"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kebahagiaan Yang Singkat


__ADS_3

Nathan segera berdiri dari duduknya ketika melihat seorang Dokter keluar dari UGD. Nathan menghampiri dokter setengah baya itu untuk menanyakan kondisi Aster dan janinnya.


"Apa mereka baik-baik saja?"


"Silakan masuk keruangan saya"


Nathan mengangguk, kemudian dia mengikuti dokter dan memasuki ruangan


Dokter itu memandang Nathan dengan tatapan serius. "Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan calon anak Anda. Rahimnya begitu lemah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkata lain."


Dunia seakan runtuh, calon anak yang dinantikan sudah tiada. Semuanya menjadi gelap dan kebahagiaan itu hancur seketika, manakala mendengar bahwa anaknya sudah tidak ada dirahim Aster lagi.


Tanpa mengatakan apapun, Nathan meninggalkan ruangan dokter dan berjalan menuju ruangan tempat Aster dirawat.


Dia tidak bisa menahan air matanya, anaknya telah tiada. Bagaimana dia harus memberitahukan kepada Aster nanti? Hatinya pasti hancur. Sangat hancur.


"Nathan.." Nenek Xiao bangkit dari duduknya dan menghampiri cucu kesayangannya.


"Semua baik-baik saja bukan? Apa yang dikatakan oleh dokter?" Nenek Xiao menyentuh pundak cucunya itu.


Nathan menggeleng. "Aster mengalami keguguran. Kandungannya terlalu lemah, dan sekarang anak kami telah pergi.." ucapnya lirih.


Nathan menundukkan wajahnya. Sorot matanya yang biasanya tajam kini terlihat pilu, Aster masih belum sadarkan diri. Orang-orang yang berada dalam ruangan Aster tampak sedih. Terutama Nathan.


Nathan menggenggam erat tangan Aster, mencoba menguatkan dirinya juga Aster. Nathan tidak tau bagaimana caranya harus memberitahu pada Aster tentang hal buruk yang tengah menimpa mereka saat ini.


Kebahagiaan yang mereka rasakan begitu singkat. Tuhan mengambil kembali apa yang sebelumnya dia titipkan pada Aster. Mungkin karena Tuhan belum mempercayai mereka untuk menjaga titipannya. Meskipun hancur, tapi Nathan mencoba untuk tetap tegar.


.


.


.


Sudah tiga jam. Namun Aster belum juga ada tanda-tanda jika Aster akan segera sadar. Mungkin karena pengaruh obat biusnya belum hilang, atau karena hal lain.


Nathan meletakkan kepalanya di samping Aster, kedua tangannya menggenggam tangan wanita itu.


"Paman,"


Nathan yang mendengar suara lirih Aster terbangun dan mendekat


"Aster, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang kau keluhkan?"

__ADS_1


Aster mengangguk. "Perutku sakit, Paman. ah~"


Nathan menahan ketika Aster mencoba untuk duduk "Jangan memaksakan diri," pintanya.


Aster mengangkat wajahnya. Manik hazelnya mengunci sepasang mutiara coklat milik Nathan."Paman, bagaimana dengan anak kita? Dia baik-baik saja bukan?"


Deg


Pertanyaan yang paling tidak ingin didengarnyapun keluar dari bibir Aster. Nathan bingung harus menjawab apa sekarang. Haruskah dia mengatakan yang sekarang.


Jika Nathan berkata jujur, pasti hati Aster akan hancur. Tapi dia jika tetap menyembunyikannya, lambat laun pasti Aster akan segera mengetahuinya.


Aster mengelus perutnya dan merasakan hal yang berbeda. Entah kenapa dia merasa jika perutnya menjadi lebih rata, atau mungkin hanya perasaanya saja, sungguh Aster merasakan sesuatu yang berbeda?


"Sebaiknya sekarang jangan memikirkan apapun. Kau harus istirahat supaya keadaanmu bisa segera pulih," Tuturnya.


"Paman, kau belum menjawab pertanyaan ku. Bagaimana dengan anak kita? Bagaimana dengan janin di dalam perutku? Si Utun, apa dia baik-baik saja?"


Nathan meraih bahu Aster dan menenggelamkan wajah cantik istrinya ke dalam dada bidangnya, dan memeluknya hangat. Melihat sikap Nathan yang tidak biasa membuat perasaan Aster menjadi tidak enak.


"Dengarkan aku, Aster~"


Nafasnya begitu berat, masih dalam posisi memeluk Aster, Nathan memejamkan matanya. Lidahnya terasa keluh, berat bagi Nathan untuk menyampaikan kabar duka ini.


Nathan menutup matanya dan semakin mempererat pelukanya. Perasaan Aster semakin tidak karuan. "Anak kita kenapa, Paman?"


"Anak kita sudah pergi sayang.. dia sudah tidak tinggal dirahimu lagi"


Deggg...


Aster tersenrak. Matanya membelalak. Mengetahui arti dari perkataan Nathan tidak main-main, Aster menggelengkan kepalanya, sementara air matanya sudah jatuh bercucuran membasahi wajah cantiknya.


"Paman, kau pasti becandakan? Dia masih hidupkan?"


Nathan melepas kasar pelukan suaminya, dan langsung menatap mata Nathan untuk mengetahui bahwa apa yang dibiacarakan hanya bercandaan semata. Namun ia tidak menemukan kebohongan dalam tatapan itu.


"Sayang, tenangkan dirimu dan dengarkan aku baik-baik.."


Aster menggeleng kuat "Tidak.. Paman kau pasti becandakan kan? Dia masih hidup.. dia masih ada disini kan?" Aster mengusap perutnya. Nathan menggeleng lemah.


Sebulir air mata jatuh dari mata hazelnya. Sungguh Nathan tidak sanggup melihat istrinya bersedih seperti ini.


"Sayang, tenanglah. Tenangkan dirimu~"

__ADS_1


"Tidak, Paman, tidak.. anak kita masih hidup kan. Katakan jika anak kita masih hidup."


Nathan mendongakkan kepalanya. Mencoba menghalau cairan bening yang kini menggenang di pelupuk matanya.


Hatinya hancur melihat Aster seperti ini. Dan dia bisa merasakan kehancuran hati Aster.


Dia memang hancur, tapi Aster lebih hancur. Air mata Aster terus berjatuhan, Nathan merasa dadanya sesak, dengan sesuatu yang menghantamnya begitu dalam.


-


Usai mengetahui kenyataan bahwa anak yang dikandungnya telah tiada, Aster menjadi depresi berat. Dia menjadi sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan itu pada Nathan sekalipun.


Satu bulan telah berlalu. Namun Aster masih belum bisa melupakan kesedihannya. Dia begitu kehilangan.


Mungkin bagi orang lain, hal yang Aster alami adalah hal yang biasa. Dan terkadang ada yang menganggap keguguran adalah hal yang wajar dan bisa terjadi dan menimpa siapa pun.


Namun bagi seorang wanita yang baru akan menjadi seorang ibu, tentu hal itu menjadi sebuah pukulan terberat dalam hidupnya.


Mereka sedang rtidur dengan posisi kaki saling bertautan satu sama lain. Sebelah tangan Nathan melingkari perut Aster.


"Aster~"


Nathan berkata lirih manakala wanita itu hanya tidur membelakanginya. Tak ada respon darinya, Nathan mengelus permukaan kulit lengan Aster yang tertutup kain tipis gaun tidurnya, dan mencium puncak kepala istrinya dengan posisi Aster yang membelakanginya.


Tak ada respon dari Aster. Nathan pun bangkit dari ranjang mereka, meninggalkan Aster yang masih tertidur dengan posisi memunggungi, meskipun sebenarnya Aster sudah terbangun dari tadi, namun dia tetap memilih untuk diam.


Nathan memandang punggung Aster sejenak, kemudian dia beranjak dan pergi kekamar mandi. Sungguh, kejadian hari itu membuat Nathan kehilangan sosok istri kecilnya yang periang dan barbar.


Sepuluh menit kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi dan mendapati Aster yang sedang berdiri di balkon. Nathan meletakkan handuknya lalu menghampiri wanita itu.


"Paman,"


Wanita itu sedikit tersentak saat merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Wanita itu menoleh, sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Mandilah dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


"Baiklah." Kemudian Aster melepaskan pelukan Nathan dan pergi begitu saja. Meninggalkan pria itu yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Nathan menatap Aster yang berjalan ke arah kamar mandi dengan tatapan tak terbaca. Sungguh Nathan merasa kehilangan sosok Aster yang dulu.


Dan Nathan tidak tau lagi bagaimana caranya harus mengembalikan senyuman di bibir Aster yang hilang.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2