
"Finally."
Nathan menyeringai puas. Akhirnya dia bisa memecahkan kode Incubus yang selama ini menjadi biang utama dari semua permasalahan. Dan siapa yang menduga, jika kode Incubus yang selama ini dia cari ternyata berada di liontin kalung Aster.
Dan yang menjadi pertanyaannya, dari mana Aster mendapatkan liontin tersebut. Itulah yang hingga detik ini sangat menggangu pikiran Nathan.
Itu tidak penting sekarang. Yang terpenting dia telah berhasil menghancurkan chip itu. Nathan tidak perlu merasa cemas lagi dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Paman,"
Nathan menoleh setelah mendengar suara parau Aster masuk dan berkaur di dalam telinganya. Pria itu lantas bangkit dari duduknya dan menghampiri Aster.
"Apa yang sedang Paman lakukan? Bukankah itu kalungku?" Tunjuk Aster pada kalung miliknya yang ada ditangan Nathan.
Nathan mengangkat kalung itu. "Aster, jawab pertanyaan Paman dengan jujur, dari mana kau mendapatkan liontin ini?"
"Memangnya ada apa, Paman? Bertahun-tahun aku memakainya Paman tidak pernah menanyakan dari mana aku mendapatkan kalung itu."
"Jawab saja pertanyaan Paman, Aster!!" Pinta Nathan menuntut.
Aster mendengus berat. "Iya, iya, tapi tidak perlu galak sampai memelototi ku juga. Aku mendapatkan kalung ini dari Nenek Buyut. Nenek Buyut berpesan supaya aku menjaga kalung ini dengan baik. Jangan sampai diberikan pada orang lain apapun alasannya." Jelas Aster.
Nathan mendesah berat. Dia tidak pernah menduga jika Nenek Xiao merahasiakan perihal kode itu darinya. Apakah dia tidak tau jika kode Incubus itu akan sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.
"Aku sudah menjawab pertanyaan, Paman. Sekarang giliran Paman yang menjawab pertanyaan ku."
"Tidak apa-apa. Paman hanya penasaran saja, kalungmu sangat indah. Paman tidak pernah ingat kau pernah memakainya." Kemudian Nathan mengembalikan kalung itu pada Aster. Kode rahasia dalam liontin itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.
Aster berdecak sebal sambil memakai kembali kalung itu. "Paman masih sangat muda, tapi kenapa Paman malah pelupa?!"
"Mungkin karena Paman sedang banyak pikiran." Jawabnya.
Aster mengangkat bahunya. "Ya, mungkin saja."
Nathan duduk ditepian tempat tidur seraya mengulurkan sebelah tangannya pada Aster, lalu menuntun wanita itu untuk duduk pangkuannya. Kedua tangan Aster mengalung pada leher Nathan.
Nathan mendekatkan wajahnya sampai akhirnya dua bibir itu bertemu dan saling memagut. Manis lembut bibir aster menjadi candu bagi Nathan, Nathan selalu ingin merasakan manisnya bibir Aster lagi dan lagi.
Mereka mengakhiri ciumannya satu menit kemudian setelah saling memagut dan mel*mat. "Paman, berjanjilah jika kau tidak akan meninggalkanku lagi." Aster menangkup pipi Nathan dan mengunci manik kirinya.
"Aku sungguh-sungguh tidak sanggup jika hidup tanpa Paman." Kedua matanya mulai tampak berkaca-kaca.
Kemudian Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat. "Tidak, Sayang. Paman tidak akan meninggalkanmu lagi. Paman akan selalu berada di sisimu." Ucapnya sambil mengecupi leher Aster.
Nathan melepaskan pelukannya. "Ayo tidur, ini sudah larut malam." Aster tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Baiklah."
-
__ADS_1
Hingar bingar musik terdengar menghentak, memekarkan telinga. Gemerlap lampu khas klub malam terlihat jelas dan membuat pusing bagi yang tidak biasa melihatnya.
Para muda-mudi, baik itu pria maupun wanita, terlihat asyik menggoyangkan tubuh mereka di dance floor, menikmati dentuman musik yang terputar.
Sementara yang sedang tidak berminat 'berolahraga' di dance floor, hanya menonton keriuhan itu dari bangku mereka, di temani minuman pesanan masing-masing yang, tentu saja, beralkohol.
Diantara puluhan manusia yang sedang asik menggoyangkan tubuhnya di dance floor. Tampak tiga mahluk tak kasat mata yang sedang asik menggoyangkan tubuhnya kesana-kemari.
Sosok berkuncir berkostum pink sedang asik memutar tubuhnya kesana-kemari dalam posisi berdiri tegak. Sedangkan sosok hitam bertubuh tinggi besar melakukan tarian yang bisa dikatakan sangat menggelikan.
Sedangkan sosok Miss-K juga tidak mau kalah. Miss K bergoyang dan berjoget heboh diantara pengunjung lain yang berbeda alam dengannya. Suketi menang banyak, dia berhasil mencium puluhan pria tampan.
Suketi terlihat begitu kegirangan. Setiap kali berhasil mencium satu pria, dia langsung berjingkrak kegirangan.
Beruntung keberadaan mereka tidak disadari oleh orang-orang di sana, kecuali dua pria yang baru saja tiba di club malam tersebut. Kedua pria itu pun langsung berbalik karena tidak sanggup melihat pemandangan mengerikan sekaligus menggelikan tersebut.
"Sial tujuh turunan, mimpi apa aku semalam sampai-sampai melihat mereka di sini." Ucap seornang pria jangkung sambil membuang muka kearah lain.
"Ya Tuhan, kenapa kakiku malah gemetar begini. Huhuhu~Leon, sepertinya aku terkencing di celana." Ucap pria yang lebih pendek itu yang pastinya adalah Dio.
"Kau gila ya? Pantas saja aku mencium bau-bau yang tidak sedap." Leon menjapit hidungnya dengan kedua jarinya.
"AYANG TANPAN!!"
Kedua mata mereka berdua membelalak sempurna mendengar teriakan dan lambaian tangan Suketi.
"Aduh!!" Suketi kebablasan dan jatuh tepat di depan pasangan yang sedang bercinta. Parahnya lagi wajah Suketi menubruk sosis berurat yang ukurannya tidak wajar itu. Besar dan panjang.
Suketi mengangkat wajahnya. Pemilik sosis berurat itu sedang mencumbu mesra seorang wanita penghibur. Melihat ukuran jumbo itu membuat liur Suketi menetes.
"KYYYAAA!!! AKU DAPAT JAKEPOT!!" Suketi langsung berteriak histeris.
Hantu narsis itu tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki. Suketi segera mengeluarkan ponselnya dan dia berfoto bersama sosis berurat berukuran besar dan panjang tersebut lalu mengunggahnya ke media sosial miliknya.
Suketi yakin, setelah ini pasti banyak teman-teman hantunya yang akan merasa iri setelah melihat hasil foto terbaiknya.
-
BRAKKK...
Mata kiri Nathan terbuka seketika saat telinga tajamnya mendengar suara dari halaman Villa miliknya. Nathan segera bangkit dari berbaringnya lalu mengintip keluar.
Dia melihat dia pria tengah mengendap-endap masuk ke dalam setelah melewati pagar tinggi menjulang dan melumpuhkan dua penjaganya dengan cara melemparkan bom bius.
"Anjing-anjing itu benar-benar cari mati rupanya!!" Nathan mengambil senjatanya yang tersembunyi di bawah bantalnya.
Lalu pandangannya bergulir pada Aster yang sedang terlelap. Nathan mengambil sebuah remote kontrol dari laci kecil di samping tempat tidurnya.
Setelah ia menekan tombol merah pada tombol tersebut. Sebuah teralis besi dan kaca anti peluru tiba-tiba mengelilingi ruangan tersebut.
__ADS_1
Nathan mengaktifkan pengaman di dalam kamarnya agar keselamatan Aster terjamin. Selain itu, supaya dia tidak mendengar suara keributan yang terjadi di luar. Kemudian Nathan melenggang keluar menghampiri beberapa anak buahnya yang sedang terlibat perkelahian sengit dengan para penyusup itu.
DOR DOR DOR DOR!
Suara tembakan yang saling bersahutan menyambut kedatangan Nathan dihalaman. Dua orang dari pihaknya terkapar setelah kepala dan jantungnya tertembus peluru lawan.
Diluar dugaan Nathan. Ternyata jumlah mereka lebih dari dua orang. Dua orang itu bertugas untuk membuka gerbang, sedangkan 10 diantaranya menunggu di luar. Dan tiga dari mereka juga berhasil ditumbangkan.
Nathan melepaskan beberapa kali tembakan pada pihak lawan yang berusaha untuk menyerangnya. Dan tanpa tenaga ekstra, Nathan berhasil menumbangkan mereka bertiga. Enam orang berhasil diatasi, dan tersisa enam lagi.
"Nathan Xiao, akhirnya kau muncul juga. Aku pikir kau hanya seorang pengecut yang akan terus bersembunyi dibelakang anak buah~"
DUAKKH!
Nathan meninju rahang pria itu sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, hingga beberapa giginya seketika tanggal, dilanjutkan dengan menendang bagian perutnya. Membuat darah segar menyembur dari mulutnya.
Serangan Nathan begitu bertubi-tubi hingga pria itu tak sanggup melawan lagi. Sedangkan kelima rekanya tampak ketakutan, mereka gemetar melihat bagaimana Nathan menghajar rekanya hingga tidak berdaya.
"Siapa yang menyuruh kalian dan apa tujuan kalian kemari?!" Tanya Nathan menuntut penjelasan.
"Kami-"
"JAWAB!!"
"UAKHH!"
Mulut pria itu kembali menumpahkan darah dan ia tak bisa bicara lagi karena cengkeraman Nathan di lehernya. "Jangan betele-tele lagi. Cepat jawab!!" Bentak Nathan menuntut.
"Nathan, tahan!!" Seru Zhoumi melihat adik sepupunya itu yang mulai kalap.
Nathan benar-benar sudah kalap, Nathan membalik tubuh pria itu, kemudian ia memutar tempurung kepalanya hingga tulang leher pria tersebut mengeluarkan bunyi patahan yang pastinya sangat keras.
Dalam sekejap, pria itu pun sudah kehilangan nyawanya dan terkapar. Manik kiri Nathan menjadi semakin menggelap saja. "Ini kesempatan terakhir kalian jika kalian tidak ingin berakhir seperti dia!!"
"Jangan bunuh kami, yang menyuruh kami adalah~"
Jlebbb!!!
"Aaahhh." Pria itu meregang nyawa sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Sontak Nathan dan Zhoumi menoleh kebelakang, siluet pria terlihat baru saja meninggalkan halaman Villa Nathan dengan terburu-buru. Zhoumi hendak mengejarnya, namun segera ditahan oleh Nathan.
"Tidak perlu dikejar. Aku sudah tau siapa dia. Sebaiknya kita masuk saja." Zhoumi mengangguk. "Bereskan mereka semua!" Perintah Nathan pada anak buahnya.
"Baik, Boss!!"
-
Bersambung.
__ADS_1