"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Bukan Zaman Victoria


__ADS_3

Kicauan suara burung yang terdengar begitu merdu, berpadu dengan hangatnya mentari pagi membuat sepasang mata amesthyst berwarna hazel itu perlahan terbuka dan sembari bangun dari mimpi indah yang menghiasi tidur nyenyak sang wanita Xiao tersebut.


Setelah mengumpulkan semua nyawanya. Perlahan Aster pun beranjak dari tempat tidurnya yang super nyaman, lalu pandangannya bergulir pada ruang kosong disamping kanannya. Tempat itu terasa agak dingin seperti sudah cukup lama ditinggalkan.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Aster pun segera turun dan mendapati Nathan tengah berbincang dengan beberapa pria asing serta seorang wanita muda di ruang keluarga.


Aster tidak mengenal siapa mereka, karena baru kali ini ia melihat mereka bertiga. Dan kedatangan Aster tentu saja menarik perhatian semua yang ada di sana.


"Paman!!" Seru Aster dan segera menghampiri Nathan.


Nathan mengulurkan tangannya dan menyambut Aster untuk duduk disampingnya."Kau sudah bangun?" Wanita itu mengangguk.


"Ngomong-ngomong siapa mereka ini?"


"Beri salam pada Kakek Buyut Xiao dan Bibi Xiao. Mereka berdua adalah dua tetua dalam keluarga Xiao, yang berkacamata itu adalah kakak nenek buyutmu, sedangkan yang tidak berkacamata adalah adik bungsu nenek buyut mu. Sedangkan Bibi itu adalah cucu dari adik bungsu Nenek buyut mu."


Aster pun segera berdiri dan memberi salam pada kedua pria tua itu. Sedangkan pada wanita yang di sebut 'Bibi' oleh Nathan. Aster tidak memberikan salam hormat sedikit pun. Terlebih melihat tatapan sinis wanita itu padanya.


"Oya, Kakak Xiao. Apakah dia adalah gadis kecil yang 10 tahun lalu kau pungut dari jalanan?" Wanita itu menunjuk Aster seraya menatapnya sinis.


"Ralat, tapi adopsi. Lagipula aku bukan anak yang dipungut dari jalanan. Kau salah menebak, B.I.B.I!!" Jawab Aster sambil menekankan diakhir kalimatnya.


"Ya, apa bedanya memungut dengan mengadopsi? Sama-sama diambil dari suatu tempat bukan?!" Wanita itu menyeruput tehnya dan menyahut ucapan Aster dengan santainya.


"Namanya juga sudah tua. Jadi sulit berbicara dengan Bibi, Bibi tidak paham juga!!"


"Kau!!"


"Marta, cukup!! Kenapa kau malah membuat masalah lagi dengan ribut dengan Aster. Seharusnya kau bisa bersikap lebih hangat padanya. Siapa tau kalian bisa menjadi akrab." Bukankah begitu, Nathan?"


Nathan mengangkat bahunya. "Aku tidak bisa mengatakan iya atau pun tidak. Karena aku mengenal karakter mereka berdua dengan sangat baik. Apalagi Aster, sepertinya sulit jika dua orang dengan kepribadian yang saling bertolak belakang akan bisa menjadi akrab." Tuturnya.


"Betul juga." Sahut adik bungsu Nenek Xiao."Oya, Nathan. Kakek hampir saja lupa. Bagaimana dengan penawaran Kakek tadi? Apa kau menyetujuinya?"


Nathan menggeleng. "Aku menolaknya, Kakek!!" Pria itu membuka kembali matanya yang sebelumnya tertutup rapat. Dengan serius Nathan menatap pria yang duduk berhadapan dengannya itu.


"Kenapa? Apa Marta kurang cantik dan menarik? Dia sangat cantik dan berpendidikan tinggi. Dan menikahinya, itu akan mempertahankan garis keturunan keluarga Xiao yang hampir saja punah."


"Paman Nathan tidak mungkin menikah dengan Bibi Marta. Dia sudah menikahi wanita lain, jadi sebaiknya Kakek dan Bibi jangan bermimpi!!"


"Apa maksudmu?!" Marta menatap Aster penuh selidik.

__ADS_1


Nathan mengeluarkan sebuah akta nikah dari saku jas dalamnya lalu menyerahkan pada Kakek tertua keluarga Xiao. Kakek Xiao tua tampak terkejut, namun detik berikutnya sebuah senyum hangat tersungging dibibirnya.


Berbeda dengan Kakek Xiao tua. Kakek Xiao muda justru menunjukkan sikap tidak sukanya. Karena menurutnya itu sangatlah memalukan. Seorang ayah angkat malah menikahi putri angkatnya sendiri.


"Ini sungguh tidak masuk akal. Kakak Xiao, bagaimana kau bisa menikahi putri angkatmu sendiri?" Seru Marta sedikit membentak.


"Ini sungguh sangat memalukan dan menjadi aib besar dalam keluarga ini, Nathan Xiao!! Segera ceriakan dia sebelum muncul scandal besar!!" Pinta Kakek Xiao muda.


"Lalu apa bedanya jika Paman Nathan menikahi Bibi Marta, bukankah sama-sama memalukan juga?! Dia dan Paman bersaudara."


"Lagipula ini bukan lagi Zaman Victoria, yang masih harus mengandalkan sebuah pernikahan keluarga hanya demi mempertahankan garis keturunan. Aku dan Paman Nathan, bukan...tapi Nathan Oppa saling mencintai, jadi jangan pernah bermimpi kalian bisa memisahkan kami!!"


"Kau!!"


"Marta, cukup!!" Seru Kakek Xiao tua sambil menatap tajam wanita itu. "Kita semua datang kemari bukan untuk bertengkar, tapi untuk melepaskan rindu sesama keluarga."


"Dan kau Hendry Xiao, kenapa kau begitu egois dan masih bersikeras ingin menjodohkan cucumu dengan Nathan. Sejak kepergian Kakak pertama kita sudah sepakat untuk menghentikan tradisi itu. Kenapa sekarang kau malah mengungkitnya lagi?!"


Nathan mendesah berat. Dia memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening oleh sikap dan tingkah mereka bertiga. Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi sikapnya lebih seperti bocah. Terlebih jika Kakek Billy dan Kakek Hendry sedang bertengkar.


"Oya, Kakak Xiao. Apa yang terjadi dengan mata kananmu? Kenapa kau sampai menutupnya dengan perban? Apa mata kananmu mengalami cidera?"


"Bukan cidera, tapi cacat!!" Sahut Aster menimpali. Tiga pasang mata kini menatapnya penuh tanya. Seolah menuntut sebuah penjelasan darinya. "Panjang ceritanya!! Tapi singkat cerita, suamiku mengalami sebuah insiden dimana dia harus kehilangan mata kanannya ketika di London."


Aster mendesah berat. "Bibi Marta, kenapa kau sinis sekali sih padaku? Lagipula aku sudah mengatakan intinya secara padat dan jelas. Dasar kau-nya saja yang Lola. Lambat berpikir!!"


"Kau!!"


"Marta, Cukup!! Berhenti berulah. Kau benar-benar ingin membuat malu keluarga ini?!"


Kakek Xiao tua terlihat bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Aster. Pria tua itu tersenyum ketika menyematkan sebuah cincin berlian dijari manis Aster.


"Ini adalah cincin turun temurun dalam keluarga Xiao. Kakek buyut rasa cincin ini sudah menemukan pemilik aslinya. Jaga cincin ini baik-baik, Nak. Mulai hari ini kau resmi menjadi menantu keluarga ini."


Aster tersenyum haru lalu berhambur ke dalam pelukan Kakak Xiao tua. "Terimakasih telah menerimaku, Kakek Buyut. Aku berjanji akan menjaga cincin ini dengan baik." Tuturnya.


Kakek Xiao tua tersenyum. Mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster."Sama-sama, Sayangku." Balas Kakek Xiao.


Melihat pemandangan langkah itu membuat Nathan tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Apa yang selama ini dia khawatirkan hari ini lenyap sudah. Karena Billy Xiao menerima Aster sebagai menantu kelurga ini.


Berbeda dari Nenek Xiao. Kekek Billy dan Kakek Hendry, mereka berdua selama ini menetap di Belanda. Dan setelah puluhan tahun berlalu. Hari ini adalah kepulangan mereka yang pertama. Bukan untuk menetap, tapi hanya untuk sekedar berkunjung saja.

__ADS_1


"Tuan, makanannya sudah siap." Seorang pelayan menghampiri Nathan dan memberitahu padanya jika sarapan telah siap. Nathan mengangguk. Segera dia pergi kemeja makan bersama para tetua dan Aster juga Marta.


.


.


.


Suasana dimeja makan begitu hening. Tak ada percakapan sama sekali. Hanya suara sendok dan piring yang memecah dalam beningnya suasana. Semua keluarga berkumpul di sana kecuali nenek Xiao yang saat ini sedang berkeliling dunia.


Diam-diam Marta terus memperhatikan Nathan yang sedang duduk tenang menyantap sarapannya di samping Aster.


Ini pertama kalinya mereka berdua duduk bersebelahan, karena biasanya Aster duduk di samping kanan. Kursi yang biasanya Nathan tempati pagi ini di tempati oleh Kakek Billy, menurut Nathan Kakek Billy yang lebih pantas daripada dirinya.


Tubuh Marta panas dingin melihat bagaimana tampan dan sexy-nya Nathan dalam balutan kemeja hitamnya yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka.


Aster yang menyadari sikap Marta hanya bisa menatap sinis pada wanita itu. Dalam hatinya Aster mendecih sinis, menghujani berbagai umpatan pada wanita itu.


.


.


.


Usai sarapan. Aster langsung pergi ke kamarnya. Pagi ini emosinya benar-benar di uji oleh sikap dan tingkah Marta.


Aster tidak tau, kenapa banyak sekali wanita muda yang sangat menyebalkan di dunia ini. Tidak Amanda, tidak Elinda, Tidak Maya dan Ella, dan sekarang malah muncul Marta.


Chu...


Aster terkejut saat merasakan sebuah benda lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya. Dan Nathan berada tepat dihadapannya. "Apa yang sedang kau pikirkan hm?" Ucap Nathan dan sekali lagi mengecup bibir Aster.


"Wanita itu sangat menyebalkan. Dan aku sangat tidak suka dia ada di sini. Tapi tidak mungkin juga jika kita mengusirnya."


"Tidak perlu hiraukan dia. Nanti juga dia akan pergi. Pagi ini kau begitu luar biasa, Sayang. Untuk itu kau harus mendapatkan penghargaan." Nathan menarik tengkuk Aster dan memagut bibirnya. Mel*matnya atas dan bawah bergantian.


Aster mengangkat kedua tangannya lalu mengalungkan lengannya pada leher Nathan. Sebelah tangan Nathan kini berada di kepala belakang Aster. Menekannya dan semakin memperdalam ciumannya.


Ciuman Nathan memang menjadi obat paling mujarab untuk mengembalikan mood Aster. Wanita itu tidak terlihat se-kesal sebelumnya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2