"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Rubah Kecil Yang Licik


__ADS_3

Mobil mewah milik Nathan baru saja meninggalkan halaman utama kediaman Xiao. Di susul mobil Gavin, Rio dan nenek Xiao. Nathan pergi untuk bekerja, Rio dan Gavin pergi untuk sekolah, sedangkan nenek Xiao pergi untuk berbelanja.


Melihat ada kesempatan emas yang mereka miliki. Tak lantas disia-siakan begitu saja oleh Maya dan Ella, bahkan ibu dan anak itu juga menghubungi Amanda dan memintanya untuk datang.


Tujuan mereka hanya satu, yakni memberikan pelajaran pada Aster yang saat ini sedang sakit karena luka tusuk di perutnya.


Mobil milik Amanda memasuki halaman keluarga Xiao tak lama setelah kepergian Nathan dan yang lainnya. Wanita itu segera turun dan menghampiri Ella dan Maya yang memang sudah menunggu kedatangannya.


"Di mana gadis kurang aja itu?" Tanya Amanda setibanya di dalam.


"Dia ada di kamarnya. Apa kau sudah membawakan apa yang kami minta?"


Amanda menyeringai sinis. "Tentu saja aku membawanya. Mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan sebagus ini."


"Tunggu apa lagi, ayo kita ke kamarnya dan kira beri pelajaran pada gadis itu." Seru Maya. Maya berjalan dengan bantuan tongkat karena tulang kakinya yang patah.


-


Derap suara langkah kaki yang semakin mendekat masuk dan berkaur di dalam indera pendengaran Aster.


Gadis itu menoleh setelah mendengar suara decitan pada pintu kamarnya. Tiga sosok wanita yang dia anggap paling menyebalkan memasuki kamarnya. Dan Aster tau, jika mereka memiliki niat buruk padanya.


"Rubah kecil. Saatnya kau mendapatkan pelajaran yang setimpal dari kami. Kau hanya sendiri sekarang, jangankan untuk melawan, untuk bergerak pun kau tidak bisa. Kau juga tidak memiliki pelindung sekarang." Amanda menyeringai.


Aster menarik sudut bibirnya, gadis itu menatap Amanda dengan seringai meremehkan.


"Benarkah? Sepertinya kalian percaya diri sekali bisa memberikan pelajaran padaku!!" Aster menyibak selimutnya kemudian turun dan menghampiri Amanda. Dan tentu saja hal itu mengejutkan mereka bertiga.


"KAU!! JADI KAU TIDAK APA-APA?!" pekik Ella dan Amanda dengan nada meninggi.


"Dasar rubah licik!! Jadi kau menggunakan cara kotor seperti ini untuk mendapatkan perhatian dari, Nathan?"


"Lihat saja, apakah Nathan masih akan memperlakukanmu dengan istimewa setelah dia mengetahui kelakuan putri kesayangannya?"


Amanda mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Nathan dengan video call. Alih-alih merasa panik. Aster malah terlihat sangat tenang, dia menatap Amanda dengan tatapan meremehkan.


"Ada apa, kau menghubungiku?" Tanya Nathan To The Poin.


"Aku ingin kau mengetahui kelakuan asli putrimu. Buka matamu, Nathan Xiao. Dia tidaklah sebaik yang kau pikirkan, kau telah di bohongi olehnya."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Lihat ini!!"


Kedua mata Amanda membelalak. Dia terkejut ketika tiba-tiba Aster menarik tangan kirinya dan mengarahkan pada lehernya, kedua tangan Aster mencengkram tangan Amanda sehingga wanita itu tak bisa berkutik sama sekali.


"Paman, to-tolong aku. Me-mereka mencoba menyakitiku," seru Aster dengan suara terbata-bata.


"Apa yang kau katakan? Bahkan kami tidak menyentuhmu!!" teriak Ella dengan suara meninggi.


"Pa-paman, Bibi Amanda mencoba membunuhku. A-aku hampir mati kehabisan napas karena cekikan-nya!!"


"GADIS SIALAN, BERANI SEKALI KAU MEMFITNAKU!!"


"AMANDA LIM, APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU!!" bentak Nathan penuh emosi.


"Na-Nathan, kau harus mempercayaiku!! Aster, berbohong. Dia mencoba MEMFITNAKU!! Nathan, Nathan, Nathan. ARRRKKHHH..." Teriak Amanda frustasi.


Nathan memutuskan sambungan telfon Amanda begitu saja. Kini pandangan Amanda bergulir pada Aster yang tengah menyeringai tajam padanya. Amanda menjadi marah dan emosi.


"ASTER XIAO!!" teriak Amanda sambil melayangkan tangan kanannya pada Aster dan hendak menamparnya. Namun Aster lebih dulu menghindar sehingga tubuh Amanda terjungkal ke depan.


Maya dan Ella tidak memberikan respon apa-apa. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah dari Nathan jika pria itu sampai tiba-tiba kembali.


Amanda menyambar vas bunga yang ada di atas meja samping tidur Aster lalu menghantamkan pada kepala gadis itu. Tapi sayangnya sebuah tangan lebih dulu menahannya.


Baru saja Amanda hendak berteriak dan membuat perhitungan dengan orang itu, namun hal tersebut dia urungkan setelah melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan tatapan membunuhnya.


"Na-Nathan?"


PLAKK...


Nathan menampar pipi Amanda dengan keras, membuat sudut bibirnya robek dan berdarah. Tubuh Amanda terhempas ke lantai karena dorongan keras Nathan.


"Kali ini kalian! benar-benar sudah keterlaluan!! Dan kalian layak untuk di hukum!! Theo, seret dan kurung mereka di ruang bawah tanah. Jangan di kasih makan dan minum, berikan hukuman cambuk supaya mereka jerah!!"


"Baik, Boss."


Maya dan Ella menggeleng. Mereka mencoba meyakinkan pada Nathan jika mereka tidak terlibat. Itu adalah ulah Amanda. Sedangkan mereka terus meronta, meminta supaya di lepaskan.

__ADS_1


Nathan menghampiri Aster yang sedang bersimpuh di lantai. Mimik wajahnya berubah seketika ketika pria itu berbalik. Tanpa berkata apa-apa Nathan mengangkat tubuh Aster dan membaringkan di tempat tidurnya.


"Paman, aku takut." Aster memeluk tubuh Nathan dengan erat. Suaranya menyiratkan jika dia benar-benar ketakutan. Akting-mu sungguh sangat meyakinkan Aster Xiao.


Nathan merengkuh tubuh Aster dengan erat. Meletakkan dagunya diatas kepala coklat Aster, meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


"Paman, tidak akan pergi kemana pun lagi. Paman, akan menemanimu di sini." Ucapnya meyakinkan.


Nathan melonggarkan pelukannya dan mendapati leher Aster memerah seperti bekas cekikan. "Apa ini perbuatan, Amanda?" Aster mengangguk. "Wanita itu!! Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal atas apa yang dia perbuat padamu."


"Ya, Paman memang harus membalasnya. Hiks, fdia sudah sangat kejam padaku." Aster terisak dan mengeluarkan air mata buayanya. Dan bodohnya Nathan justru percaya, tidak salah jika dia di juluki sebagai rubah kecil yang licik.


"Pasti, aku akan memberikan pembalasan yang setimpal pada rubah betina itu." Jawabnya.


Aster menyeringai. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Nathan darinya, dan dia akan menyingkirkan siapa pun yang berani bersaing dengannya. Karena Nathan hanya miliknya.


Nathan menundukkan wajahnya ketika Aster menarik dasinya, selanjutnya bibir mereka bertemu dan saling melum** . Aster menutup matanya ketika merasakan pagutan bibir Nathan pada bibirnya.


Gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, dan membalas ciuman pria bermarga Xiao tersebut. Kedua tangan Nathan memeluk erat pinggang ramping Aster. Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Nathan melihat Aster mulai kehabisan napasnya.


"Paman, tetaplah di sini. Aku tidak mau ditinggal sendirian." Rengek Aster sambil bergelayut manja pada lengan Nathan.


Nathan menggeleng. "Paman akan tetap di sini bersamamu." Aster tersenyum dan berhambur ke dalam pelukan Nathan.


"Aku menyayangi, Paman. Paman memang yang terbaik." Nathan tersenyum lebar. Pria itu mengangkat tangannya dan membalas pelukan Aster.


Nathan bukannya tidak tau apa yang telah Aster lakukan. Bahkan Nathan tau jika Aster tidak benar-benar sakit, di hanya pura-pura saja demi mendapatkan perhatian lebih darinya. Nathan mengenali gadis itu dengan baik, dia lebih mengenal Aster lebih dari siapa pun.


Bukannya kecewa, Nathan justru bangga dengan apa yang gadis itu lakukan. Itu artinya Aster lebih tangguh dari yang dia bayangkan. Dia cerdik, licik dan tidak mudah di tindas.


Aster mengangkat wajahnya dari pelukan Nathan, bibirnya mengurai senyum lebar. Senyum hangat yang membuat jantung Nathan berdetak cepat. Senyum hangat yang membuat rasa lelah Nathan pudar hanya dengan melihat senyum itu.


Aster adalah segalanya bagi Nathan, dia bukan hanya sekedar putri angkat saja bagi Nathan, tapi dia juga sumber kebahagiaannya.


Kebahagiaan seseorang tidak bisa di ukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Bahkan kita bisa bahagia meskipun tanpa harta yang melimpah maupun kedudukan yang tinggi.


Kebahagiaan bisa kita dapatkan cukuo dengan melihat senyum lebar dari orang yang kita sayangi, itu pula yang di rasakan oleh Nathan. Senyum bahagia Aster sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bahagia.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2