![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
Flashback starts
Dari kecil Uta sangat dekat dengan sang Mamah. Tidak seperti anak perempuan lain yang cenderung lebih dekat dengan sosok Ayah, Uta tak pernah dekat dengan Papahnya. Yang ia tau sang Papah sangat amat sayang pada sang adik, tapi teramat acuh dengan dirinya.
Papahnya kerap kali memarahinya dan membandingkan dirinya dengan anak dari teman- temannya. Papah Uta tak segan memarahi atau bahkan memukulnya bila Tama sang adik jatuh atau terluka saat bermain. Bagaimana pun Uta berusaha menjelaskan pada Papahnya, namun percuma saja, beliau tak pernah mau mendengar alasan.
Saat itu libur kenaikan kelas, Tama akan menjadi siswa SMP sementara Uta kelas 2 SMP. Mereka sekeluarga berlibur sekaligus mengunjungi sang Oma, Ibunda dari Papahnya. Saat itu Uta dan Tama bersama sepupu yang lain sedang asyik bermain kejar kejaran di dalam rumah. Ketika asik bermain, Uta tak sengaja menyenggol vas bunga hingga terjatuh dan pecah. Ia kehilangan keseimbangan karena sepupunya tak sengaja menyenggolnya saat sedang kejar-kejaran bersama.
PRANGGG......!!!!!
Suara vas bunga yang pecah membuat semua orang di rumah, perhatiannya langsung terfokus ke arah suara pecahnya vas bunga.
“Dasar anak selalu bikin ulah, kamu bisanya bikin saya pusing aja.” Bentak Papah Uta pada Putrinya sendiri.
“Maafin Uta Pah, tapi Uta sama sekali gak sengaja Pah.” Ucapnya menunduk takut sambil berlinang air mata.
“Sudah Pah, jangan bentak anak kamu seperti itu, itu hanya sebuah vas, dan Uta juga tak sengaja.” Ujar Mamah berusaha menenangkan suasana tegang disana.
“Kamu gak papa kan sayang? Gak ada yang luka kan?” Mamah Celine khawatir melihat Uta menangis. Sementara Uta hanya menggeleng pertanda tak ada yang terluka. Ia hanya menangis karena Papahnya sangat marah karena dirinya tak sengaja menjatuhkan vas bunga.
“Om jangan marahin Uta ya Om, tadi Sisil gak sengaja nyenggol Uta, jadinya Uta nabrak vas bunga Oma. Uta gak salah om, jangan marahin Uta lagi ya om. Sisil minta maaf banget, Sisil salah om.” Ucap Sisil meluruskan kesalah pahaman disini. Anak itu tak tega melihat Uta dimarahi akibat dirinya yang tak sengaja menyenggol sepupunya saat mereka asik bermain tadi.
“Celine bawa Uta kekamar atas, biarkan dia tenang dulu.” Perintah Oma pada Mamah Celine diikuti anggukan dari menantunya itu.
“Roy Mama mau bicara sama kamu!” Ucap Oma tegas pada Papah Uta. Roy mengikuti Mamanya menuju ruang kerja Papa Roy yang terletak dekat dengan tangga utama.
“Kenapa sikap kamu seperti itu Roy? Kamu bisa lembut dengan Tama, tapi kamu selalu saja kasar dengan Uta.” Ujar Mama Roy dengan tatapan tajam ke anak laki lakinya itu.
__ADS_1
“Karena memang dia selalu saja buat ulah. Dia selalu buat Roy pusing Ma.” Ucap Roy membela diri. Dari nada bicaranya, Papah Uta tetap merasa bahwa tak ada yang salah dengan dirinya. Uta lah yang salah karena sering bikin ulah yang membuatnya jengkel.
“Sebagai Ayah kamu tidak boleh membeda bedakan kedua anakmu Roy. Mereka darah dagingmu, apa kamu tidak berpikir perasaan Uta? Bisa saja dia terluka karena perlakuanmu Roy.” Oma berusaha menjelaskan pada Papah Uta agar pikirannya terbuka dan bisa menyadari apa yang ia perbuat.
“Mama lihat sendiri kan, sekarang Mama memarahi Roy hanya karna anak itu.” Ucap Roy tak terima Mamanya membela Uta.
“Karena ‘hanya’ yang kamu maksud itu adalah cucuku. Tidak ada anak yang senang diperlakukan beda oleh orang tuanya Roy.” Marah Oma tak terima perkataan dari putranya itu.
“Jangan salahkan Roy Ma, dia menghancurkan impian Roy yang menginginkan anak pertama laki- laki. Semua ini salahnya Ma. Mama tau kan, dari dulu aku begitu menginginkan anak pertamaku laki- laki, karena aku ingin kelak ia bisa menjadi penerusku dan bisa melindungi keluarga nantinya. Tapi semua harapan ku hancur karena dia ” Ucap Papah Uta mengutarakan alasan dibalik beda perlakuan yang ia berikan pada Uta dan Tama selama ini.
"ROY!!!" Bentak Mama Roy tanpa beliau bisa tahan lagi.
"Mama gak tau, teman teman Roy selalu mengolok olok Roy payah karena anak pertama Roy perempuan sementara anak pertama mereka laki- laki. Semua ini karena Uta. Salahkan dirinya sendiri, bukan Roy." Papah Uta tetap tak terima disalahkan sang Mama.
“ISTIGFAR KAMU ROY!!!!! Tidak ada anak yang bisa memilih siapa orang tuanya dan terlahir sebagai laki- laki atau perempuan. Itu semua ketetapan Tuhan Roy. Pikirkanlah baik- baik, jangan sampai kamu menyesal memperlakukan anakmu seperti itu Roy.” Ucap Mama Roy pada anak laki- lakinya itu. Pipi yang diselimuti keriput masa tua itu sudah teraliri air mata kesedihan mendengar pengakuan putra kesayangannya itu.
Dibalik pintu, seseorang juga menangis dalam diam. Hanya linangan air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Uta mendengar semua pembicaraan Papah dan Omanya.
Tapi hari ini akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah. Harusnya ia lega karena tak lagi penasaran. Tapi ternyata hatinya begitu sakit mendengar perkataan Papahnya barusan. Andai waktu bisa diulang, ia lebih memilih untuk tak usah tau saja. Ya itu lebih baik, hatinya tak akan sesakit ini.
Diusapnya air mata yang sejak tadi mengalir, lalu dengan yakin ia menaiki tangga menuju kamar tamu dilantai dua.
“Kok kamu ambil air lama banget sih Ta?” Tanya Mamah Celine pada anak gadisnya.
“Iya Mah, tadi uta nyemil sedikit kue didapur. Habis nangis tiba- tiba laper Mah.” Jawab Uta.
“Ohh, habis lama banget, Mamah kira kamu nyasar Ta.” Ledek Ibu ratu.
“Yaudah kamu istirahat aja dulu ya, pulihin tenaga dan tenangin pikiran.” Ucap Mamah lalu mencium pipi chubby anak imutnya itu.
__ADS_1
Setelah sang Ibu Ratu pergi, air mata itu menetes lagi tak tertahan. Menangis dalam diam cukup lama hingga dirasa lelah dan memilih tidur pada akhirnya.
Sejak kejadian itu, ia memilih untuk memendamnya sendiri, ia tak ingin membagi luka itu dengan siapapun juga. Ia tak pernah sekalipun menceritakan pada siapapun terlebih sang Mamah.
Tak perlu saling menyalahkan, karena ini takdir yang tak ada seorangpun bisa memilih mau jadi seperti apa. Daripada menyalahkan orang lain, Uta memilih menjadi pribadi yang lebih tegar dan berusaha menerima apa adanya walaupun tidak mudah sama sekali. Tak akan ada yang berubah kedepannya, ia akan tetap menyayangi Tama adiknya dan tentu juga kedua orang tuanya sampai kapan pun.
Flashback ends
Bersambung ............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Palm Cheese Cookies yang memang ada dalam novel ini, sekarang bisa teman-teman nikmati secara real.
Zero Cookies, Cookies premium yang lahir dari kisah sebuah novel. Kini tersedia di market place Oranye dan Hijau. Check "zeroind store" sekarang dan dapatkan cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND