"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 25)


__ADS_3

"Mami, Daddy!!"


Laurent berlari menghampiri kedua orang tuanya saat melihat kedatangan mereka. Nathan dan Aster meninggalkan mereka lebih dari satu Minggu. Dan Laurent begitu merindukan mereka.


Aster dan Nathan lantas membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Bukan hanya Laurent, tapi mereka juga merindukan kedua buah hatinya.


"Mami, Daddy, Rey ingin dipeluk juga." Seru suara cadel seorang bocah laki-laki dari arah belakang.


Sosok mungil Rey terlihat berlari menghampiri mereka berdua. Nathan berlutut sambil membuka lebar-lebar kedua tangannya.


Lalu membawa bocah laki-laki itu ke dalam pelukannya. Rey terlihat begitu bahagia, terlihat jelas jika bocah laki-laki itu memang sangat merindukan Ayah serta Ibunya.


"Rey, kangen Daddy."


"Daddy, juga sangat merindukanmu, Nak." Ucap Nathan sambil mengeratkan pelukannya.


"Lalu, apakah Rey tidak merindukan, Mami?" Seru Aster yang kemudian ikut memeluk putra bungsunya tersebut.


"Tentu saja rindu, Mami, juga." Aster tersenyum dan memeluk tubuh mungil Rey semakin erat, kemudian mengangkat dia ke dalam pelukannya.


Nathan dan Aster merasa bahagia karena akhirnya mereka bisa kembali ke rumah. Satu Minggu meninggalkan anak-anak rasanya sepertinya bertahun-tahun. Karena selama ini mereka memang sangat jarang berjauhan dari mereka berdua.


"Mami, Rey mau tidur sama Mami dan Daddy. Kalian meninggalkan Rey terlalu lama." Bocah laki-laki itu menggembungkan pipinya. Kebiasaan yang dia lakukan ketika sedang kesal.


Aster dan Nathan mengangguk. "Malam ini kita berempat akan tidur bersama," ucapnya sambil menatap Laurent yang kini tengah tersenyum lebar. Laurent menghampiri mereka bertiga dan ikut berpelukan juga.


Nathan mencium mereka satu persatu. Mereka adalah harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini. Seluruh harta melimpah yang dia miliki tak akan pernah sebanding dengan mereka bertiga, karena mereka adalah nafas Nathan dan bagian dari jiwanya.

__ADS_1


Orang yang selalu ingin Nathan jaga dan dia lindungi dengan jiwa dan raganya. Dan Nathan rela kehilangan segala-galanya, termasuk nyawanya tapi tidak untuk mereka bertiga.


"Ayo kita ke kamar." Ucap Nathan seraya mengambil alih Rey dari pelukan Aster. Dan hari ini dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga kecilnya.


-


Sang Surya telah membenamkan sinarnya di ujung barat. Burung camar telah berarak pulang menuju sarangnya, sang penguasa malam mulai menampakkan eksistensinya dengan membagikan sinarnya pada sebagian bumi yang dinaungi.


Hilir mudik kendaraan membuat kota yang tak pernah mati ini semakin hidup. Lampu-lampu kota yang telah dinyalakan terlihat bak taburan intan permata jika dilihat dari kejauhan.


Disebuah hotel berbintang lima. Lebih tepatnya di ketinggian 20 meter dari permukaan tanah. Sepasang suami-istri, seorang gadis kecil dan seorang bocah laki-laki tengah berdiri di depan sebuah dinding kaca yang mampu memperlihatkan keindahan kota.


Mereka adalah Nathan, Aster, Laurent dan Rey. Nathan dan Aster hanya mengabulkan keinginan sang putri yang ingin sekali menginap di hotel berbintang lima, padahal tempat tinggal mereka tak kalah dan bahkan jauh lebih indah dan lebih mewah.


Tapi Laurent ingin melihat seluruh kota dari ketinggian, dan mereka langsung mengabulkannya. Jutaan won yang harus Nathan keluarkan untuk satu malam tentu bukan masalah baginya, uang bisa di cari tapi tidak dengan kebahagiaan sang putri.


"Mi, Dad, lihatlah di sana. Bukankah sangat indah. Kalian harus sering-sering membawaku untuk bermalam di sini."


Sontak saja kedua mata Aster membelalak. "Oppa, kau pasti bercanda kan? Kau tidak sungguh-sungguh membelinya bukan?" Tanya Aster memastikan.


Kemudian Nathan beranjak dari hadapan Aster dan mengambil sebuah berkas yang kemudian dia berikan padanya. Itu adalah bukti jika Nathan telah membeli hotel ini.


"Oppa, kau sungguh-sungguh membelinya?!" Aster memekik kencang, dan Nathan hanya mengangguk mengiyakan.


Aster benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Nathan. Bagaimana bisa dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli hotel ini hanya karena Laurent menyukainya.


Bukan maksud Aster melarang Nathan memberikan kado istimewa pada putri mereka. Tapi menurutnya hadiah yang Nathan berikan tahun ini terlalu berlebihan, apalagi Laurent masih kecil dan belum bisa mengelolanya.

__ADS_1


"Oppa, kau benar-benar gila." Aster menggelengkan kepala. Dia benar-benar masih tidak habis pikir dengan Nathan.


Sedangkan Laurent tentu saja sangat kegirangan, karena itu artinya dia bisa tidur di hotel ini sewaktu-waktu dan bisa sepuasnya menikmati keindahan kota dari tempatnya berada saat ini.


-


Aster terus mendiami Nathan sejak malam itu. Dan ini sudah hari ketiga Nathan diacuhkan oleh istrinya. Aster hanya tidak suka jika Nathan terlalu banyak menghamburkan uang dan juga terlalu memanjakan putri mereka.


Dia tau jika Nathan sangat menyayangi Laurent, tapi dia tidak suka cara suaminya itu memanjakan putri mereka. Aster tidak ingin jika putrinya tumbuh dewasa menjadi gadis yang manja.


"Sampai kapan kau akan mendiami ku, Aster Xiao?!" Ucap Nathan sedikit geram.


Lama-lama dia kesal sendiri dengan sikap dan tingkah Aster yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Selama beberapa hari ini dia mencoba menahannya, tapi tidak hari ini. Kesabarannya sudah mulai habis.


"Aku hanya berusaha menyenangkan putriku, apa itu salah?!"


Aster berbalik dan menatap Nathan tak kalah nyalang. "Salah!! Tentu saja salah, dan sangat-sangat luar biasa salah malah. Paman, aku membesarkan Laurent menjadi gadis kecil yang mandiri, dan sekarang kau malah memanjakannya. Apa kau ingin membuat perjuanganku selama ini sia-sia?!"


"Aku tidak melarang mu memberikan hadiah apapun pada anak-anak. Tapi aku sangat keberatan jika kau memberikan hadiah yang terlalu berlebihan seperti itu. Dia masih kecil dan kau sudah sangat memanjakannya, lalu ketika dia besar mau jadi apa?!"


"Cukup!! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu, aku sudah membatalkan rencana pembelian hotel itu. Dan sekarang apa kau puas!!" Kemudian Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Aster mendesah berat. Dia yang seharusnya marah pada Nathan, tapi kenapa malah dia yang sekarang marah padanya. Dan sepanjang mereka menjadi suami-istri, menang jarang terjadi pertengkaran yang hebat.


Sekalinya mereka bertengkar, pasti itu ada hubungannya dengan anak-anak. Dan malam ini contohnya. Mereka terlibat pertengkaran dan adu mulut karena menurut Aster suaminya itu terlalu memanjakan putri mereka.


Sedangkan Nathan tidak berpikir seperti apa yang Aster pikirkan. Dia hanya berusaha memberikan yang terbaik bagi putri mereka. Tapi hal itu malah dinilai salah oleh istrinya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2