"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Perkelahian Sengit


__ADS_3

"Ahhh, nyamannya."


Aster merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur super empuk miliknya. Ia dan Nathan baru saja tiba di rumah.


Wanita itu segera menoleh setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Dan sosok Nathan terlihat memasuki kamar. "Kau tidurlah lebih awal, Paman mau mandi dulu." Nathan menepuk kepala coklat Aster dan pergi begitu saja.


Aster menuruti perintah Nathan. Bahkan tanpa diperintah pun ia akan tidur lebih awal. Aster merasa lelah dan sekujur tubuhnya terasa agak lemas, ditambah dengan nyeri datang haid yang dia alami.


Nathan membuka pintu kamar mandi dan mendapati Aster sudah tertidur pulas. Pria itu tersenyum lebar. Diusapnya kepala coklat Aster penuh sayang.


Perhatian Nathan langsung teralihkan oleh dering pada ponselnya. Pria itu beranjak dari duduknya. Nama Jung Hilman menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Nathan menggeser tanda hijau dan menerima panggilan tersebut.


"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?"


"Jika kau memang bukan pengecut. Datanglah ke rumahku. Ada pesta kecil-kecilan di sini. Bukankah kau sangat menyukai olah raga fisik? Dan aku memiliki banyak orang untuk menemanimu berolah raga."


Nathan menyeringai sinis. "Mencoba menantang ku, eh? Baiklah, aku akan datang sesuai permintaanmu!!" Kemudian Nathan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


Setelah memastikan Aster benar-benar telah tertidur pulas. Nathan pun pergi untuk bertemu dengan Hilman, dia sudah menyanggupi undangan pria tua itu.


"Leon, kau ikut denganku."


"Kemana Boss?"


"Tidak usah banyak tanya, naik saja. Dan kali ini biar aku sendiri yang mengemudikan mobilnya!!"


"Baik, Boss."


.


.


.


Sebuah mobil mewah melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Gelapnya malam tak membuat orang itu mengurangi sedikitpun kecepatan pada mobilnya.


Iris matanya yang tajam fokus pada jalanan beraspal yang dilaluinya. Sedangkan sosok pria yang duduk disampingnya tak henti-tentinya berkomat-kamit mengucapkan doa supaya dirinya bisa diberikan keselamatan oleh Tuhan.


Nathan menoleh dan menatap pria disampingnya dengan gemas. Leon begitu ketakutan setengah mati karena cara mengemudi Nathan yang terlewat ekstrime.


"Boss, kurangi sedikit kecepatannya. Aku jari ingin pipis dan ingin muntah."


Nathan mendecih. "Sebaiknya kau diam atau ku lempar kau keluar!!" Ancam Nathan bersungguh-sungguh.


Dan akhirnya Leon pun memilih untuk diam. Dia tidak ingin sampai di lempar keluar hidup-hidup oleh Nathan. Boss-nya itu memang sangat mengerikan, dan dia rajanya tega.


Dan setelah hampir 25 menit di penuhi ketegangan. Kini Leon bisa menghela napas lega. Mereka telah tiba di lokasi tempat Nathan dan Hilman akan bertemu.


Leon buru-buru turun dan lari kesemak-semak, di sana Leon menumpahkan semua yang ada di dalam perutnya.Perjalanan yang seharusnya di tempuh selama 1 jam, justru hanya ditempuh selama 25 menit oleh Nathan.


Dua orang pria menghampiri Nathan dan kemudian mengantarkan pria itu untuk bertemu dengan Boss mereka. Hilman memang sudah menunggu kedatangannya. Nathan masih belum tau apa tujuan Hilman mengajar dirinya bertemu.


"Boss besar sudah menunggu Anda di dalam."


Leon tidak diijinkan untuk ikut masuk ke dalam, hanya Nathan. Di dalam ruangan itu ada beberapa pria yang salah satunya Nathan ketahui bernama Ronald, dan Ronald adalah orang yang pernah nyaris tewas di tangannya.


Ronald hendak menghampiri Nathan, namun di cegah oleh Hilman. Hilman meminta Ronald untuk tenang. Meskipun dia tidak bisa tenang.


"Kendalikan emosimu. Kau bisa menghabisinya nanti."


Hilman menghampiri Nathan sambil merentangkan kedua tangannya. Seringai tajam tercetak dan menghiasi bibirnya.


"Kami sudah lama menunggumu, Nathan Xiao. Dan akhirnya kau datang juga. Bukankah sangat tidak sopan membiarkan kami semua yang lebih tua darimu, menunggu begitu lama?"


"Tidak usah bertele-tele dan berbasa-basi. Katakan saja apa tujuanmu mengundangku kemari?"


"Tenanglah, Nak. Kami hanya ingin mengajakmu bersenang-senang dan bermain sebentar. Bagaimana, bukankah kau menyukai olah raga malam?" Hilman menyeringai tajam."Tunggu apa lagi, serang dan beri pelajaran pada bocah kurang ajar ini."

__ADS_1


Kemudian Hilman memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk maju dan menyerang Nathan secara bersamaan.


"Orang-orang seperti kalian hendak memberikan pelajaran padaku? Bahkan aku tidak yakin kalian bisa menyentuhku?" Sinis Nathan dengan nada meremehkan.


Dan jawaban meremehkan Nathan membuat kelima pria itu murka bukan kepalang. Mereka segera menyerang Nathan secara bersamaan.


"Tunggu apa lagi, sebaiknya segera kita bereskan bocah sombong ini!!"


"SERANG!!"


Mereka merasa diremehkan. Hampir berbareng kelimanya meluruk ke arah Nathan. Mereka melayangkan serangan secara bersamaan pada Nathan. Gerakan mereka lebih cepat, kuat, dan teratur.


Di samping itu, lima pria bersetelan jas rapi ini mampu melakukan kerja sama yang baik. Dan Nathan merasa kagum dengan kerja sama mereka yang baik.


Mereka tidak kompromi lagi seperti sebelumnya. Tapi masing-masing pihak kirimkan serangan dengan sasaran yang berbeda. Yakni titik-titik Vital seperti ulu hati dan beberapa titik lainnya.


Salah satu dari kelima orang itu melompat dan menerjang Nathan laksana harimau menyambar mangsanya. Namun dengan mudah dihindari oleh Nathan.


Pria tinggi besar ini mengirimkan serangan berupa cengkeraman pada ubun-ubun dan pelipis Nathan, namun serangan itu segera dipatahkan olehnya.


Sedangkan beberapa lainnya menggulingkan tubuhnya ke depan mendekati Nathan. Ketika telah berada dekat si pemuda, dia bangkit seraya melancarkan tusukan jari tangan terbuka ke arah ulu hati dan pusar. Namun begitu mudah dihindari oleh Nathan dengan menggulirkan tubuhnya ke samping.


Serangan kembali mengarah pada Nathan. Nathan mendapat serangan berbarengan dari atas dan bawah, depan dan belakang.


Tapi, Nathan tak menjadi gugup karenanya. Dia melempar tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali untuk menjauhkan diri. Dia membuat lawan kelabakan dan kesulitan karena serangannya.


Melihat bagaimana tangguh dan hebatnya Nathan dalam berkelahi, membuat Hilman mulai merasa was-was. Dia dengan mudahnya berhasil menumbangkan dua diantara kelima anak buahnya. Padahal Nathan belum memberikan serangan balasan pada mereka.


Serangan kembali mereka layangkan pada Nathan. Tiga orang memberikan serangan secara bersamaan, dan Nathan berhasil memupuskan serangan lawan-lawannya itu.


Dan hal itu membuat Ronald semakin geram dan blingsatan. Pria itu melompat dan melayangkan serangannya pada Nathan. Dia begitu marah, dendam terlihat jelas pada sorot matanya. Ronald kian kalap.


Sungguh, Ronald tidak menyangka kalau orang yang ingin dia habisi selama ini, ternyata tidak selemah seperti yang diperkirakan. Nathan semakin kuat dari terakhir yang dia ingat.


Walaupun begitu, Ronald dan tiga yang tersisa tak menjadi putus asa. Malah sebaliknya, mereka semakin ganas menyerang. Dengan kerja sama seperti sebelumnya.


Pemuda binaan Xiao Murten memang tidak bisa diragukan kemampuannya. Dan Nathan bermaksud untuk melampiaskan rasa jengkelnya akibat ulah Hilman dan orang-orangnya.


Maka, selama beberapa waktu lamanya, pria bermata tajam itu tak memberikan perlawanan sama sekali. Dia hanya mengelak ke sana kemari untuk mempermainkan lawan-lawannya.


Ronald dan rekan-rekannya semakin kalap ketika serangan-serangan yang mereka lancarkan terus-menerus menghantam tempat kosong. Mereka seperti menyerang bayangan mereka sendiri. Kenyataan yang mereka terima ini, membuat dada mereka seperti hendak meledak.


Mereka tersiksa bukan main oleh deraan amarah yang bergejolak di dalam dada. Amarah yang tak terlampiaskan, ditambah lagi dengan rasa tersinggung dan jengkel karena ketidakberhasilan menyarangkan serangan-serangan.


Nathan menyeringai meremehkan. Dia puas setelah mempermainkan Hilman dan anak buahnya. Bahkan seorang Ronald Park pun di buat emosi oleh tindakannya.


Amarah yang menggelegak di dalam dada Ronald semakin merajalela ketika Nathan masih sempat keluarkan ejekan-ejekan yang memanaskan hati dan telinga mereka. Itu dilakukan Nathan sambil terus mengelak.


"Dengan kemampuan seperti ini kalian hendak memberikan pengajaran padaku? Bahkan sayap seekor nyamuk pun tak akan mampu kalian patahkan, apalagi seorang manusia. Ataukah..., kalian masih berbaik hati, tidak buru-buru memberikan hajaran padaku dulu? Mungkin menunggu saat yang tepat?"


Ronald semakin emosi dan marah atas semua tindakan-tindakan Nathan yang membuat emosinya kian meledak.


"Kalau kau bukan seorang pengecut, bertarunglah secara benar. Ataukah kau hanya bisa mengelak ke sana kemari, huh" sambut salah seorang dari mereka dengan keras.


Nathan mendengus. "Baiklah kalau itu yang kalian inginkan" timpal Nathan menyanggupi.


Usai berkata demikian, Nathan berdiri diam. Padahal, saat itu dari kanan kirinya, depan dan belakang, lawan-lawannya lancarkan pukulan keras.


Dan Nathan pun benar-benar buktikan ucapannya. Kali ini dia tidak mengelak. Ketika serangan-serangan lawan menyambar dekat, dia buka kesepuluh jari-jari tangannya. Dan....


Dengan kecepatan gerakan tangan yang sukar untuk diikuti mata Ronald dan rekan-rekannya. Nathan, telah mencengkeram pergelangan tangan dua diantara lima orang yang menyerangnya. Meteka terperanjat, dan terkejut bukan main melihat hasil serangan mereka.


Nathan menarik sudut bibirnya. Dia menatap mereka dengan seringai meremehkan. Nathan melepaskan cengkeramannya dan melayangkan pukulan serta tendatangan pada titik vital lawannya.


Pria itu menyibak kemejanya dan menarik sebuah belati yang terselip di pinggangnya. Nathan mengarahkan bagian tajamnya pada leher mereka secara bergantian, lalu menggoroknya. Keduanya pun tumbang dan meninggal dalam keadaan mengenaskan.


"BR*NGSEK!!!:

__ADS_1


Nathan segera berdiri, dan dengan cepat menghantamkan kakinya ke perut dua orang yang menyerangnya dari belakang, membuat keduanya bergerak mundur sambil meringis memegangi perutnya.


Nathan mengambil pisau komando yang terselip di kakinya lalu melemparkan pada bagian leher dia orang itu. Keduanya pun roboh seketika.


Tapi Nathan masih belum selesai, masih ada Ronald yang tampak gemetar ketakutan setelah melihat teman-temannya tumbang dan meregang nyawa di tangan Nathan.


"Kenapa? Mulai ragu untuk menyerang lahi?" sinis Nathan.


"Sombong, aku pasti akan menghabisimu!!"


"Kita buktikan saja!!"


Nathan menghindari serangan Ronald, sejauh ini Nathan membiarkan Ronald terus menyerangnya. Ronald berhasil mendaratkan pukulannya denga cepat di pelipis Nathan, dan membuat pelipis kirinya robek dan mengeluarkan darah besar.


Ronald tertawa meremehkan. Dia puas karena berhasil melukai Nathan. Namun ekspresi wajahnya berubah saat merasakan sesuatu yang basah melumuri sebelah tangannya.


Dengan gemetar Ronald menyentuh bagian perutnya, dan cairan merah segar melumuri tangannya. Nathan berhasil melukainya tanpa Ronald menyadarinta.


Nathan mengangkat kaki kanannya, dan di lanjutkan kembali denga tendangannya yang menghantam dada Ronald. Tubuh Ronald terhuyung dan terperosok turun melewati jendela.


"AAAHHHHH...!!"


Dan hanya suaranya yang terdengar sebelum akhirnya suara teriakkan itu menghilang, di susul dengan suara benturan yang sangat keras.


Hilman berlari kearah jendela, pria itu menutup matanya dan ngilu melihat tubuh Ronald tertancap pada sebuah besi. Pria itu meninggal dengan begitu mengenaskan.


Namun belum berkahir. Dan Nathan ingin segera menyelesaikan pertarungan itu selekas mungkin, tiga orang tiba-tiba melompat dan menyerangnya dengan membabi buta.


Ketiga orang itu tidak terima melihat Nathan menghabisi teman-temannya, terutama Ronald. Dan dengan segera Nathan memburu lawan-lawannya dengan serangan ganasnya. Namun dengan sisa-sisa tenaganya, ketiganya menghindar dengan melompat mundur.


Meski sempat bernafas lega karena berhasil menghindari serangan Nathan, tapi itu hanya sesaat, karena pada saat itulah Nathan mendaratkan serangannya di dada dan ulu hati mereka.


Dan akibatnya mereka terhempas kemudian terlempar, dan jatuh akibat hantaman Nathan. Nathan mengeluarkan senjata apinya dan menembaki mereka dengan brutal, ketiganya pun meregang Nyawa dalam hitungan detik saja.


Ruangan yang semula bersih kini menjadi lautan darah. "Aku pikir kau sudah mati ditangan putrimu sendiri. Dan sebaiknya hentikan jika kau tidak ingin nasibmu seperti mereka!!"


Nathan melenggang pergi tanpa peduli pada korbannya, mereka memang layak mendapatkannya. Dan kematian-lah harga mahal yang harus mereka bayar karena berani mencari masalah dengannya.


.


.


.


"Boss!!"


Leon berseru lega ketika melihat Nathan keluar dari ruangan itu dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun ada sedikit luka di wajahnya. Leon memberikan sapu tangannya pada Nathan, luka di pipisnya perlu ditekan agar pendarahannya segera berhenti.


"Bagaimana kau bisa terluka seperti ini, Boss? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?Lukamu perlu di jahit dan di obati."


"Hn, tidak perlu. Hanya luka kecil saja. Sebaiknya segera jalankan mobilnya, dan ayo kita pulang."


Nathan menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Kepalanya terasa sedikit pusing akibat hantaman dan pukulan yang dia terima secara tidak sengaja.


Jika saja Nathan bisa menghindari pukulan itu,mungkin dia tidak akan sampai terluka seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, toh semua sudah terjadi.


Nathan mencoba menghubungi orang rumah, untuk memastikan apakah Aster terbangun atau tidak. Wanitanya itu bisa sangat panik saat mengetahui jika dirinya pergi secara diam-diam, apalagi di tengah malam.


"Nona, tidak bangun sama sekali, Tuan. Saya rasa beliau sangat kelelahan."


"Baiklah kalau begitu." Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan meletakkan benda tipis itu disampingnya duduk.


Nathan kembali menyandarkan punggung dan kepalanya. Kedua matanya tertutup rapat. Dia tidak tidur, dan hanya sekedar menutup mata saja.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2