"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Janda Beranak 3


__ADS_3

Sebuah mobil sport merah baru saja memasuki parkiran cafe. Seorang pemuda terlihat keluar dari mobil tersebut dan berjalan memasuki cafe.


Di dalam sana beberapa pemuda lain sudah menunggunya, ada satu perempuan di antara ketiga pemuda tersebut. "Kau terlambat lima menit, Bung." Ucap seorang pemuda berambut hitam cepak.


"Ada hal penting yang harus aku urus dan aku selesaikan."


"Aku sudah memesankan makanan kesukaanmu," ucap satu-satunya wanita yang ada di meja itu. "Jordan, apa kau sudah mendengar sebuah kabar?" Tanya perempuan itu yang pastinya adalah Veronica.


Jordan memicingkan matanya. "Kabar apa?"


"Aku dengar polisi membuka kembali insiden satu tahun yang lalu. Jika kasus itu sampai di buka kembali, kemungkinan besar kau dan mereka bertiga bisa langsung menjadi tersangka!!"


"Untuk apa kau panik dan cemas. Apa kau melupakan siapa orang tuaku? Jika uang sudah berbicara, memangnya masalah apa yang tidak bisa di selesaikan?!"


"Jika aku dan mereka bertiga sampai tertangkap, papa bisa menyewa puluhan pengacara untuk membebaskan kami, beres kan?!"


Veronica mendecih dan menatap sebal sahabatnya itu. Beginilah Jordan, dia selalu menganggap enteng sebuah masalah. Hanya karena orang tuanya kaya raya dan memiliki banyak uang, Jordan jadi lebih sering bersikap semena-mena.


"Terserah kau saja. Yang penting aku sudah mengingatkanmu!!" Ucap Veronica setengah sebal.


Perbincangan mereka berdua diinterupsi oleh kedatangan seorang pelayan yang datang mengantarkan makanan penasaran mereka.


Dan kedatangan pelayan itu membuat Jordan dan teman-temannya sampai tidak berkedip saking cantiknya. Mereka terpukau lebih tepatnya.


Pelayan itu memakai sebuah dress hitam berkombinasi putih. Kulitnya putih dan halus, wajahnya cantik dan rambutnya di kepalang dua. Tak ketinggalan polesan make up tipis pada wajahnya.


"Nona, apa kau pelayan baru di cafe ini? Kami baru melihatmu hari ini." Ucap salah satu teman Jordan.


Pelayan itu mengangguk. "Ya, baru hari ini aku bekerja di sini."


"Kau sangat cantik dan imut, kenapa mau bekerja? Kenapa tidak diam di rumah saja dari pada bekerja dan berkeringat?"


Pelayan itu menghela napas. Dia mengeluarkan jurus mautnya dengan memasang mimik muka sedih. "Jika aku tidak bekerja, lalu bagaimana aku harus menghidupi anak-anakku?"


Keempat pemuda itu sontak membelalakkan matanya."Apa?! Jadi kau sudah memiliki anak? Rasanya sangat mustahil, kau sangat imut terlihat seperti gadis remaja."


"Mungkin itu karena aku sering melakukan perawatan wajah dengan menggunakan kot*ran kambing."


"Sebenarnya aku sudah berusia 30 tahun, aku janda tiga anak, suamiku meninggal karena penyakit kurap dan panu. Dan aku menjanda saat sedang hamil 11 bulan. Anak ketiga ku lahir setelah 12 bulan di dalam kandungan." Tuturnya.

__ADS_1


Keempat pemuda itu tercengang begitu mendengar cerita si pelayan. Sementara Veronica sudah pergi entah kemana, perutnya tiba-tiba mual karena perawatan 'kot*ran kambing'.


Rasanya sulit di percaya jika pelayan cantik itu ternyata seorang janda dan memiliki tiga anak. Sulit di cerna oleh otak kematian suaminya karena penyakit yang sebenarnya tidak bahaya, di tambah lagi hamil 12 bulan. Apa pelayan ini siluman?!


"Jangan memandangku seperti itu. Aku tidak butuh belas kasihan dari kalian. Tapi jika kalian ingin memberikan uang sebagai sumbangan beli susu anak-anakku, aku juga tidak akan menolak."


Merasa kasihan dan iba. Jordan dan ketiga temannya itu memutuskan untuk patungan dan membantu si pelayan cantik itu. Jordan memberikan uang pada pelayan bernama Ria itu dan meminta dia tidak menghitung jumlah nominalnya, tapi ketulusan mereka.


"Aku tau, tapi uang segini tidak akan cukup untuk membeli susu dan popok. Jika kalian memang dermawan. Setidaknya satu orang memberikan santunan padaku 2,5 juta won. Baru bisa bermanfaat."


"Kau ingin meminta sumbangan atau memeras mereka?!" Seru Veronica yang baru saja kembali dari toilet.


"Kau jahat, Nona. Bagaimana bisa kau menuduhku sebagai tukang peras. Aku hanya bicara yang sebenarnya dan apa adanya. Kalian lihat pemuda o'on yang duduk di sana? Dia adalah kakakku, dia sudah besar tapi bodoh!!" Orang yang di maksud melambaikan tangan pada mereka berempat.


Tiba-tiba Jordan bangkit dari duduknya. Dia memberikan sebuah cek berisi 10 won pada Ria. "Kau ambil cek ini dan segera cairkan di Bank. Aku adalah orang kaya, dan aku tidak perlu patungan hanya untuk membantumu!!"


Pelayan bernama Ria itu menyahut cek tersebut dari tangan Jordan lalu memasukkan ke dalam BH nya. "Kau sangat baik dan murah hati, Tuan. Terimakasih, semoga Tuhan yang membalasnya. Saya akan mendoakan semoga kuburan Anda tidak sempit. Saya permisi dulu." Ujar Ria dan pergi begitu saja.


Ditengah langkahnya, pelayan bernama Ria itu menunjukkan cek tersebut pada pemuda bodoh yang dia akui sebagai kakaknya. Pemuda itu menggerlingkan sebelah matanya pada Ria.


Sesampainya di dapur. Pelayan itu melepaskan wig panjangnya dan menghapus make up-nya. Perempuan cantik itu pun berubah wujud menjadi Rio. Gavin dan Rio bekerjasama untuk mengerjai Jordan.


"Kau memang terbaik dalam hal menipu orang lain. Dan bodohnya mereka malah mempercayainya."


"Itu karena actingku sangat meyakinkan. Bukankah aku sangat berbakat menjadi seorang aktor?"


"Ya, apalagi peranmu sebagai janda beranak tiga."


"Hahaha~"


-


Aster menatap sinis beberapa karyawan Nathan yang terlihat tidak menyukai kedatangannya di kantor ayah angkat yang merangkap sebagai suaminya tersebut. Bahkan beberapa dari mereka sampai menghalangi Aster untuk lewat.


Wanita muda itu menghela napas panjang."Bibi, minggir-lah dan biarkan aku untuk lewat."


"Kalau kami tidak mau bagaimana? Gadis kecil, ayah angkatmu sedang rapat dan tidak bisa di ganggu. Jadi sebaiknya kau pulang saja."


"Apa Bibi buta dan tidak melihat apa yang aku bawah?! Aku datang untuk membawakan makan siang, Paman Nathan. Jadi jangan menghalangi jalanku, oke!!"

__ADS_1


Tubuh Aster terhuyung kebelakang karena dorongan salah satu dari ketiga perempuan itu. Aster mendengus berat. Sepertinya mereka benar-benar ingin membuat masalah dengannya.


"Minggir sekarang sebelum aku hilang kesabaran!!" Aster memberikan tatapan tajamnya pada ketiga wanita dihadapannya.


"Oh, sudah berani mengancam ya sekarang?" Ucap perempuan yang berdiri di tengah.


Aster menyentak tangan wanita itu dan menunjuk langsung tepat di mukanya."Jangan sembarangan menunjuk wajahku dengan jari kotor-mu itu, jika kau tidak ingin aku mematahkannya!!"


"Aaahhh!!" Aster meringis ketika salah satu dari mereka menarik rambutnya.


Aster yang tidak terima diperlakukan seperti itu langsung membalas dengan menjambak balik rambut wanita tersebut. Aster menarik kepala wanita itu pada salah satu bilik lalu mengambil sebuah gunting yang ada di atas meja.


"Paman, aku pinjam sebentar ya guntingnya." Ucapnya pada pria yang duduk di balik bilik tersebut.


Dengan brutal Aster menggunting rambut perempuan itu secara acak. Bahkan dia tidak peduli dengan teriakan dan makian wanita tersebut. "Yakk!!! Aster Xiao. Apa yang kau lakukan?! Jangan menggunting lagi, kau ingin membuatku jadi botak ya?!"


"Rasakan ini. Makanya jangan bermain-main denganku!!"


Sementara itu. Nathan yang mendengar suara keributan di luar, langsung keluar. Beberapa karyawan yang menyadari kedatangannya langsung membungkuk takut terlebih ketika melihat sorot tajam matanya.


"Ada apa ini?"


"Aaahhh,"


Aster yang mendengar suara Nathan langsung memainkan dramanya. Dia menjatuhkan dirinya di lantai setelah meletakkan gunting di tangannya pada perempuan yang dia gunduli tadi.


"Hiks, Paman, mereka bertiga menindasku. Mereka berusaha menyakitimu. Lihatlah luka di leherku. Dia berusaha untuk membunuhku."


"BOHONG!!" Wanita itu memekik kencang."Presdir, jangan percaya. Dia berbohong, lihatlah apa yang dia lakukan pada rambut saya."


"Jika aku berbohong, lalu apa artinya gunting yang ada di tanganmu itu? Hiks, Paman. Kau harus melindungiku, mereka bertiga menindasku. Padahal aku datang untuk mengantarkan makan siang ini untukmu." Tuturnya.


"Sebaiknya sekarang kita obati lukamu. Dan untuk kalian bertiga, kalian di skors selama satu bulan dan gaji kalian akan di potong sebesar 30%. Ini keputusan mutlak, Aster ayo."


Aster menoleh dan menatap mereka dengan senyum penuh kemenangan. Itulah akibatnya jika berani bermain-main dengan Aster.


Itulah kenapa banyak dari karyawan Nathan yang tidak berani membuat masalah dengannya, karena Aster dan Nathan tidak ada bedanya, mereka sama-sama mengerikan. Selain cantik, Aster juga sangat licik.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2