"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Part (Bag 15)


__ADS_3

"Oppa, bagaimana? Apa kau dan Leon berhasil menghabisi mereka semua?" Aster menghampiri Nathan yang baru tiba di cafe.


Pria itu mengangguk. "Setelah ini mereka tidak akan berani membuat ulah dan masalah lagi di daerah ini. Apa kau sudah selesai?"


"Sudah, semua sudah di obati. Dan Dio juga sudah membuatkan makan siang untuk kita. Sebelum pergi sebaiknya kita makan siang dulu. Aku sangat lapar." Ucap Aster sambil memegangi perutnya.


Pria itu kemudian mengangguk. "Baiklah." Nathan tidak bisa menolaknya.


Karena sebenarnya dia juga sudah sangat lapar. Salahkan saja para pembuat onar itu, sehingga mereka harus melewatkan makan siangnya lebih dari satu jam.


.


Setelah makan siang. Mereka pun berpisah, Nathan kembali ke kantornya, sedangkan Aster kembali ke boutique nya. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Dan mungkin saja malam ini Nathan harus lembur lagi.


"Malam ini tidak perlu menungguku. Mungkin aku lembur, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sebaiknya jangan pulang terlalu malam. Jika lelah, gunakan supir saja. Jangan mengemudi sendiri."


Aster mengangguk. "Baiklah, Paman. Aku mengerti." Wanita itu tersenyum. Dan memang beginilah Aster, jika hanya berdua saja dengan Nathan, dia pasti akan memanggil suaminya itu dengan sebutan Paman.


"Ya sudah, aku pergi dulu." Nathan mengecup singkat bibir Aster dan pergi begitu saja. Meninggalkan wanita itu yang sedang melambai padanya.


Setelah mobil Nathan tidak terjangkau lagi oleh matanya. Aster masuk ke dalam. Dan menghampiri Amy yang sedang sibuk dengan desainnya.


"Aku membawakan cemilan untukmu, jangan bekerja terlalu keras. Pikirkan juga kandunganku. Ingat Amy Lee, kau itu sedang hamil muda, jadi berhenti menjadi wanita keras kepala yang sudah diatur."


"Astaga, Aster Xiao. Kenapa semakin hari kau semakin cerewet saja. Iya, iya, aku patuh. Tapi setidaknya sampai aku menyelesaikan desainku ini. Tanggung, ini sudah hampir selesai."


Aster menghela napas. Kenapa sifat Amy sama persis dengan sifatnya, keras kepala."Ya, sudah aku tinggalkan cemilannya di sini. Aku juga harus menyelesaikan rancangan ku." Aster beranjak dari hadapan sahabatnya dan pergi ke ruangannya.


Rancangannya harus selesai dalam satu Minggu, agar ia bisa mengikuti fashion week yang diadakan di Italia 10 hari lagi.


-


Kelas Laurent baru saja selesai. Gadis cantik itu sedang berdiri di depan gerbang sekolah untuk menunggu jemputan nya. Dia tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh Tao saat ini, tidak biasanya dia telat menjemputnya.


Beberapa kali Laurent ditawari dan diberi tumpangan oleh teman-temannya. Tapi dia menolak. Laurent tidak ingin membuat Tao menjemputnya dengan sia-sia jika dia tidak ada di tempat ketika pria itu datang.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan berdiri disini? Sebaiknya ikut pulang denganku saja." Ucap salah seorang teman Laurent.


Gadis kecil nan cantik itu menggeleng. "Aku sedang menunggu jemputan ku. Paman Tao sedang dijalan dan sebentar lagi juga sampai."


"Kau yakin?"


Laurent mengangguk. "Tentu saja, dan itu dia datang. Ya sudah, sampai ketemu besok." Laurent menghampiri Tao dan langsung menegurnya. Dan kemudian Tao memberinya penjelasan kenapa bisa sampai telat.


Laurent mendengus geli. "Makanya jadi pria jangan mata keranjang, tau sendiri kan akibatnya. Untung Bibi itu segera meminta putus."


"Nona Kecil, kenapa kau sangat kejam pada Paman. Seharusnya kau bersimpatik, bukannya mencibir seperti ini."


Laurent mengangkat bahunya. "Kenapa aku harus peduli? Toh itu bukan urusanku." Gadis kecil itu masuk ke dalam mobil Tao dan mengabaikan pria itu yang sedang mengomel karena ulahnya.


Sepertinya Laurent berhasil membuat Tao kesal dan dongkol setengah mati. Tapi dia tidak berani untuk marah apalagi balas mengomeli Laurent, karena bisa-bisa dia terkena masalah besar.


-


Aster menghentikan gerakan jarinya yang sedari tadi menari di atas kertas putihnya. Tiba-tiba dia merasakan rasa kantuk yang begitu luar biasa, hingga dia tidak bisa menahannya lagi.


Wanita itu meninggalkan meja kerjanya dan pergi ke ruang istirahat. Aster mau memejamkan matanya meskipun hanya beberapa menit saja. Tubuhnya bukan robot, yang tidak bisa merasakan lelah.


Sebuah seringai misterius tersungging di sudut bibirnya saat melihat sebuah rancangan yang tergeletak di atas meja.


Wanita itu mengambil hasil rancangan Aster yang masih belum selesai itu dan menatapnya dengan sebuah senyum misterius tersungging di bibirnya.


"Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padaku." Ucapnya lalu merobek rancangan tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.


"Apa yang sedang kau lakukan di ruangan ini?" Wanita itu terlonjak kaget setelah mendengar suara wanita menegurnya. Sontak dia menoleh dan mendapati Amy berdiri di depan pintu.


Wanita itu membelalakkan matanya. Dia panik setengah mati. "A..Amy, kau ternyata. Kenapa kau mengejutkanku? Aku mencari Aster, tapi dia tidak ada di ruangannya. Apa dia sedang pergi?" Tanya wanita itu setenang mungkin.


Amy menggeleng. "Dia tidak kemana-mana, mungkin sedang istirahat di ruangannya. Jika ada perlu, katakan saja padaku. Nanti aku sampaikan padanya."


"Tidak perlu. Nanti saja aku kembali lagi, aku masih ada urusan penting. Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."

__ADS_1


Amy berbalik dan menatap wanita itu dengan pandangan penuh selidik. Entah kenapa dia merasa jika wanita itu baru saja melakukan sesuatu yang tidak baik. Dan untuk memastikannya, Amy memutuskan untuk memeriksanya di ruang kontrol.


Dia harus tau apa yang wanita itu lakukan di ruangan Aster. Jika terbukti melakukan kejahatan, Amy bersumpah dia akan memenjarakannya.


-


Nathan baru saja menyelesaikan rapat dengan para pemegang saham. Rapat hari ini berjalan lancar dan selesai lebih cepat dari yang dia kira.


Dan artinya dia bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih awal, kemungkinan besar malam ini Nathan tidak perlu lembur lagi hingga tengah malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Bos!!"


Nathan menoleh dan mendapati Leon berjalan menghampirinya. Pria itu memicingkan mata kirinya melihat wajah panik Leon yang terlihat seperti sedang mencemaskan sesuatu.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" Tanya Nathan penasaran.


"Kita mendapatkan paket misterius lagi. Dan kali ini lebih dari satu. Aku dan Theo sudah mencoba memeriksanya, dan terdengar suara detak jam dari dalam paket tersebut. Bos, mungkinkah itu adalah Bom? Sepertinya adalah orang yang ingin membunuh kita secara berjamaah!!"


"Dimana barang itu?"


"Ada di luar, kami tidak berani mengambil tindakan apapun tanpa perintah. Bos, sebaiknya cepat, kau harus memeriksanya itu bom atau bukan."


Nathan mengangguk. Dia dan Leon kemudian pergi ke halaman. Di sana sudah banyak orang yang berkerumun. Nathan meminta mereka untuk segera bubar dan meninggalkan lokasi.


"Bos, kau mau apa?"


"Tentu saja memeriksa isi dari paket ini."


"Apa?! Bos, jangan bercanda? Bagaimana jika itu benar-benar Bom?"


"Justru akan lebih berbahaya jika tidak diperiksa lebih dulu."


Tanpa ragu Nathan membuka bingkisan misterius tersebut. Semua mata membelalak, termasuk Nathan setelah melihat isi paket tersebut. Benar, itu adalah Bom. Dan waktunya terus berjalan. Hanya tersisa 10 menit lagi sebelum meledak.


Tak ingin membuat orang-orang dalam bahaya. Nathan pun segera mengambil tindakan. Bom itu sangat berbahaya karena memiliki daya ledak yang lumayan kuat. Sebelum jatuh korban jiwa, langkah pertama yang dia ambil adalah memusnahkannya

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2