
Malam menjelang tiba di kota Seoul. Langit telah berwarna orange menandakan sang raja siang akan turun dari singgasana digantikan oleh sang Dewi malam. Terlihat sepasang keluarga muda sedang berjalan bergandengan tangan, mereka adalah Nathan dan Aster.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Nathan menggenggam tangan Aster dengan erat. Aster ingin jalan-jalan dan Nathan mengabulkannya.
Tap...
Tiba-tiba Aster menghentikan langkahnya dan membuat Nathan ikut berhenti juga. "Ada apa?" Tanya Nathan sambil menatap Aster sedikit bingung.
"Daddy, kau lihat pohon itu?" Nathan mengangguk."Aku ingin memanjat dan duduk batangnya." Rengek Aster dan sontak membuat Nathan menoleh padanya.
Mata kiri Nathan memancing 'Daddy' kedengarannya tidak buruk juga. "Jangan aneh-aneh. Itu terlalu berbahaya. Bagaimana kalau kau sampai jatuh dan membahayakan janin di dalam perutmu?"
Aster memanyunkan bibirnya. "Padahal bukan keinginanku." Wanita itu menggerutu. "Daddy, itu bukan keinginanku. Tapi keinginan si jabang bayi di dalam perutku. Dia yang ingin naik ke atas pohon dan kemudian duduk di batangnya. Sebentar saja, ya." Rengek wanita itu memohon.
Nathan menggeleng tegas. "Sekali tidak tetap tidak!! Sebaiknya jangan jadikan janin diperutmu sebagai alasan untuk keinginanmu yang aneh-aneh itu."
Aster mengusap perutnya yang masih rata."Nak, kau mendengarnya bukan? Daddy-mu memarahi Mami, jika kau lahir dan sudah dewasa nanti. Mami tidak akan menghalangimu untuk marah padanya karena dia tidak mau mengabulkan permintaanmu!!"
Nathan mendengus berat. Dia tidak tau jika wanita yang sedang hamil muda akan semerepotkan ini. Dan Nathan tidak tau bagaimana kedepannya, apakah akan semakin parah atau tidak, dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.
.
.
.
Aster terus menekuk mukanya bahkan ketika mereka sudah sampai di rumah. Wanita itu benar-benar kesal setengah mati pada suami tampannya ini.
Padahal dia hanya ingin memanjat pohon dan Nathan tidak mengabulkannya. Bukankah itu sangat menyebalkan.
Nathan mendesah berat. Dia menghampiri Aster yang sepertinya tak menghiraukan kedatangannya. Wanita yang tengah berbadan dua itu bahkan membuang muka ke arah lain.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti bocah, Aster Xiao?!" Tegur Nathan yang sudah berhadapan dengan Aster. Alih-alih menjawab, Aster malah membuang muka ke arah lain. "Aster!!"
"Sebaiknya Daddy jangan bicara denganku lagi, apa Daddy tidak tau jika aku sedang marah? Dan kalau aku marah, itu artinya aku tidak mau bicara sama Daddy. Dan untuk itu Daddy tidak boleh tanya-tanya padaku lagi, oke!!"
Melihat tingkah Aster membuat Nathan geli sendiri. Akhirnya Ia pun memilih mengalah, berdebat dengan orang yang sedang hamil muda memang tidak ada gunanya.
.
.
__ADS_1
.
"Tuan,"
Langkah Nathan terhenti. Pria itu menoleh dan mendapati Paman Kim yang berjalan menghampirinya. "Bagaimana, Paman. Kau sudah menemukan orang yang mengirim video itu padaku?"
Paman Kim mengangguk. "Sudah, Tuan. Dia adalah Jordan Heng, senior Nona di kampusnya. Dia sengaja memprovokasi Anda dengan Video palsu itu dan membuat Anda di lemah."
"Dia menginginkan Nona, dan dia bekerja sama dengan Jung Hilman agar bisa menikahi Nona. Itulah yang Hilman janjikan padanya."
Nathan menyeringai tajam. "Heh, jadi itu rencana mereka yang sebenarnya. Aku paham apa yang tua Bangka itu rencanakan."
"Aster adalah pewaris tunggal seluruh harta peninggalan mendiang orang tuanya. Dan harta itu tidak mungkin bisa berpindah tangan jika tanpa stempel dan tanda tangan asli dari sang ahli waris. Mereka memang sangat licik."
"Lalu apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"
"Tentu saja mengikuti permainan mereka. Kita selesaikan apa yang telah mereka mulai. Mereka harus sadar, dengan siapa sebenarnya mereka sedang berhadapan!!"
"Apa saya perlu melakukan sesuatu, Tuan?"
"Apa kau mengingat tentang insiden menghilangnya seorang mahasiswi yang masuk melalui jalur beasiswa di YS satu tahun yang lalu? Kemudian dia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia satu Minggu kemudian di belakang kampus itu."
"Bukankah kasus itu sudah mana di tutup, Tuan?! Karena polisi tidak berhasil menemukan bukti jika mahasiswi itu meninggal karena di bunuh."
Nathan menggeleng. "Itu tidak benar. Ada banyak kejanggalan dalam kasus itu. Sepertinya pihak YS memang sengaja menutupi fakta yang sebenarnya dari publik."
"Tapi untuk apa, Tuan? Mungkinkah untuk mempertahankan nama baik YS?"
Nathan menggeleng. "Bukan, tapi ada kemungkinan besar jika putra merekalah dalang utama di balik kematian mahasiswi itu. Karena ada yang pernah bersaksi jika dia melihat orang yang terakhir kali bersama korban adalah senior Aster."
Paman Kim mengangguk. "Sekarang saya paman, Tuan. Baiklah, akan saya lakukan sesuai dengan permintaan Anda."
"Dan satu lagi, panggil Tao kembali. Aku ingin mulai sekarang dia menjadi Bodyquard pribadi untuk Aster."
"Baik Tuan, kalau begitu saja permisi dulu." Paman Kim membungkuk dan pergi begitu saja.
Bermain-main dengan iblis seperti Nathan, maka sama saja dengan menggali kuburnya sendiri.
Nathan bukanlah pria bodoh yang muda di tipu dan dibodohi. Dan mereka tidak tau konsekuensi apa yang telah menunggu mereka karena telah berani mencari masalah dengannya!!
-
__ADS_1
"Aaahh, kepalaku!!"
Jung Hilman akhirnya sadar setelah pingsan lebih dari tiga jam. Pria tua itu menyapukan pandangannya. Dan dia sudah ada di atas tempat tidurnya. Hilman tidak tau siapa yang memindahkannya.
Pria itu duduk sambil mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah.
"Hihihi~Pak tua, akhirnya kau bangun juga."
Sontak kedua mata Hilman membelalak melihat sosok yang ada di sampingnya itu. Hilman menunjuk Suketi dan....Hilman kembali jatuh tak sadarkan diri ketika melihat Suketi.
Hantu narsis itu mendengus berat. "Ya, malah pingsan lagi. Ahhh, cari mangsa yang lain saja. Siapa tau nanti bisa ketemu Oppa-Oppa tampan Super Junior." Dan Suketi pun kembali menghilang.
-
"Daddy, apa kau sudah tidur?" Aster mengguncang lengan terbuka Nathan."Daddy, jangan tidur terus. Cepat buka matamu," rengek Aster dan sekali lagi mengguncang lengan Nathan.
Nathan mendecih sebal. "Ada apa, Aster?! Tidak bisakah kau tenang? Ini masih malam dan sebaiknya tidur lagi." Pintanya.
"Daddy, aku ingin makan salad buah yang ada di Mall. Jadi ayo pergi ke sana dan membelinya."
"Besok saja ya. Ini masih malam, lagi pula mungkin Mall-nya sudah tutup."
Aster menggeleng. Kembali dia mengguncang lengan Nathan. "Tidak mau, pokoknya Daddy harus membawaku ke sana. Aku ingin makannya sekarang, bukan besok!!"
"Minta bibi saja membuatkannya, bukankah salad buah rasanya sama saja?"
"Huaaa~" tiba-tiba Aster menangis keras dan itu membuat Nathan terkejut bukan main. Bahkan dia sampai terlonjak dari tempat tidurnya. "Hiks, Daddy sudah tidak sayang lagi padaku. Daddy jahat, padahal aku hanya meminta salad buah. Tapi Daddy tidak mau mengabulkannya."
Nathan menggeram rendah. Dia mencoba menahan emosinya. Dia harus sabar menghadapi Aster yang sedang hamil muda. Dan tidak baik jika dia sampai marah-marah apalagi sampai membentaknya.
"Tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu. Ambil mantel hangatmu, kita pergi setelah ini."
Aster pun bersorak kegirangan. Dia tau jika Nathan tidak mungkin bisa menolak permintaannya. Apalagi itu adalah keinginan janin di dalam perutnya. Dan anak mereka bisa saja ngiler jika Nathan tidak mengabulkannya.
Dua menit kemudian Nathan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh, Nathan mengambil Sleveless hitamnya yang kemudian dia pakai sebagai luaran singlet putihnya.
"Ayo." Aster mengangguk antusias. Dia memeluk lengan terbuka Nathan. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.
-
Bersambung.
__ADS_1