"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 32)


__ADS_3

Nathan hanya menatap datar beberapa pria yang terkapar di tanah dalam keadaan tak bernyawa. Nathan tidak tau siapa yang telah menyuruh mereka untuk menghabisinya. Apa orang itu sudah bosan hidup sampai-sampai berani mencari masalah dengannya.


Ctreek...


Nathan menodongkan pistolnya pada satu-satunya orang yang masih bernyawa. Dia sengaja menyisakan satu untuk tetap hidup sebelum akhirnya ia lenyap kan juga. "Cepat katakan siapa yang sudah menyuruh dan mengirim kalian untuk membunuhku?!"


"A..aku tidak akan memberitahumu meskipun kau membunuhku!!!"


"Oh, jadi kau lebih suka mati dari pada hidup?! Baiklah, akan aku kabulkan jika memang itu yang kau inginkan!!! Tapi aku masih mau berbaik hati dan memberimu waktu untuk berpikir, 10 detik. Aku akan memberimu waktu 10 detik untuk berpikir."


Nathan benar-benar ingin tau siapa yang menyuruh orang-orang ini. Dan dia bersumpah akan menghabisi orang tersebut dengan tangannya sendiri. "Su...sudah aku bilang, aku tidak akan memberitahu~"


CRAKKK!!!


Nathan menyaduk muka pria itu dengan gagang pistolnya. Membuat dua gigi depannya terlepas. Cairan merah segar pun langsung memenuhi mulutnya. Dengan kasar kemudian Nathan menarik rambut pria tersebut hingga kepalanya mendongak kebelakang.


"Ini adalah kesempatan terakhirmu. Sekali lagi aku bertanya, siapa yang mengirim kalian untuk membunuhku?! Jika kau kau bekerjasama, aku akan membiarkan kau tetap hidup."


"Se...sebenarnya yang menyuruh saya adalah...."


Jlebbb...


"Aaahhhh..."


Sebuah belati beracun menembus punggung pria tersebut sebelum dia menyebutkan nama orang yang mengirimnya. Dan akhirnya Nathan tetap tidak mendapatkan petunjuk apapun.


Pria itu lalu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, tapi tak menemukan lokasi si pelempar pisau itu berada. Tapi Nathan bersumpah, cepat atau lambat dia pasti akan menemukan siapa orang tersebut.


-


"Daddy!!!"

__ADS_1


Tubuh Lucas terhuyung kebelakang karena pelukan putrinya yang tiba-tiba. Laurent langsung berlari dan menubruk ayahnya saat melihat kedatangannya.


"Akhirnya Daddy pulang juga. Kami sudah menunggu Daddy untuk makan malam. Ayo, Mami sudah memasak banyak makanan enak kesukaan Daddy." Tuturnya.


Nathan tersenyum lebar. Dengan senang hati dia menyambut uluran tangan putrinya. Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju meja makan. Di sana sudah ada Aster, Cris, Zhoumi, Gavin dan Rio. Semua orang sudah menunggunya.


Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Hatinya menghangat melihat semua orang tersenyum lebar padanya. Betapa beruntung hidup yang dia miliki ini, dia memiliki orang-orang yang teramat menyayanginya dan berarti di dalam hidupnya.


Nathan melepas jasnya kemudian menghampiri mereka dan bergabung untuk menyantap makan malam bersama. Canda tawa, senyum bahagia mewarnai kebersamaan mereka di meja makan.


"Bibi, makanan ini sangat lezat. Kau semakin jago sama memasak. Huaaa.. Kalau setiap hari masakan mu seperti ini terus, aku dan bocah ini bisa tumbuh dengan baik, kekeke."


Rio mengangguk. Menyetujui apa yang Gavin katakan. Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya di warnai keheningan, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.


.


Grepp...


"Ada apa, hm?" Ucap Nathan sambil menggenggam jari-jari lentik Aster yang melingkari perutnya.


Wanita itu menggeleng. Kemudian Nathan melepaskan pelukannya. Posisinya dan Aster saling berhadapan. Nathan menarik pinggul Aster dan membunuh jarak diantara mereka. Pria itu tersenyum lebar. Biner mata kirinya menatap Aster dengan penuh kelembutan.


"Paman, kenapa semakin hari kau semakin tampan saja." Kata Aster sambil menggerakkan jari-jarinya di wajah Nathan.


"Benarkah?" Aster mengangguk. "Kalau begitu aku akan memberikan penghargaan untuk pujian mu itu." Ucap Nathan kemudian mencium singkat bibir Aster.


"Tapi aku tidak puas dengan penghargaan yang aku dapatkan. Biarkan aku mengambil sendiri penghargaan ku!!!"


Selanjutnya Aster membenamkan bibir Nathan di dalam bibirnya. Jika biasanya Nathan yang memulainya duluan, maka tidak dengan saat ini. Aster lah yang memulainya dan menguasai ciuman mereka. Bibir Aster terus bergerak untuk mel*mat dan memagut bibir Nathan.


Dia terus menginvasi bibir suaminya. Tapi sayangnya Lucas tak membiarkan hal tersebut berlangsung lama, dia mengambil alih ciuman tersebut dan kini keadaan sepenuhnya dikuasai oleh Nathan.

__ADS_1


Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang Aster, sedangkan tangan satu lagi menekan tengkuknya. Ciuman mereka yang awalnya begitu lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


"Eeemmppp..." Des*han keluar dari sela-sela bibir Aster ketika Nathan menciumnya semakin keras.


Posisi mereka tidak lagi berdiri, Nathan mengurung Aster dibawah tubuh kekarnya. Entah sejak kapan, semua benang telah tertanggal kan dari tubuh masing-masing."Kau sudah siap untuk hal yang lebih luar biasa?" Nathan menatap Aster dengan seringai yang tercetak di bibir Kiss Able nya.


"Tentu saja, manjakan aku malam ini dan jangan berhenti sampai aku benar-benar puas."


Nathan menyeringai untuk kesekian kalinya."Bukan masalah besar, Sayang. Malam ini kau akan mendapatkan yang spesial dariku!!!" Kembali Nathan membenamkan bibirnya pada bibir Aster, dan menciumnya seperti tadi. Ciuman itu sangat kasar dan frontal. Membuat Aster berkali-kali mendesah kenikmatan.


Dan malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua. Aster dan Nathan akan saling berbagi cinta dan kehangatan dengan berbalut sinar temaram sang penguasa malam.


Menjadikan malam yang dingin ini sebagai acuan untuk mereka bisa merasakan kenikmatan yang tiada ujungnya. Malam penuh cinta.


-


Percintaan mereka telah berakhir sejak dua jam yang lalu. Tapi baik Aster maupun Nathan sama-sama masih terjaga. Sebenarnya Aster sudah mengantuk, tapi dia sulit untuk tidur, begitu pula dengan Nathan.


Pasangan suami istri itu sedang berdiri di balkon kamar mereka. Mereka membicarakan hal yang serius dan itu berhubungan dengan putra-putrinya, yakni Laurent dan Rey. Mereka sudah semakin besar dan Nathan mulai memikirkan masa depan mereka, Laurent terutama.


"Aku sudah menyimpan tabungan dalam jumlah besar untuk pendidikan mereka berdua nantinya. Kita tidak tau apa yang akan terjadi pada kita esok atau lusa, bahkan hari ini."


"Bagus jika aku berumur panjang. Seandainya Tuhan menjemput ku lebih awal, setidaknya aku sudah memiliki tabungan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk mereka berdua."


Aster menghela napas panjang. "Ya, itu juga yang aku pikirkan. Dan aku selalu meminta pada Tuhan agar diberi umur panjang, aku masih ingin melihat anak-anakku tumbuh dewasa dan menikah. Tuhan akan sangat tidak adil jika menjemput kita terlalu awal." Ujarnya panjang lebar.


Kemudian Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya. Dan mendekap wanita itu dengan erat. "Tuhan pasti akan mendengarkan dan mengabulkan doa para hambanya, aku ingin melihat sampai mereka menikah dan memiliki anak serta cucu."


"Aku juga berharap demikian."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2