"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Firasat Buruk


__ADS_3

Nathan kembali meneguk cairan berwarna merah itu langsung dari botolnya. Itu adalah botol kelima. Kesadarannya pun perlahan mulai menghilang dan Nathan merasakan bagian tengkuknya seperti ditimpa batu besar.


Perbincangannya dengan Nenek Xiao beberapa waktu yang lalu membuat pikirannya kacau. Otaknya tidak bisa digunakan untuk berpikir secara jernih.


Sebuah kebenaran yang Nenek Xiao sembunyikan darinya selama ini membuat dada Nathan berdenyut nyeri.


Semua menjadi begitu rumit dan tidak masuk akal. Nathan tidak ingin mempercayainya, tapi tidak mungkin jika Nenek Xiao membohongi-nya. Dan fakta itu membuat Nathan begitu di lemah.


"Nathan, dimana Aster? Kenapa Nenek tidak melihatnya sama sekali? Bahkan dia melewatkan makan malam, apa dia memberitahumu dia akan pergi kemana?"


Sontak saja Nathan mengangkat kepalanya."Dia melewatkan makan malam?" Nenek Xiao mengangguk. "Tidak biasanya, aku juga belum melihatnya sedari tadi."


"Kami melihatnya pergi," sahut Gavin.


"Aster Nunna terlihat menangis saat kembali dari kamar Paman, tapi sepertinya dia belum sampai masuk ke dalam sudah berlari sambil menangis." Tutur Rio.


"Jam berapa kalian melihatnya pergi?" Tanya Nathan.


"Sekitar pukul 5," Gavin menjawab.


"Oh, sial!!" Nathan menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja.


Firasat buruk terbersit dalam benak Nathan saat ini. Membuatnya merasa sulit hanya untuk sekedar menelan ludah.


Dia tentu tahu apa penyebabnya, dan tiba-tiba saja perasaan kehilangan menghinggapi dirinya. Seperti ada lubang kosong tak terlihat di hati. Membuat perih seluruh tubuh bahkan sampai ke ujung jari.


Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia harus mencari Aster dan memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Dan Nathan tidak mungkin bisa memaafkan dirinya jika hal buruk sampai terjadi padanya.


-


Di tempat dan lokasi berbeda. Terlihat seorang gadis yang tampak kebingungan karena tak tau arah jalan. Mobilnya tiba-tiba saja mogok dan habis bensin, dan dia tinggalkan begitu saja.


Gadis itu yang pastinya adalah Aster, hanya terus saja berjalan mengikuti kemana langkah kakinya akan membawa dirinya. Aster memperhatikan sekeliling.


"Kenapa tempat ini seram sekali? Paman, kau dimana? Aku ingin pulang." Ujar gadis itu setengah merenggek.


"DOOR..." Bentak beberapa pemuda dan membuat Aster terlonjak kaget.


"Yakk!! Belatung nangka, kalian sudah bosan hidup ya? Berani-beraninya kalian mengejutkanku?" Teriak Aster marah.


"Nona cantik, kau galak sekali sih? Dan kenapa sendirian saja? Bagaimana kalau kami temani, kita bisa bermain dan bersenang-senang." Ucap salah satu dari kelima preman itu.


Aster menyentak tangan pria itu dari dagunya kemudian menendangnya hingga pria itu jatuh tersungkur di tanah, dan hal tersebut tentu saja mengundang marah teman-temannya.

__ADS_1


"Gadis sialan, berani sekali kau!!" Teriak geram seorang pria dengan tatto yang hampir memenuhi wajahnya.


Aster mundur beberapa langkah kebelakang. Gadis itu yang hanya sendiri dikeroyok empat orang sekaligus, jika hanya empat orang saja, bagi Aster tentu saja itu bukan masalah. Dia bisa menghadapi dan menghabisi mereka semua.


Dua orang berhasil dia lumpuhkan, terhitung sudah tiga dengan orang yang tadi dia tendang sampai tersungkur di tanah. Dan hanya menyisahkan dua orang saja.


"Aahhh, Sial. Kenapa pundak-ku harus sakit segala sih?!" Gerutu Aster merutuki pundaknya yang sebelumnya telah cidera.


Tubuh Aster terhuyung kebelakang dan hampir saja jatuh terjengkang setelah dia menahan tendangan yang mengarah ke-ulu hatinya.


Mungkin saja Aster sudah berakhir di tanah jika saja tidak ada seseorang yang menahannya dari belakang. Sontak saja Aster menoleh, matanya membelalak ketika sepasang hazel miliknya bertemu pandang dengan mata tajam seorang pria.


"Paman Nathan!!" Aster memekik.


"Kau mundur-lah dulu, biar Paman yang menyelesaikan mereka." Nathan menarik Aster untuk berdiri dibalik punggungnya.


Gadis itu mengangguk. "Paman, hati-hati. Mereka bersenjata," ucap Aster memperingatkan.


"Hn, aku tau."


Perkalian itu pun berjalan kurang dari 5 menit. Hanya dalam hitungan menit saja Nathan berhasil menumbangkan mereka berdua. Kelima preman itu pun tunggang langgang meninggalkan mereka berdua. Hanya tersisa Aster dan Nathan saja.


"Paman ... Huaaa.." Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster yang begitu tiba-tiba.


"Hiks, tempat ini sangat menyeramkan. Ayo, bawah aku pergi dari sini. Belikan aku makanan, aku kelaparan." Rengek-nya memohon.


.


.


.


Aster terus menundukkan kepala setelah diomeli Nathan habis-habisan. Dan Aster tak bisa berkutik sedikit pun, jangankan untuk membalas ucapannya, untuk menatap matanya saja dia tidak berani.


Nathan mendengus berat. "Sampai kapan kau hanya menundukkan kepala sambil memonyongkan bibirmu seperti itu, Aster Xiao. Kau ingin tetap disini atau pulang?"


Sontak saja Aster mengangkat kepalanya."Pulang," jawabnya setengah merengek.


"Cepat naik." Pinta Nathan dingin. Dan Aster hanya bisa mengangguk pasrah.


Sepanjang perjalanan keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak ada percakapan diantara keduanya. Nathan yang terus fokus pada jalanan, sedangkan Aster menatap keluar kaca jendela.


Sesekali Nathan menatap gadis yang duduk disampingnya dan mendesah berat. Pria itu menepikan mobilnya dan tanpa komando dia langsung mencium bibir Aster dengan keras. Menghisap dan melum** bibir itu atas dan bawah bergantian.

__ADS_1


Tak ada perlawanan dari Aster. Aster justru menerima ciuman itu dengan baik. Bahkan posisi mereka kini berubah, Aster duduk mengangkang dipangkuan Nathan.


Nathan melepas ciumannya dan menatap Aster dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Paman, apa kau akan membuangku setelah ini? Setelah kau tau jika aku adalah cucu dari orang yang telah membunuh ayahmu," tanya Aster sambil mengunci manik kiri milik Nathan.


"Bodoh jika kau berpikir begitu. Aku tidak mungkin membuangmu hanya karena kau adalah cucu dari bajingan itu. Jangan pernah kabur lagi apalagi menghilang dari pandanganku, aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilanganmu."


Aster mengangguk. "Baiklah, Paman. Aku berjanji." Nathan tersenyum lebar. Sekali lagi dia membawa Aster ke dalam pelukannya, mendekap tubuh gadis itu dengan sangat erat.


Aster pikir semua akan berakhir hari ini. Dia pikir ia akan kehilangan Nathan untuk selamanya, tapi ternyata Tuhan masih menyayanginya, Tuhan membiarkan Nathan untuk selalu berada disisinya.


"Kau ingin kemana sekarang?" Tanya Nathan.


"Makan, kita tadi kan belum jadi makan." Nathan tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


.


.


.


Disini mereka sekarang. Nathan membawa Aster pergi ke restoran yang sering mereka datangi. Saat ini Aster tengah menikmati makan malamnya dengan sangat lahap, sedangkan Nathan hanya memesan kopi saja.


Pandangan Nathan menyapu, memindai semua orang yang berada di restoran ini. Dan meskipun hanya sekelebat saja, dia melihat siluet Riyana ada disekitar tempatnya dan Aster berada.


"Aster, Paman ke toilet dulu." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


Nathan berlari keluar untuk mengejar Riyana, dan tanpa Nathan duga, dua pria menghampiri meja Aster dan langsung membius gadis itu hingga dia tak sadarkan diri. Rupanya itu jebakan untuk mengalihkan perhatian Nathan.


"Oh, sial!!" Nathan menggeram marah ketika melihat dua orang mencoba membawa Aster yang sedang tak sadarkan diri pergi dari sana.


Ponsel dalam saku celana Nathan berdering. Ada panggilan masuk dari salah satu orang kepercayaannya.


"Boss, mereka membawa Nona ke arah barat. Sepertinya kearah pelabuhan."


"Ikuti mobil yang membawa Aster, aku akan segera menyusul." Ucap Nathan.


"Baik Boss." Jawabnya.


Tangan Nathan terkepal kuat. Aura suram mulai menyelimuti dirinya, dan amarah mulai mengambil alih kewarasannya. Tidak akan ada yang tau bagaimana nasib dua orang itu selanjutnya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2