"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 42)


__ADS_3

Setelah satu Minggu lebih di rawat di rumah sakit. Hari ini Nathan di ijinkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit.


Bersama Aster dan Leon, saat ini ia dalam perjalanan pulang ke kediamannya. Nathan sangat merindukan si kecil Rey, karena seminggu lebih tidak bertemu dengannya.


Dari ponselnya. Lalu pandangan Nathan bergulir pada Aster yang sedang tertidur pulas. Dari mimik wajahnya terlihat jelas jika dia sangat kelelahan. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Wajah Aster terlihat begitu tenang dan damai, seolah-olah tak memiliki beban apapun.


"Bos, sepertinya Nyonya sangat kelelahan. Lihat saja tidurnya yang pulas itu." Ucap Leon di tengah kesibukannya mengemudi.


"Dia memang jarang tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini. Selama menemaniku di rumah sakit, waktu istirahatnya banyak tersita." Ujar Nathan.


Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya, dan membiarkan wanita itu bersandar padanya. Lehernya akan pegal jika dia tidak dapat sandaran yang tepat.


"Bos, jujur saja aku tidak pernah menyangka, jika gadis kecil berusia 10 tahun yang kau bawah ke rumahmu waktu itu, akhirnya malah menjadi jodohmu." Tutur Leon sambil melirik Nathan.


Nathan mencium kepala Aster dan menyandarkan dagunya di atas kepala coklatnya. "Bukan hanya kau yang tidak menyangka, aku juga. Entah bagaimana ceritanya aku bisa jatuh cinta pada wanita bar-bar seperti Aster."


"Mungkin itu sudah menjadi rencana takdir, lagipula siapa yang bisa menebak dan mengetahui takdir yang digariskan oleh Tuhan untuk kita?" Ucap Leon yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.


"Ya, kau benar juga."


Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Nathan maupun Leon, keduanya pada kesibukan masing-masing. Leon yang sedang fokus mengemudi, dan Nathan yang sedang menutup matanya.


Leon menambah kecepatan pada mobil yang dikemudikannya. Tujuannya agar Nathan dan Aster bisa segera beristirahat dengan nyaman di rumah. Selama di rumah sakit sudah pasti mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak dan pulas.


-


Leon menghentikan mobil yang dikemudikannya di halaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki dua lantai. Ia membukakan pintu untuk Nathan.


Sebelum turun, pandangan Nathan bergulir pada Aster, melihat wajah lelah istrinya membuat dia tak tega untuk membangunnya. Akhirnya Nathan memutuskan untuk mengangkat dan mengendong wanitanya itu ke dalam.

__ADS_1


Sementara itu...


Leon tampak cemas, karena kondisi Nathan belum sepenuhnya baik. Dia takut jika luka di dada dan perutnya akan terbuka kembali jika Nathan terlalu memaksakan diri. Leon sudah menawarkan diri untuk membawa Aster, tapi Nathan menolaknya. Dia mengatakan jika dirinya sudah tidak apa-apa.


Langkah demi langkah membawa Nathan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Pria itu sedikit meringis karena rasa sakit pada salah satu lukanya, mungkin saat ini luka di perutnya terbuka lagi karena dia terlalu memaksakan diri.


Tapi Nathan masih bisa memaksanya, lagipula itu bukanlah luka yang fatal. Setelah tiba di dalam kamar, kemudian Nathan membaringkan Aster di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya sampai sebatas dada.


"Uhhh," pria itu meringis. Nathan membuka kemeja hitamnya dan mendapati luka di perutnya kembali mengeluarkan darah.


"Bos!!!" Dan Leon segera menghampiri Nathan yang sedang membuka lilitan perban pada perutnya. "Biar ku bantu, Bos. Bos, sih tak mau mau mendengarkan ku. Lihatlah, lukanya jadi terbuka lagi."


"Berisik, jangan banyak mengoceh dan sudah lakukan saja!!!"


Leon mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V. Nathan mendengus, dia harus bisa menahan emosinya. Tidak sampai 5 menit, Leon sudah selesai membalut kembali luka Nathan yang terbuka dengan perban.


"Sekarang kau keluarlah, aku mau tidur!!" Perintah Nathan tak ingin di bantah.


Nathan kembali ke tempat tidurnya lalu membaringkan tubuhnya di samping Aster. Wanita itu terlelap dan tak terusik sedikit pun dengan keributan yang diciptakan oleh Leon.


Sudut bibir Nathan tertarik ke atas, melihat wajah damai Aster membuat hatinya menghangat. Nathan menutup mata kirinya, dan dalam hitungan detik ia telah pergi ke alam mimpi.


-


"KYYYAAA!!! SETAN!!!"


Pria itu menjerit histeris saat keluar dari toilet dan mendapati sosok menyeramkan berbaju putih tengah berdiri di depan pintu sambil nyengir kuda. Pria berwajah setengah tampan itu langsung ambruk seketika, sedangkan si sosok menyeramkan itu hanya bisa mendengus berat.


"Kenapa semua orang sangat jahat pada, Titi? Jelas-jelas Titi sangat cantik, kenapa mereka malah bilang kalau Titi menyeramkan?!" Sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Suketi mempoutkan bibirnya. Dia benar-benar kesal setengah mati karena banyak sekali orang yang takut padanya.

__ADS_1


"Jelas saja mereka takut, lihat dirimu itu Titi Suketi!!! Jangankan manusia, semut pun pasti akan langsung pingsan jika melihatmu!!"


"Yakk!!! Huhuhu, kenapa kau sangat jahat sama Titi ayang Gavin. Jauh-jauh dari Indo ke sini Titi datangi, untuk bertemu dengan kalian bertiga. Tapi kalian malah membuat luka di hati Titi, huhuhu.. jahat!!!"


Gavin mendengus geli. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan Suketi di danau sungai Han. Biar dia tercerahkan dan sadar diri jika dirinya bukan manusia lagi, tapi masalahnya Suketi tidak bisa di sentuh jadi bagaimana dia akan menenggelamkannya?!


"Ck, dasar setan. Kenapa hobi mu malah menangis. Sudahlah, aku mau makan malam dulu. Aku sudah sangat kelaparan," Marcell meninggalkan Suketi begitu saja. Dia kembali ke dalam restoran untuk menyantap makan malamnya.


"Yakk!! Kenapa Titi cantik malah ditinggalkan?! Ayang Gavin, tunggu!!!"


-


Aster membuka matanya. Dan mendapati di luar sudah gelap gulita, yang menandakan jika hari sudah berganti malam. Aster menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Baru saja dia hendak bangun, tapi sesuatu menghalangi gerakannya.


Aster menoleh, hal yang dia lihat adalah wajah tampan Nathan yang terlihat damai. Pria itu sedang tertidur pulas. Senyum di bibir Aster memudar begitu saja mana kala ia melihat perban yang masih melilit mata kanan suaminya.


Dengan gemetar Aster mengarahkan jari-jari lentiknya untuk menyentuh perban itu. Air matanya pun tak bisa dia cegah agar tidak sampai menetes. Dan gerakan tangan Aster membuat Nathan terusik, pria itu membuka matanya dan ia terkejut melihat Aster menangis.


"Apa yang kau tangisi?" Tanya Nathan sambil menghapus cairan bening di wajah istrinya.


"Aku sangat-sangat sedih melihatmu terluka seperti ini, Paman. Kenapa kau harus membiarkan dirimu selalu terluka?" Ucapnya parah.


Nathan menghela napas berat. Ia menarik Aster ke dalam pelukannya dan mendekap wanita itu dengan erat. "Jangan menangis lagi, aku mohon. Aku baik-baik saja, sungguh.. Jadi apa yang kau tangisi?"


"Baik-baik saja bagaimana? Jelas kau tidak baik-baik saja."


"Sungguh, aku baik-baik saja. Aku mandi dulu, setelah ini kita keluar untuk makan malam. Sebaiknya kau juga cepat siap-siap." Pinta Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


"Baiklah."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2