"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 49)


__ADS_3

"Tuan Xiao?!"


Nathan dan Aster menghentikan langkahnya setelah seseorang memanggil Marga Nathan. Seorang wanita berambut merah bergelombang terlihat menghampiri mereka berdua.


Aster memicingkan matanya dan menatap wanita itu penasaran."Paman, siapa dia? Apa kau mengenalnya?" tanya Aster.


Nathan mengangguk. "Ya, wanita itu bernama, Maiko. Dia kerjaku yang berasal dari Jepang." jawab Nathan.


"Tuan Xiao, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Tidak masalah bukan, jika aku ikut bergabung bersama kalian?" ucap Maiko sambil tersenyum manis pada Nathan.


"Tapi aku keberatan!!" aster menyahut cepat.


Lalu pandangan Maiko bergulir pada Aster yang hanya menatapnya datar. Wanita itu tersenyum manis. "Tuan Xiao, siapa wanita cantik ini? Apakah dia rekam bisnismu juga atau mungkin asisten pribadimu?" tanya Maiko.


"Salah, lebih tepatnya rekan Hidup!!" jawab Aster menegaskan. Lalu Aster menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, tanda bukti jika ia adalah istri Nathan yang sah. "Cincin ini adalah bukti nyata dan pengikat jika aku adalah teman hidupnya!!"


Mimik wajah Maiko berubah total setelah melihat cincin yang melingkari jari manis Aster dan pengakuan wanita itu. "Hahaha!!" tiba-tiba Maiko tertawa keras


Maiko mendekati Aster dengan seringnya yang tercetak di bibir merahnya. "Nona kecil, sungguh tidak baik berbohong seperti itu. Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu?! Kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku!!"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, itu tidak ada urusannya denganku. Lagipula aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya, kamu percaya atau tidak Itu urusanmu!!"


"Nona kecil, sebaiknya kau sadar diri sedikit. Hanya dengan sebuah cincin, maka orang akan percaya jika kau adalah istri Tuan Xiao?! Tuan Xiao sepertinya lebih tua 10 tahun dari mu, jadi mana mungkin Jika kalian adalah suami istri!!"


Nathan mengambil nafas panjang dan menghilangi."Dia mengatakan yang sebenarnya, Aster adalah istriku. Dan kami sudah memiliki dua anak, lagipula umur tidak menjadi masalah apalagi penghalang untuk memulai sebuah hubungan. Nona Maiko, bukankah disini masih banyak meja yang kosong? Sebaiknya Kau pindah dari sini, keberadaanmu di sini membuatku tidak nyaman!!" mata mengangkat wajahnya dan menatap langsung mata hitam Maiko.


"TUAN XIAO, ANDA?!"


Maiko memperhatikan sekelilingnya, sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian, Ia pun memilih untuk pergi dan meninggalkan meja Nathan.


Aster mendecih sebal. Wanita itu benar-benar membuat dirinya kehilangan mood dan selera makan, dan kenapa pula Nathan harus memiliki rekan kerja yang menyebalkan seperti itu.

__ADS_1


"Paman, sebaiknya batalkan saja kerjasama dengan perusahaan wanita itu!!" pinta Aster


Nathan menggeleng. "Tidak bisa, Aster. Aku tidak bisa mencampuradukkan urusan pekerjaan dan masalah pribadi," jawab Nathan.


Aster langsung diam. Memang ada benarnya yang Nathan katakan, tapi kenapa rekan kerjanya harus wanita seperti Maiko. Selain menyebalkan, dia juga sangat centil dan suka mencari perhatian pada Nathan.


Tapi Aster juga tidak bisa bersikap egois, dia harus bisa bersikap lebih dewasa karena bisnis Nathan juga sangat penting untuk keluarganya.


"Apa yang kau pikirkan?" Aster mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan tengah menatapnya.


Wanita itu menggeleng. "Tidak ada, pesanan kita sudah sampai. Sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanannya berubah dingin." Ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.


Mencari masalah dengan Lauren, tentu saja sudah menjadi makanan mereka bertiga sehari-hari. Malaikat tidak akan bosan mencari masalah dengan gadis kecil itu, hari ini contohnya.


Gadis berambut keriting itu meminta kedua temannya untuk mengambil tas sekolah Laurent lalu menggantungnya di atas pohon.


Beberapa anak yang tidak sengaja melihatnya, langsung melapor pada gadis kecil itu. Laurent tidak merasa terkejut ataupun panik, dia sudah terbiasa dengan hal semacam itu.


Laurent mendengus berat. Saya tidak tahu kapan mereka akan Dia mencari masalah dengannya. "Kau menantangku?! Bukan masalah untukku!!" Laurent menyeringai.


Baru saja ia hendak memanjat pohon, tapi seseorang lebih dulu menahan nya. Laurent menoleh, seorang anak laki-laki memegang pundak. "Jangan lakukan, biar aku saja." Pinta anak laki-laki itu yang pastinya adalah Gio. Laurent mengangguk, dan membiarkan Gio yang mengambilkan tas miliknya.


Dan sementara itu...


Yunna Chi yang melihat hal tersebut menjadi tidak suka. Kenapa harus Gio yang mengambilkan tas milik Laurent? Kenapa juga kita harus peduli padanya? Yunna tidak suka, dia yang menyukai terlebih dulu, tapi jujur Laurent yang lebih beruntung darinya.


"Yunna, kau lihat itu. Lihatlah, Gio. Kenapa dia begitu peduli pada gadis menyebalkan itu?!"


"Kenapa malah tanya aku? Dan mana aku tahu?!" jawabnya sinis. Yunna meninggalkan kedua temannya dan pergi begitu saja.


"Yakk!!! Yunna Chi, tunggu kami!!"

__ADS_1


Laurent tersenyum lebar saat melihat Gio berhasil mengambilkan tas miliknya. Gadis kecil itu menghampiri Gio lalu mengucapkan terima kasih padanya.


"Gio, terima kasih sudah membantuku mengambilkan tas ini. Bagaimana setelah pulang sekolah nanti kamu aku traktir makan?" ucap Laurent memberi usul.


"### Sepertinya bukan ide yang buruk," Gio tersenyum lebar. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka masing-masing.


Aster memicingkan matanya, melihat tatapan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka tengah menatapnya dengan berbagai tatapan. Dan Aster tersendiri tidak tahu apa arti dari tatapan-tatapan itu.


Merasa tak nyaman, Aster pun memberitahu Nathan. "Paman, lihatlah Kenapa mereka terus menatapku seperti itu? Apa ada yang salah di wajahku? Aku rasa tidak,"


"Sepertinya itu ada hubungannya dengan, Maiko. Selain sebagai seorang pembisnis, dia juga merupakan artis dan model terkenal asal Jepang. Dan aku rasa mereka adalah penggemar, Maiko." jelas Nathan.


Aster mendengus sebal. "Dasar maniak, apa perlu sampai segitunya mencintai artis. Dan lagipula mereka bukan sesuatu atau barang yang bisa dimiliki, tapi kenapa mereka bisa sampai tergila-gila?! Menggelikan!!" Tutur Aster panjang lebar.


"Sudah jangan banyak komentar lagi, sebaiknya habiskan makananmu. Dan kita pergi dari sini,"


Aster mengangguk. "Baiklah, Paman."


Aster dan Nathan segera menyantap sarapan paginya yang mulai dingin. Sesekali sebuah umpatan masih saja keluar dari sela-sela bibir Aster, dan Nathan yang melihatnya hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.


.


Setelah menghabiskan sarapan dan membayar billnya, Aster dan Nathan meninggalkan restoran tersebut. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Begitu pula dengan Aster, dia sudah sangat merindukan Putra kecilnya, karena saat pergi tadi masih belum bangun.


Tiba-tiba Aster menghentikan langkahnya saat merasakan mual yang luar biasa pada perutnya. Tanpa menghiraukan Nathan, Aster berlari ke toilet. Aster yang tidak tahu apa yang terjadi pada Aster pun segera menyusulnya.


"### Aster, tunggu!!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2