
Hembusan angin senja menerpa helaian rambut panjang coklat terang milik seorang wanita bermata hazel itu. Tidak ada yang special, hari-harinya terasa membosankan tanpa kehadiran pria itu disisinya.
Ini adalah hari kelima yang Aster lewati tanpa kehadiran Nathan. Pria itu masih belum kembali dan juga tidak ada kabar lagi.
Aster tidak tau apa yang sebenarnya Nathan lakukan di sana, dan masalah apa yang sebenarnya tengah Nathan hadapi saat ini sampai-sampai dia begitu sibuk hingga tidak ada waktu untuk menghubunginya.
"Aster!!"
Aster menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya berjalan menghampirinya. "Kau ini kenapa sih? Kenapa wajahmu kusut seperti pakaian yang belum di setrika?" Tegur Tiffany sambil merangkulnya dari samping.
Aster menggeleng. Dia tidak ingin membahas dan mengatakan apapun pada mereka bertiga. "Bagaimana kalian bisa tau aku ada di sini?" Aster menatap ketiganya bergantian.
"Kami tadi datang kerumahmu. Dan kata orang-orang di sana kau sedang pergi keluar. Dan memangnya tempat mana lagi yang bisa kau datangi selain taman ini?"
Tidak bisa Aster pungkiri. Selain Nathan, mereka bertiga adalah orang yang paling mengerti dirinya. Dan Aster sangat beruntung memiliki mereka sebagai sahabatnya.
"Aku lapar. Bagaiamana kalau kalian menemani aku makan malam. Tidak masalah bukan menyantap makan malam satu jam lebih awal?" Aster mengerlingkan mata pada mereka bertiga dan pergi begitu saja.
Aster ingin sedikit menghibur dirinya. Kepergian Nathan dan tidak adanya kabar darinya membuat Aster menjadi sangat berantakan.
"Aster Xiao!! Tunggu kami!!"
-
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi dimana orang-orang di dalam mansion mewah itu sedang tertidur lelap. Dua orang pria misterius berdiri di depan pagar memperhatikan mayat beberapa penjaga yang baru saja mereka bunuh.
"Heh... Begini lebih baik, dibanding harus menyusup lewat atap seperti maling." Ucap salah seorang dari kedua pria itu.
Langkah mereka mulai memasuki halaman dan menyiapkan senjatanya masing-masing."Lihat! Ada kamera CCTV, John. Biasanya kau narsis?" ujar pria bertopeng pada rekannya.
"Cih, itu kan kebiasaan di markas, jangan diungkit di sini, Bodoh. Lagipula jika aku narsis di sini, bisa-bisa kedatangan kita dipergoki dan kita bisa dijadikan daging guling."
KRAKKK!!!
"Eh!! Copot, copot, copot~"
"Jangan berisik bodoh!! Kau ingin membangunkan semua orang dan membuat kita dalam masalah?!"
"Sorry Ben, kakiku tidak sengaja menginjak sesuatu. Dan bukankah kau tau sendiri jika penyakit latah~ku akan langsung kambuh jika aku terkejut."
"Cih!! Alasan!!"
Dan sementara itu. Pria yang sedang duduk sambil memangku laptopnya terlihat memicingkan matanya. Pria itu meletakkan laptopnya di atas meja kemudian berjalan ke arah jendela.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri. Dia melihat dua pria berpakaian serba hitam yang terlihat mengendap-endap sambil memperhatikan sekelilingnya. "Heh!! Ternyata ada dua Anjing bodoh yang datang mengantarkan nyawa." Ucap pria itu setelah bergumam.
Nathan menyambar sebuah rompi hitam yang ada di belakang pintu kamarnya lalu memakainya sebagai luaran singlet putihnya. Tak lupa dia juga membawa pistol kesayangannya.
Nathan menghampiri Leon dan Dio yang sedang bermain catur di ruang keluarga."Boss, kau belum tidur? Dan~OMO!! Kenapa kau membawa senjata api segala?"
"Ada dua anjing yang datang kemari. Sebaiknya segera persiapkan diri kalian, kedua anjing itu berhasil menghabisi anak buahku. Hati-hati, dia menaruh bubuk racun di mata pedangnya!!"
"Heh!! Menggangu orang yang lagi bersenang-senang saja!!" Gerutu Leon setengah kesal.
-
"Ya ampun, banyak sekali cacing tanahnya di sini." Ben dan John sudah dikepung para penjaga di halaman.
Mereka semua bersenjata dan menyuruh dua tamu tak diundang itu untuk menyerah. Secepat kilat Ben kemudian berlari dan menghunus satu persatu penjaga dengan pedang dari balik jubahnya tanpa ampun.
Darah bermuncratan kemana-mana. Ekspresi Ben sendiri entah seperti apa dibalik master hitamnta. Namun dari gerakan tangannya ia seperti orang yang kesenangan.
"UAAAAARRGH!" Satu penjaga terakhir tumbang.
"Giliranmu." John menyeringai menyiapkan senjata andalannya di tangan.
"Semuanya siaga!" ujar salah satu pria di ruang tamu kediaman mansion mewah tersebut. .
DHUUAAAARRRRRR!
Sebuah bom meledakkan pintu masuk mansion itu, sontak para penjaga langsung terpental dan terluka parah, ini sungguh diluar dugaan mereka.
"Selamat malam Tuan Muda Xiao. Malam ini kami akan mengambil chip itu secara paksa darimu." Ben masuk sembari melangkahi lima mayat dan puing-puing tembok pintu.
"Ini sudah pukul tiga pagi, bodoh…" John meralat salam Ben yang salah.
Nathan hanya menyeringai sinis mendengar ucapan pria itu. Mungkin mereka memang terlihat hebat. Karena berhasil menghabisi sebagian besar orang-orangnya. Tapi masih ada Leon dan Dio yang harus mereka langkahi terlebih dulu.
"Nyali kalian terlalu besar. Sampai-sampai kalian berani mengantarkan nyawa kalian kemari!!"
"Berhentilah bersikap sombong di ujung kematianmi, Nathan Xiao!! Kau pikir, kau dan kedua anak buahmu itu mampu menghalangi kami. Lihat saja semua orang-orangmu yang tidak berguna ini. Semua sudah mati!!"
"Aarrkkhh!! Kalian terlalu banyak bicara!!"
Doorr... Doorr.. Doorr...
"Ayam, ayam, ayam!!" John terlonjak kaget hingga penyakit latahnya kambuh saat Leon melepaskan tembakannya secara brutal padanya.
__ADS_1
Sejauh ini belum ada satu pun peluru dari senjata Leon yang menembus tubuh John. Tapi peluru-peluru itu berhasil menggores dan melukai John di beberapa titik.
Dan gentacan senjata itu dimanfaatkan oleh Dio untuk melayangkan serangan pada John. Sebuah sabetan senjata pada perut, dada dan kakinya membuat John jatuh berlutut dengan pedangnya yang menjadi tumpuan tubuhnya.
"John!!" Seru Ben dan segera menghampiri rekannya itu.
"Sial!! Ternyata mereka bukanlah orang yang bisa diremehkan. Jika begini terus kita bisa mati mengenaskan di sini."
"Kau benar. Coba kau lihat tatapan iblis pria bermarga Xiao itu, lama-lama membuatku merinding. Dia belum bertindak saja aku sudah terkencing celana, lalu bagaimana jika dia sampai mengambil peran?!"
"Bisa-bisa giliran kita yang mati secara mengenaskan!!"
John mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Membuang sumbunya lalu melemparkan ada Nathan dan kedua orangnya. Kedua mata ketiganya membelalak.
"MENGHINDAR!!" teriak Nathan memperingatkan.
Nathan segera menarik keduanya ketika bom itu meledak. Tubuh mereka tersungkur di lantai setelah berhasil lolos dari Kematian. Mereka berhasil menghindari meskipun luka tampak di sekujur tubuh mereka.
Sedangkan John dan Ben mati karena bom yang mereka ciptakan sendiri. John salah prediksi.
Bom itu meledak hanya berjarak dua meter dari tempat mereka berada. Dan mereka pun meregang nyawa di senjata yang mereka ciptakan sendiri. Istilah yang tepat adalah senjata makan tuan.
"Leon, Dio, awas!!" Teriak Nathan saat melihat dinding disamping mereka roboh.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Nathan segera berlari dan menerjang tubuh keduanya. Menyelamatkan mereka dengan cara mendorongnya.
"Uhhhggg..." Rintihan keluar dari sela-sela bibir Nathan.
Wajahnya berlumur darah. Tubuhnya tertindih runtuhan dinding yang nyaris menimpa Leon dan Dio, sedangkan dibawah tubuhnya pecahan kaca yang menusuk tubuh Nathan dan kembali melukai mata kanannya.
Nathan baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri demi melindungi kedua anak buahnya.
Jika biasanya Boss lah yang dilindungi. Namun yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Bukan Nathan yang dilindungi, tapi justru dia yang melindungi.
Bagi orang lain, anak buah hanyalah anak buah. Tapi tidak bagi Nathan, baginya anak buah baginya adalah keluarga.
"TUAN!!" jerit Dio histeris melihat apa yang terjadi pada Nathan.
Dengan langkah tertatih-tatih. Dio dan Leon menghampiri Nathan lalu memindahkan semua runtuhan dinding dari atas tubuhnya. Darah Tempak memenuhi sekujur tubuhnya termasuk sisi wajah kanannya.
"Boss, jaga matamu tetap terbuka. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit. Boss, kau harus bertahan. Bukan demi kami, tapi demi Nona muda!!"
-
__ADS_1
Bersambung.