![Uta & Alber [END]](https://asset.asean.biz.id/uta---alber--end-.webp)
Author POV
"Re gimana?" Uta kembali ke tempat acara wisuda, setelah memastikan wajahnya tak tampak habis menangis. Dari jauh ia tak melihat Alber di panggung, membuatnya menduga ini mungkin sudah mau penutupan acara.
"Ya ampun Ta, Lo lama banget ke toiletnya? Ari NAOH sampe udah selesai tampil, lo belum balik-balik." Repet Reta begitu melihat Uta, kembali ke tempat duduknya. Yang lucu meski mulutnya merepet, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi lega karena Uta baik-baik saja.
"Yah gue kelewatan Ari NAOH dong. Duh, padahal udah seneng banget bisa nonton live." Uta kecewa karena kelewatan penampilan Ari NAOH. Padahal banyak lagu-lagunya mengisi play list Uta. Memang lagu-lagu babang ganteng itu, banyak yang legend dan bisa jadi tergolong lagu abadi, lagu yang bisa diterima kuping apapun zamannya.
"Lagian lo kelamaan sih. Hampir aja gue nyusulin lo tau gak!! untung anak-anak pada bilang, toilet lumayan antri sama ibu-ibu wali murid." Oceh Reta melanjutkan repetan season 1 tadi.
Untung aja Reta tak menyusulnya ke toilet. Anak ini super cerdas dan sangat tau jalan pikiran Uta, bisa-bisa ia mengecek toilet ke lantai 2. Reta pasti akan marah, kalau melihat Felix memeluk sahabatnya itu.
"He .. he .. he.. Oh ya, gimana rekaman videonya tadi? Aman gak?" Ujar Uta bertanya, sekaligus mengalihkan topik.
"Aman lah. Nih kameranya, lo yang balikin ke Alber." Ujar Reta pede, ia yakin melakukan tugasnya dengan baik. Diserahkannya mini kamera pocket itu ke tangan Uta.
"Loh Alber belum ada balik ke sini?" Tanya Uta lagi. Rasa-rasanya, Alber baru sebentar duduk di bangku undangan. Laki-laki itu nampaknya lebih banyak dibalik piano, mengisi acara panggung wisuda.
"Belum, tuh anak gak tau kemana. Dari tadi belum balik-balik. Jumpa fans kali, cewek-cewek ilernya hampir netes ngeliat Alber." Ujar Reta sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Reta tampak heran dengan kaum hawa di ruangan ini, karena mengagumi Alber terang-terangan. Padahal kalo dipikir-pikir, dirinya juga sama. Hanya saja subjeknya bukan Alber, tapi Edgar.
"Wkwkwkwk .. Macam Alber NAOH." Jawab Uta membawa ke arah becanda saja, jurus ampuh menghindari repetan Reta.
Masuklah mereka diakhir acara. Penutupan acara wisuda, ditandai dengan foto-foto para wisudawan dengan kepala sekolah dan guru-guru. Tapi ini bukan sesi foto resmi, melainkan sesi foto bebas.
__ADS_1
Jadi baik wali murid maupun angkatan adik kelas, juga boleh-boleh saja bergabung untuk seru-seruan foto bersama. Sekiranya tak ingin ikut serta pun, para undangan juga sudah dipersilahkan pulang oleh pembawa acara. Tak sedikit siswa-siswi kelas 1 dan 2 yang memilih pulang. Maklum, namanya juga hadir karena faktor diwajibkan.
Sampai akhir acara, Alber tak kembali ke kursinya. Uta yang tak menemukan keberadaan Alber di tempat acara, memilih keluar ruangan mencari pianis dadakan itu.
Dirinya berjalan ke sisi kanan gedung, baru akhirnya menemukan keberadaan Alber. Sang pianis dadakan itu, tampak mengobrol dengan beberapa guru kesenian di Z1. Pantas saja sampai akhir acara Alber belum kembali-kembali, rupanya tertahan oleh guru kesenian.
Guru kesenian di Z1 ada sekitar 8 orang lebih. Terdiri dari 4 orang guru tetap dan 4 orang guru tak tetap. Jika ada pentas atau siswa Z1 mengikuti perlombaan antar sekolah, kemungkinan besar Z1 akan meminta guru kesenian tak tetap, melatih siswa dengan spesialis khusus.
Sekitar 5 menit, obrolan itu nampaknya usai. Alber tampak bersalaman dengan ibu bapak guru, kemudian berjalan ke arah berbeda. Melihat Alber sudah tak ada urusan, Uta menghampiri si pianis dadakan itu. Senyum manis terpancar di wajah Uta.
"Alber kamu tadi dimana? Aku cariin gak ada." Ujarnya pada Alber, yang sedari tadi dicari dan baru ia temukan sekarang. Alber hanya menatap Uta sekilas, ia tak menjawab sepatah katapun.
"Ini kamera kamu, aku balikin." Ucap Uta, menyerahkan kamera mini canggih kembali ke pemiliknya.
"Thanks." Ucap Alber singkat, padat dan jelas. Kemudian mengambil kamera itu dari tangan Uta.
"Ya." Ucap Alber dengan nada tak terlalu antusias. Uta sedikit bingung, Alber seperti enggan bicara padanya. Padahal Alber sepertinya baik-baik saja tadi. Tapi perasaan itu dia coba hilangkan.
"Oh ya Ber, kamu udah minum? Nih aku ada air mineral sama kopi botolan. Kamu mau yang mana?" Tawar Uta pada Alber. Ia menyodorkan botol air mineral dan kopi botol, yang ia bawa dari dalam ruang wisuda kepada Alber. Kalau-kalau saja laki laki itu haus.
"No, thanks. Aku mesti balik sekarang, deluan Ta." Tolak Alber tegas. Ia juga langsung pergi meninggalkan Uta setelah pamit singkat.
"I .. Iya, hati hati ya Ber." Ucap Uta dengan suara agak keras, agar masih bisa di dengar Alber yang sudah berjalan kearah parkiran. Uta hanya memandang Alber yang semakin berjalan menjauh.
Uta mencoba mengingat-ingat, apa ia ada berbuat salah pada Alber. Tapi dipikir bagaimana pun, ia yakin tak melakukan salah, apalagi sampai membuat Alber marah. Gadis itu akhirnya hanya berpikir, mungkin karena kelelahan, mood Alber menjadi buruk. Uta tak ingin berprasangka buruk terhadap Alber.
__ADS_1
"Ta buruan yok, Papa udah nunggu di depan. Entar keburu macet nih." Ujar Reta yang menghampiri Uta, saat gadis itu masih terdiam di tempat yang sama.
"Eh iya ... Yok Re, kasian Papa nungguin." Mendengar Papa Reta yang sudah meluangkan waktu menjemput mereka, Uta langsung bergegas pergi. Jangan sampai Papa Reta meenunggu lama.
Bersambung .............
..._____________ Z _____________...
Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca novel ini. Sekarang Uta dan Alber, bukan hanya tersedia dalam bentuk cerita novel, tetapi Uta dan Alber tersedia dalam bentuk Signature Cookies. Cookies nyata, lezat premium yang bisa kalian dapatkan di market place oren atau hijau.
Ikuti ceritanya dan nikmati cookiesnya.
...Novel + Cookies \=...
...Karena Setiap Cookies Punya Cerita...
❤
__ADS_1
ZEROIND