"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Permainan Di Kantor


__ADS_3

"HACHU!!"


Jordan bersin. Seperti air hujan, ludahnya muncrat kemana-mana. Beruntung tidak ada orang lain yang bersamanya. Karena bisa-bisa dia akan dimarahi habis-habisan.


"Sial!! Siapa yang sedang membicarakan ku?!" Geram Jordan setelah kesal.


Jordan turun dari motor besarnya dan segera masuk ke dalam rumahnya. Tanpa dia sadari jika seekor singa yang sedang mengamuk siap menerkamnya.


"JORDAN HENG!!"


Baru saja Jordan menginjakkan kakinya di lantai ruang tamu, suara teriakan yang memekarkan telinga langsung menyambutnya. Zain Heng menghampiri Jordan dengan sebuah tongkat sebesar ibu jari.


"BOCAH KURANG AJAR, KEMARI KAU!!" Teriak Zain Heng penuh emosi.


Jordan yang tidak tau apa-apa hanya menatap sang ayah penuh kebingungan ketika pria setengah baya itu turun dan menghampirinya penuh kemarahan.


"KEMARI KAU BOCAH TAK TAU DIUNTUNG!!"


Zain Heng menarik lengan Jordan lalu mendorongnya hingga pemuda itu jatuh tengkurap di atas sofa. Dengan brutal Zain memukul pantat Jordan dengan rotan tersebut.


Tidak hanya satu dua kali saja. Tapi berkali-kali. Bahkan Zain tidak menghiraukan teriakan kesakitan dan permintaan maaf dari Jordan.


"Papa hentikan, Papa ini sakit!! Ahhh, hentikan Pa, sakit!!"


"Dasar anak kurang ajar, anak tidak tau diuntung! Apa yang kau lakukan pada tuan Xiao? Karena ulahmu kini dia mencabut semua saham diperusahaan kita. Kau benar-benar anak kurang ajar!!"


Nyonya Heng yang melihat hal tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bingung harus melakukan apa sekarang.


Nyonya Heng sungguh tidak tega melihat putranya di pukuli seperti itu oleh suaminya. Dan jika dia ikut campur. Bisa-bisa Zain Heng akan memukulinya juga.


"Aku akan memukulmu sampai mati!!"


"Papa, ampun. Jangan memukul lagi!! Sakit, huaaa~Papa sakit, hentikan!!" Teriak Jordan memohon. Air matanya sudah membanjiri wajahnya.


"Aku akan mengampunimu setelah kau menemui Tuan Xiao dan meminta ampun padanya. Berlutut dan cium kakinya kalau perlu, kita harus mendapatkan kembali kontrak kerja sama itu."

__ADS_1


"AKU TIDAK MAU!!"


"KAU SUDAH BOSAN HIDUP?!"


"BAIK-BAIK, AKU AKAN PERGI MENEMUINYA!!"


-


Cklekk...!!!


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian dua pria didalam ruangan itu. Sosok Aster memasuki ruangan sambil menenteng dua kantung berisi makanan dan minuman .


Wanita itu mengerutkan dahinya melihat wajah muram suaminya. Diletakkan kantong itu di atas meja lalu menghampiri Nathan. Aster duduk di pangkuan Nathan dengan manja sambil menggesek kej*nt*nan milik Nathan yang mode off.


Tatapan nakal Aster memberikan sinyal agar Nathan melakukan lebih, laki-laki itu meraih bibir Aster dengan bibirnya dan mel*matnya singkat. Parahnya lagi mereka melakukannya di depan Cris.


"KKKKYYYAAAA MEREKA MES*M!" Jerit Cris histeris melihat live kiss di depannya.


Untung saja ruangan itu kedap suara sehingga teriakan keras Cris tidak terdengar sampai keluar ruangan, tidak ada CCTV juga didalam ruangan itu.


Dan satu-satunya saksi mata live kiss Aster-Nathan, yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya panas dingin adalah Cris.


Live kiss itu masih berlangsung meskipun 4 menit telah berlalu, penampilan mereka pun sudah tidak serapi sebelumnya. Dress hitam yang membalut tubuh Aster tersingkap keatas, resleting yang ada dibalik punggungnya turun hingga mencapai pinggangnya.


Begitu pula dengan Nathan, tiga kancing teratas pada kemeja putihnya terbuka dan bagian bahunya tersingkap hingga terlihat singlet hitam yang menjadi lapisan dalam kemejanya.


Lama kelamaan ciuman itu menjadi lum*tan, Nathan berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulut Aster. Aster yang menyadari keinginan sang suami dengan senang hati mempersilahkan lidah Nathan untuk menjelajahi isi di dalam mulutnya.


Nathan semakin ganas, lidahnya melilit lidah Aster. Mengajak lidah itu untuk ikut menari bersamanya.


Beberapa menit telah berlalu, namun mereka masih sama-sama enggan untuk mengakhiri ciuman panasnya meskipun sama-sama menyadari jika paru-paru mereka telah sama-sama kosong dan membutuhkan asupan oksigen.


"Sayang, bagaimana jika kita bersenang-senang sebentar!" Nathan melepas tautan bibirnya dan menatap Aster dengan gerlingan mes*mnya.


"Kau gila, Paman ini di kantor? Lagi pula ini masih siang, Paman!" ujar Aster sedikit cemas.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin bersenang-senang denganku, hm?" Nathan menurunkan Aster dari pangkuannya, kemudian bangkit dari duduknya, Ia mendudukkan Aster di atas meja.


"Apa kau tidak takut jika Paman Cris tiba-tiba nyelonong masuk?"


"Siapa yang peduli!" ujarnya dan segera mel*mat bibir Aster untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada penolakan, Aster malah membalas ciuman Nathan meskipun awalnya dia merasa cemas.


Nathan melahap habis bibir peach itu tanpa ampun, bukan hanya bibir saja. Ciuman Nathan semaki turun dan turun lagi.


Dan setelah puas menjelajahi leher putih Aster, ciuman itu beralih pada dad*nya. Kain brokat berharga mahal yang membungkus tubuh Aster sudah tidak Serapi sebelumnya, bagian dadanya juga sudah tereksposh hingga tampak dua gundukan yang tersembunyi dibalik br* hitam berendanya.


Tak mau kalah dari Nathan, Aster juga membuka kemeja putih itu dari tubuh kekar suaminya, hanya tersisa singlet hitam yang memperlihatkan sebagian dada kekar Nathan yang menggoda.


"Kali ini aku akan mendominasimu!" Aster mendorong tubuh Nathan dan mendudukkan laki-laki itu dikursi. Tangan seputih porselen itu masuk ke dalam celana Nathan, memainkan dan memijit junior milik Nathan yang telah berdiri tegap sempurna.


"Ohhhh.... Aaaahhhh!"


Nathan mendongakkan wajahnya . Kedua matanya terpejam menikmati setiap sentuhan jari lentik Aster yang bermain-main dengan sosis beruratnya. Wanita itu menyeringai melihat Nathan yang begitu menikmati permainannya.


Seperti yang disampaikan, Aster benar-benar ingin menguasai permainan dan tidak membiarkan Nathan memenangkan permainan itu.


Aster dengan cepat menyatukan bibirnya dengan bibir Nathan ketika melihat bibir itu terbuka, Nathan mendesah kenikmatan.


Tanpa ragu Aster mel*mat bibir Nathan dan tidak memberi kesempatan untuk laki-laki itu mengambil alih ciumannya. Lidah Aster sudah berada di dalam mulut Nathan, entah sejak kapan. Lidah itu menabsen deretan gigi putih pria itu dan sesekali mengajak lidah Nathan untuk menari bersama.


Aster mengangkat bagian bawah dressnya dan mendudukkan dirinya di atas pangkuan Nathan, setelah menurunkan celananya hingga sebatas paha. Kebanggaan milik Nathan telah menegang dan siap untuk memanjakan Aster.


"Aaahhhhh!"


Aster mendesah kenikmatan saat sosis berurat milik Nathan berhasil masuk ke dalam liang Miss-nya. Nathan membantu Aster dengan menggerakan pinggul wanita itu dengan gerakan naik turun dalam tempo cepat.


Nathan kembali meraup bibir Aster dan mel*mat habis bibir wanitanya, kedua tangannya memeluk pinggang ramping Aster hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.


"Aku benci didominasi, dan permainan kali ini aku yang mengambil alih!" ujar Nathan sebelum meraup bibir menggoda Aster untuk yang kesekian kalinya.


Meskipun tidak menyetujui keputusan Nathan. Toh akhirnya Aster mengalah dan membiarkan Nathan mendominasi dirinya. Lagipula apa yang akan Nathan lakukan tidak merugikannya juga. Justru dia begitu menikmatinya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2