus tetap serius, agar ia tak tambah kesal padaku.


Diberikannya kode agar aku mendekat kearahnya. Aku otomatis mendekatkan diri kearahnya, sesuai arahan kode itu.

__ADS_1


"Lo paham gak, kalau tadi itu cuman basa basi." Bisiknya di telingaku. Kembali tawaku hampir pecah karena kata katanya.


"Ta jangan lupa gue berdarah Turki, jadi belum ngeh sistem basa basi ala Indo." Bisikku balik ke telinga Uta. Gadis itu langsung membuang nafas berat sambil memegang area dahinya, pertanda pusing mendengar alasanku barusan.


"Gue lupa dia ada Turki Turkinya. Hemhh ... Welcome ... welcome to my house mister Alber." Sarkasnya dengan wajah tersenyum, tapi kesal setengah mati kearahku, membuatku terkekeh kecil. Aku tak mampu lagi menahan diriku untuk tak tertawa. Aku berjalan mengikuti gadis itu ke rumah mungilnya yang asri.


Tentu saja itu hanya alasan yang paling masuk akal yang bisa aku buat. Aku sangat paham dengan kata basa basi yang Uta maksud. Aku memang berperawakan Turki, tapi diriku dan keluarga sudah menjadi orang Indonesia bahkan sejak generasi eyang buyutku.


Jauh sebelumnya para buyutku sudah jatuh cinta dengan Indonesia dan menetap di negeri indah ini, bahkan sudah berganti kewarganegaraan Indonesia. Lebih tepatnya aku orang Indonesia sejak lahir, namun memiliki garis keturunan Turki. Wujud ku memang Turki, tapi jiwa dan hatiku Indonesia.


"Assalamualaikum." Ucapku saat masuk ke rumah Uta. Tak lupa ku lepaskan sepatu sebelum memasuki rumah, sama seperti yang Uta lakukan. Salah satu budaya di Indonesia sebagai tanda respect kita ketika bertamu ke rumah orang.


"Waalaikumsalam, duduk Ber." Uta mempersilahkan aku duduk di area meja makan mereka. Kupikir mungkin Uta sengaja tak menyuruhku duduk di sofa ruang tamu mereka, mengingat tadi tante Celine sedang mengambilkan brownies yang beliau buat sendiri untukku. Dan benar saja, tak lama Tante Celine datang tiba tiba dengan membawa nampan besar.


Mulai dari satu piring besar brownies coklat yang sudah dipotong kecil kecil. Semangkuk mi goreng seafood ukuran sedang. Belum lagi satu piring datar penuh berbagai gorengan, untuk melengkapi mi goreng. Sebuah toples berisi kerupuk dan toples kaca kecil berisi sambal, yang beliau tarik dari ujung meja makan ke hadapanku. Tak lupa beliau juga menyertakan piring kecil, sendok, garpu biasa, garpu mini untuk brownies, bahkan sepasang sumpit untuk ku pergunakan menyantap makanan.


"Ma ... Makasih Tante." Aku sampai speechless dengan makanan yang terhidang di depanku. Bukankah tadi Tante Celine hanya bicara tentang brownies? Lalu kenapa jadi satu set hidangan begini? Aku sampai bengong sesaat. Bagaimana tidak, aku dan Uta sudah makan seporsi tongseng kambing, lengkap dengan nasi sebelum kita kemari.


Selamat mister Alber si paling Turki. Bravo bravo. Wkwkwkw.*Uta


Kulihat Uta melihat ke arahku sambil menahan tawa. Aku yakin gadis itu dalam hati menertawakan reaksiku yang sampai tak bisa berkata-kata.


"Mah Uta naik bentar ya Mah. Gue tinggal bentar ya Ber." Ucap Uta ke Tante Celine juga diriku. Ia pun langsung melengos naik ke atas sambil menahan tawa, meninggalkanku dibawah hanya dengan Tante Celine. Aku yakin, Uta sudah hafal kebiasan Mamahnya dalam menjamu tamu. Ya, itu alasan paling masuk akal kenapa dirinya hampir tertawa melihat reaksi kagetku.

__ADS_1


"Ayok dimakan Ber." Ucap Tante Celine.


Bersambung ............


..._____________ Z _____________...


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.


Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.






...Novel + Cookies \=...


...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...


__ADS_1


ZEROIND


__ADS_2