Uta & Alber [END]

Uta & Alber [END]
171. Khawatir


__ADS_3

Author POV


"Ayo kita menikah." Ucap Alber membuat Uta menoleh. Alber yang dari tadi memejamkan mata, kini membuka matanya. Membuat dirinya saling berpandangan dengan Uta.


"Ayo ..." Jawab Uta. Satu kata yang membuat Alber langsung bangkit dari senderan dan duduk tegap. Matanya membulat mengiringi ritme jantung yang berpacu kencang dalam dadanya. Tangan yang tadi ia pegang lembut, kini ia genggam lebih kencang. Ditelisiknya mata indah gadis pemilik hatinya itu. Uta menerima ajakannya menikah?


"Ayo kita ke dokter." Jawab Uta menghancurkan harapan Alber yang sudah terlanjur membumbung tinggi, beberapa detik yang lalu.


"Heahhhhhhhh ..." Alber hanya bisa menarik nafas panjang. Laki-laki itu kembali menyenderkan badannya sambil tetap menggenggam tangan kiri Uta. Hanya saja ia memilih sandaran sofa sebagai penyangga berat tubuhnya.


"Kayaknya demam kamu ini mesti diperiksain ke dokter deh." Ucap Uta kembali mengecek panas tubuh Alber dengan menyentuh leher dan rahang tegas laki-laki itu.


"Aku cuman demam Ta, bukan geger otak." Protes Alber ke pacarnya.

__ADS_1


"Wkwkwkwkwkwkwk ..." Uta malah tertawa melihat tampang lucu Alber saat ini.


"Aku serius you know." Ucap Alber sungguh-sungguh. Membuat Uta diam menatap wajah tampan itu. Ia tahu Alber serius. Mamah Celine menceritakan lengkap apa obrolan mereka. Rupanya, video amatir yang Reta kirim kemarin, cuman sepotong dari keseluruhan obrolan. Sehingga Uta tau Alber tadi bukan sekedar omong kosong.


"Nanti ... Nanti kalau hatiku sudah siap." Jawab gadis itu pada akhirnya. Sejujurnya, hatinya sudah tertambat dengan laki-laki berdarah Turki ini. Mereka bukan baru kenal sehari dua hari, melainkan mereka sudah lama mengenal. Mereka juga sudah mengenal keluarga masing-masing satu sama lain. Hanya saja, masih ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Apa karena Papah kamu? Mamah udah cerita kemarin, alasan kalian pindah dari sini." Tanya Alber sedikit hati-hati. Uta mengiyakan. Gadis itu mengangguk pelan.


"Aku takut Ber. Aku takut akan ada Uta-Uta lain dimasa depan. Aku gak mau itu terjadi. Aku gak siap. Aku gak siap Ber." Ucapnya memberi tahu alasan mengapa ia belum berpikir ke arah sana.


Belum lagi jika memiliki anak. Bukan hal mudah menjadi orang tua sebab, hal yang paling berat dimuka bumi ini adalah menjaga amanah. Dan anak adalah wujud nyata amanah yang Tuhan titipkan. Uta sadar, dirinya tak bisa main-main. Ia harus siap secara mental untuk melangkah ke tahap yang lebih serius.


"Aku ngerti kamu berpikir begitu. Kamu pantas khawatir. Tapi Ta, aku gak akan memperlakukan kamu seperti itu, terlebih kalau kelak kamu jadi istri aku. Aku gak akan menyia-nyiakan orang yang aku sayang. Gak akan." Ucap Alber membuat Uta tersentuh. Teringat kembali bagaimana laki-laki ini tetap menyelesaikan persoalan fitnah mereka dulu, meski dirinya sudah meminta Alber menjauh.

__ADS_1


"Ya, aku tau kamu laki-laki baik yang bertanggung jawab. Tapi Ber ..." Ucap gadis itu menggantung kalimatnya.


"Tapi Apa?" Tanya Alber penasaran.


"Kita baru pacaran sehari you know."


"Wkwkwkwkkwk ...." Mereka sempat diam beberapa detik, lalu kemudian tertawa bersama, menyadari anehnya mereka berdua. Kebahagian pasangan baru ini begitu terasa di ruang tamu rumah, berbeda dengan seseorang yang pegal berdiri di depan pintu toilet.


Sabar Baris. Halangi kakimu melangkah kesana. Masa depanmu ada di tangan Tuan Alber. Sabar ... Sabar. *Baris


Bersambung .............


..._____________ Z _____________...

__ADS_1



ZEROIND


__ADS_2