
"ANAK ANGKAT TIDAK TAU MALU, MENJALIN HUBUNGAN TERLARANG DENGAN AYAH ANGKATNYA SENDIRI!!"
"Apa-apaan ini?!"
Aster yang baru saja bangun memekik sekencang-kencangnya setelah membaca artikel yang menjadi berita panas pagi ini.
Bukan hanya sekedar artikel, namun foto dirinya dan Nathan juga terpampang di sana. Meskipun sedikit di blur, tapi Aster tau jika itu adalah Nathan dan dirinya.
Selain artikel, video mereka yang sedang berciuman sudah tersebar luas di internet. Dan kini menjadi trending topik. Dan yang menjadi pertanyaannya, siapa sebenarnya yang sudah menyebarkan video dan artikel tersebut.
"Aster, ada apa?" Bingung Nathan setelah mendengar pekikan keras Aster.
Aster segera melompat turun dari tempat tidur lalu memberikan ponselnya pada Nathan. "Paman, lihat dan baca artikel ini." Nathan menatap Aster sekilas, kemudian mengambil ponsel itu dari tangan Aster.
Berbeda dengan reaksi Aster yang memberikan reaksi berlebihan. Nathan justru terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah dia sudah memprediksikan hal semacam ini pasti akan terjadi.
"Paman, bagaimana ini? Semua sudah terungkap. Dan tidak mungkin kita bisa mengelak lagi."
"Kenapa harus panik? Kau tenang saja, masalah ini serahkan padaku, biar aku yang mengurusnya. Dan untuk sementara, kau tidak usah pergi kuliah dulu. Paman akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." Aster mengangguk.
Melihat sikap tenang Nathan, membuat Aster merasa yakin jika suaminya itu sudah memiliki sebuah rencana untuk menyelesaikannya.
Dan Aster tentu tidak akan diam saja, dia pasti akan memberikan pelajaran pada orang yang sudah menyebarkan artikel dan video tersebut hingga menjadi viral dimana-mana.
"Segera temukan penyebar video dan artikel itu, seret dia kehadapanku. Dan aku ingin hari ini juga kau temukan orang itu!!"
Aster menoleh setelah mendengar suara Nathan yang sedang berbicara dengan seseorang di telfon. Aster tidak tau siapa yang sedang Nathan hubungi, Leon atau Tao? Karena selain Paman Kim, hanya dua orang itu yang selalu bisa Nathan andalkan.
Aster menghampiri Nathan setelah pria itu memutuskan sambungan telfonnya. "Siapa yang Paman hubungi?" Aster menatap Nathan penasaran.
"Tao, aku menyerahkan masalah ini padanya."
"Tumben, kenapa bukan si mesum Leon?"
__ADS_1
"Semalam aku mengirimnya ke Busan untuk menyelesaikan masalah di sana."
Aster menatap penampilan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nathan sudah rapi dengan setelan jas kerjanya yang membuatnya terlihat semakin tampan dan gagah.
Aster maju dua langkah ke depan lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. "Paman, tidaklah kau merasa telah melupakan sesuatu?" Wanita itu menatap Nathan dengan tatapan nakal menggoda.
"Tentu saja tidak,"
Nathan menarik tengkuk Aster dengan sebelah tangannya lalu menyatukan bibir mereka. Sebelah tangan Nathan yang lain menarik pinggang Aster dan membunuh jarak diantara mereka.
Nathan memagut bibir bawah Aster lembut. Bibir Aeter terasa manis bagi Nathan, bukan manis yang tidak disukai oleh pria itu. Manis yang, entahlah susah untuk dijelaskan. Yang jelas Nathan sangat menyukainya.
Nathan memperdalam ciuman mereka. Kali ini lidah Nathan masuk kedalam mulut Aster, dengan lues lidahnya menari bersama dengan lidah milik Aster.
Nathan memindahkan tangan kanannya yang semula di tengkuk Aster kepinggang ramping, memeluknya untuk semakin dekat.
Aster merasakan mulut Nathan melahap habis bibirnya, wanita itu meringis, ini bukan ciuman indah melainkan ciuman panas yang penuh gairah. Tapi ini sangat menyenangkan! Dan Aster sangat mentukainya.
Lidah pria itu terus mengobrak abrik mulutnya, menghisap, menjilat juga mel*mat. Kedua kaki Aster sudah tidak menginjak lantai lagi, kakinya melingkar di pinggang Nathan yang mendoronya ketembok disisi jendela.
"Istirahat selesai."
Nathan kembali mel*mat bibir Aster. Dia tak ingin berhenti, bibir Aster membuatnya candu. Aster membalas ciuman Nathan dengan sama bergairahnya, lenguhan Aster membuat Nathan semakin semangat, hingga dia tidak ingin melepaskannya.
Dan ciuman seperti ini memang sudah menjadi ritual wajib bagi mereka berdua. Entah itu pagi, siang, sore hingga saat malam hari.
-
Tubuh Sora tersungkur di lantai setelah di dorong keras oleh Tao. Keningnya berdarah karena terbentur sudut meja.
Berkat bantuan CCTV. Tao pun bisa menangkap wanita itu dengan sangat mudah.
Sora terekam sedang mengambil foto dan video ketika Nathan dan Aster sedang berciuman. Dan bukti itu membuat Sora tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Sebenarnya ada dua orang yang terekam dalam CCTV. Dan orang lain itu adalah Cris. Tapi keberadaan Cris di sana bukan untuk mengambil sebuah keuntungan seperti yang Sora lakukan.
"Aahhh..!!" Aster memekik ketika Nathan menarik kepalanya kebelakang.
"Apa kau tau, masalah apa yang sudah kau ciptakan? Dan seberapa banyak kerugian yang harus aku alami karena tindakan bodohmu itu?!"
"P-Presdir, to-tolong ampuni saja. Sa-saya bersalah, saya minta maaf. Ta-tapi tolong, jangan hukum saya." Sora memohon sambil menggosokkan telapak tangannya di depan Nathan.
"Enak sekali kau meminta maaf setelah membuat nama baikku menjadi jelek!!" Sahut seseorang dar arah belakang.
Aster melepas ikat pinggang pada dress-nya lalu mengarahkan pada leher Sora. "A-Apa yang kau lakukan? Le-lepaskan?!" Sora memegangi ikat pinggang milik Aster yang saat ini mencekik lehernya.
Aster mencondongkan wajahnya ke bawah dan menatap Sora dengan seringai iblisnya."Jika aku tidak mau bagaimana? Apa kau ingin berteriak lalu mengambil video lagi saat aku ingin membunuhmu?" Sora menggeleng.
Wanita itu menangis. Dia mulai kehabisan napasnya karena cekikan Aster pada lehernya. Wajahnya memerah padam. Dan Aster baru melepaskan cekikannya setelah diminta oleh Nathan.
Tubuh Sora kembali tersungkur karena dorongan Aster. Kemudian Aster menghampiri Nathan. "Paman, enaknya kita apakan dia? Aku benar-benar muak melihat mukanya. Lihat saja matanya yang hampir keluar itu, sangat menjijikkan!!"
"Yang jelas aku tidak akan menghabisinya. Mungkin sedikit hukuman akan membuatnya jera. Dan jika kau ingin ikut mengambil peran, aku tidak akan melarangnya."
"Tentu saja," Aster menyeringai. "Dari tadi tanganku sudah gatal ingin menggunduli rambut jeleknya!!"
Sora menggeleng. Dia mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Sora tidak rela dan dia tidak akan membiarkan Aster menyentuh kepalanya.
Aster menarik kasar lengan Sora lalu menamparnya hingga wanita itu tersungkur lagi di lantai. Aster menjambak rambutnya, dengan brutal dia memotong rambut Sora hingga tidak berbentuk lagi.
"Aarrkkkhhh!!! Rambutku!!" Sora berteriak dan menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib rambutnya.
Sora bisa dikatakan sangat beruntung karena Nathan tidak menghabisinya meskipun dia sudah membuat kesalahan yang sangat fatal. Tidak membunuhnya bukan berarti Nathan benar-benar melepaskannya.
Nathan meminta salah seorang anak buahnya untuk mengawasi Sora, karena tidak menutup kemungkinan jika wanita itu akan kembali lagi untuk membuat perhitungan dengannya.
-
__ADS_1
Bersambung.