![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Maksudnya apa??" Mendengar itu otomatis Alber bingung. Ia diam sejenak, menunggu penjelasan Uta lebih lanjut. Setidaknya ia tak sepanik dan sekaget tadi.
"Kakak senior tadi, mantan gue." Akhirnya terjawab sudah teka-teki yang Alber bingungkan.
_____________ Z _____________
Flashback starts
"WHAT??? Lo udah jadian sama kak Felix???" Teriak Reta yang kaget mendengar pengakuan Uta, bahwa ia telah resmi berpacaran dengan Felix, senior mereka. Uta malah mengangguk malu-malu. Untung saja saat ini mereka berada di basecamp mereka, tepat di belakang sekolah seperti biasanya. Jika tidak, Uta yakin semua orang akan melihat ke arah mereka, karena suara lengkingan Reta.
"Gue nggak setuju sama tuh cowok!!! Dia gak tulus sama lo Ta!!" Ucap Edgar, keras menyatakan ketidak setujuannya atas hubungan itu. Dilihat dari ekspresi wajahnya, nampak jelas Edgar tak sedang bercanda. Padahal selama ini Edgar adalah salah satu orang terdepan, yang selalu mendukung Uta apapun yang gadis itu lakukan.
"Mungkin karena lo belum mengenal Kak Felix Gar. Kak Felix pria yang baik Gar." Ucap Uta memberikan pembelaan atas tuduhan tak berdasar sahabatnya itu. Jujur Uta juga kaget dengan reaksi Edgar sekarang. Ia mendadak gamang, sebab ia tak ingin menyakiti ataupun membuat Edgar marah.
"Percaya sama gue Ta. Laki-laki modelan begitu, pasti punya maksud dibaliknya. Gue yakin, dia cuman mau mempermainkan lo doang." Ucap Edgar menentang keras Uta dan Felix. Entah atas dasar apa Edgar mengatakan hal itu, tapi Edgar tak main-main dengan ucapannya.
"STOP!! Jangan negatif thinking sama Kak Felix berlebihan Gar. Siapa tau dia memang pria yang baik. Biarin Uta bahagia dengan pilihannya." Ucap Reta membela keputusan Uta. Ia tak tega melihat keceriaan sahabatnya itu perlahan sirna, karena Edgar menentang keras pilihannya. Mendengar hal itu membuat Edgar bertambah kesal, ia memilih pergi meninggalkan Uta dan Reta.
"Omongan Edgar barusan nggak usah terlalu dipikirin Ta. Ikutin hati lo aja. Lo yang paling tahu, apa yang terbaik dan bikin hati lo bahagia." Ujar Reta menenangkan sahabatnya, agar tak sedih mendengar ucapan Edgar. Reta merasa sahabatnya berhak memutuskan apapun untuk dirinya.
__ADS_1
"Makasih ya Re, lo udah percaya gue." Ucap gadis itu lebih lega karena support Reta. Mereka saling berpelukan, melepaskan segala kegundahan masing-masing.
2 minggu sudah Uta dan Felix berpacaran. Layaknya wanita yang sedang jatuh cinta, penampilan Uta kian hari kian feminim. Ia juga mulai untuk berdiet agar tak terlalu gendut. Ia tak ingin Felix malu, karena berpacaran dengan wanita yang gendut.
Meskipun Felix tidak pernah sekalipun komplain tentang fisik gemuk Uta, Uta tetap berinisiatif menurunkan berat badan. Justru sebaliknya, Felix selalu memotivasi untuk jangan insecure. Felix selalu menyemangati saat Uta menjalani diet. Ia bahkan sering kali mengingatkan Uta, untuk tidak diet terlalu ekstrem agar tak jatuh sakit.
Ini salah satu alasan yang membuat Uta bersedia saat Felix mengajaknya berpacaran. Uta jatuh hati bukan karena paras ataupun kepopuleran Felix sebagai idola sekolah, melainkan karena kepribadian Felix yang sangat baik.
Laki-laki itu seolah tak pernah mempermasalahkan kekurangan Uta yang memiliki fisik gendut dan wajah yang mungkin tak secantik siswi-siswi yang lain. Bahkan Felix tak malu menggandeng Uta di depan teman-temannya atau saat mereka berjalan ke pusat keramaian. Laki laki itu tak peduli dengan suara-suara sumbang yang mengejeknya, karena memiliki pacar gendut.
Uta juga jadi sering membawakan bekal makanan untuk Felix, bukan dalam agenda catering, melainkan inisiatif dirinya sebagai bukti rasa sayang untuk pacarnya itu. Menu apapun yang Uta bawakan, Felix selalu menghargai nya, tak pernah sekalipun ia komplain, bahkan Felix selalu memakannya dengan lahap.
Selama satu bulan ini, pasangan sejoli itu kompak untuk berangkat dan pulang bersama. Uta yang seringkali berangkat dan pulang bareng Edgar, kini berganti pulang pergi dengan kekasihnya itu. Felix senantiasa menjemput dan mengantar Uta pulang.
Meskipun Uta sering kali bilang, ia bisa berangkat dan pulang sendiri dan tak ingin merepotkan Felix, tetap saja sang kekasih kekeh menjemput dan mengantar Uta. Felix mengatakan itu tidak merepotkan sama sekali, justru ia senang kalau bisa menghabiskan waktu bersama dengan Uta.
Hari demi hari begitu cepat berlalu. Tak terasa tiga bulan sudah Felix dan Uta menjadi sepasang kekasih. Mereka di sekolah begitu lengket dan sulit dipisahkan. Dimana ada Felix di situ ada Uta.
Tak jarang mereka menghabiskan weekend dengan nonton film di bioskop, ke toko buku favorit Uta atau sekedar makan di kafe atau restoran yang sedang hype. Dan Felix selalu memperlakukan Uta bak ratu, membuat gadis itu selalu nyaman berada di samping Felix.
Penampilan Uta pun kian hari semakin baik. Terjadi penurunan berat badan walau tak drastis. Badan yang tadinya sangat amat gemuk, perlahan mulai menurun dan tak segemuk awal. Usahanya menurunkan berat badan, nampaknya mulai berbuah manis. Dalam tiga bulan ini, Uta sudah berhasil menurunkan kurang lebih 7 kg dari berat badan awal.
__ADS_1
Meskipun perjalanan dietnya masih jauh, tetapi paling tidak ia senang karena dietnya tak sia-sia. Ia sudah bertekad akan terus konsisten untuk mengatur pola makan dan rutin berolahraga, sampai dengan mencapai berat badan ideal, semata-mata karena Felix. Meskipun Felix tidak pernah menuntut dirinya mesti kurus, tapi tetap saja ia tak ingin Felix sampai malu memiliki pacar gendut.
Seringkali juga Uta menemani Felix latihan dan tanding basket, baik di internal sekolah maupun saat mewakili Z1 bertanding antar sekolah. Sama seperti Edgar, Felix juga merupakan atlet basket kebanggaan Z1.
Bahkan Uta sering kali menjadi suporter Felix, saat tim Felix melawan tim Edgar pada pertandingan basket internal sekolah. Tak ada maksud apa-apa, Uta berpikir setidaknya Edgar sudah pasti disupport oleh Reta, sehingga tak apa jika Uta mensupport Felix, setidaknya dukungannya jadi berimbang.
Meskipun Edgar sampai detik ini tak menyetujui hubungan mereka, tapi Uta bersyukur, setidaknya persahabatan mereka tetap baik. Walaupun setiap kali ia dan Felix berpapasan dengan Reta dan Edgar, selalu saja mimik wajah Edgar tampak jelas tak menyukai kehadiran Felix.
Kadang Uta tak enak hati dengan kekasihnya itu, tapi Felix selalu saja mengatakan tak apa-apa, karena dirinya tak pernah mengambil hati penolakan Edgar padanya. Felix justru selalu menenangkan Uta, mengatakan semuanya baik-baik saja.
Jujur, seringkali Uta merasa serba salah ke Felix tiap kali sahabatnya itu melontarkan kalimat, yang menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terangan mengenai Felix. Satu sisi ia tak enak dengan Felix, tapi di sisi lain ia coba memahami Edgar, yang melakukan itu karena sayangnya sebagai seorang sahabat.
Ia mencoba tetap menghargai pendapat sahabatnya itu, sembari menjelaskan baik-baik kepada Felix. Dan bersyukur pacarnya itu terlalu bisa bersikap dewasa dan selalu bisa sabar.
Bersambung ............
_____________ Z _____________
❤
ZEROIND
__ADS_1