
Sebuah perban yang menyatu dengan plaster terlihat menutup mata kanan Nathan, dengan sebuah bercak merah segar tepat di permukaan perbannya. Mata kanan Nathan kembali mengalami pendarahan karena jahitan dalamnya ada yang terbuka.
Beruntung mereka memiliki seorang dokter pribadi yang sangat handal dan selalu ada di saat darurat. Siapa lagi jika bukan Zhoumi.
"Sebaiknya kali ini kau menurut dan tidak bersikap keras kepala, Nathan Xiao. Pikirkan kondisimu, karena kesehatanmu tentu lebih penting dari apapun. Dan jika kau menyusahkan-ku lagi, akan ku pastikan kau mendapatkan suntikan mati!!"
"Dan Paman akan kehilangan sosis berurat Paman jika berani melakukannya!!" Sahut Aster menimpali. Suaranya terdengar serius tatapannya penuh intimidasi.
Zhoumi meringis, membayangkan jika sosis beruratnya benar-benar sampai dipotong oleh Aster. -
"Ais, kenapa kau serius sekali sih? Jelas-jelas Paman hanya bercanda. Dan ancamanmu sangat mengerikan Nona Xiao, jika harta karunku sampai kau potong, lalu bagaimana aku akan mendapatkan keturunan coba?!"
"Itu bukan urusanku!!"
"Ais, kalian pasangan suami istri benar-benar kompak. Kalian suami-istri Psycho! Terlalu lama di sini lama-lama membuatku mati berdiri. Sudah ah, mendingan aku keluar." Selepas kepergian Zhoumi, di ruangan itu hanya menyisah-kan Nathan dan Aster.
Aster beranjak dari hadapan Nathan dan berjalan kearah pintu, Nathan pikir mau keluar, ternyata hanya mengunci pintu saja. "Kenapa di kunci?" Tanya Nathan setelah Aster ada didepannya.
"Supaya kau bisa istirahat dengan tenang. Jika dibiarkan terbuka, pasti ada saja orang gila yang masuk kemari." Jawabnya.
Nathan mendengus geli. Pria itu menarik Aster untuk duduk di pangkuannya. "Katakan saja jika kau yang tidak ingin diganggu, Nona Xiao." Aster terkekeh. Bagaimana Nathan bisa tau, Nathan memang selalu memahami dan mengerti dirinya.
"Bagaimana Oppa bisa tau? Oppa memang paling mengerti dan memahami diriku." Aster menangkup wajah Nathan kemudian mengecup singkat bibir kissable-nya.
"Karena aku mengenalmu lebih dari siapapun, Sayang." Ucap Nathan dan balas mencium bibir ranum Aster.
Nathan memejamkan matanya seraya mulai menggerakkan bibirnya mel*mat nikmat bibir manis yang tipis milik Aster.
Tak berbeda jauh dari Nathan, Aster turut memejamkan mata mungilnya menikmati alur ciuman hangat yang Nathan ciptakan. Ini yang membuat Aster selalu terbuai ciuman suaminya yang selalu memabukkan itu. Nathan selalu lembut dalam memagutnya.
Aster mengalungkan lengannya pada leher Nathan, ia menariknya meminta pagutan yang lebih dalam. Nathan menyesap bibir lembut Aster atas dan bawah bergantian. Mengetuk belah bibir wanita itu dengan lidahnya meminta ijin untuk akses lebih intim. Mereka saling beradu lidah membelit satu sama lainnya.
Cukup lama sampai Nathan yang melepaskan tautan membuat benang saliva antar bibir keduanya. Mereka tersenyum menyampaikan perasaan saling menyayangi yang tak diucap. Nathan membawa Aster kedalam pelukannya, memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.
"Aku beruntung memilikimu, Sayang. Kau adalah segala-galanya bagiku. Kau adalah hidup dan matiku, dan aku bisa mati jika kau pergi." Bisik Nathan sambil membelai rambut panjang Aster yang terurai.
Aster memainkan jari-jari lentiknya di atas dada bidang Nathan yang hanya tertutup pakaian lengan terbukanya. Membuka dua kancing teratas pada kemeja hitamnya, lalu menelusup kan jari-jari lentik itu ke dalam dada Nathan.
__ADS_1
"Hhhmm," Geraman panjang keluar dari sela-sela bibir Nathan. Pria itu memejamkan matanya menikmati sentuhan jari Aster pada dada bidangnya. "Aster, hentikan!!"
Aster menyeringai. "Kenapa Paman, aku pikir kau menikmatinya." Ucap wanita itu dengan seringai yang sama.
"Aster, hentikan!!" Nathan menahan lengan Aster.
Mata kirinya yang sebelumnya tertutup rapat kini terbuka. Aster sedikit merinding melihat sorot tajam mata Nathan yang mengintimidasi. Membuat wanita itu merinding sendiri.
"Paman, kau lebih mengerikan dari Suketi dan dua suaminya!!"
"Aku sangat lelah dan kepalaku pusing. Malam ini tidak ada aktifitas apapun, mengerti?!" Aster menceritakan bibirnya. Padahal dia ingin sekali bercocok tanam. Tapi dengan entengnya Nathan menolaknya
"Huft, baiklah terserah Oppa saja. Sebaiknya aku keluar." Aster beranjak dan meninggalkan Nathan sendirian di kamar.
Tak ada niat Nathan untuk menyusul wanitanya. Nathan mengenal Aster dengan sangat baik. Dan memangnya begitulah dia jika penyakit kekanakannya sudah kambuh.
-
Gemersik kelopak bunga-bunga sakura warnai heningnya malam, suara yang dihasilkan bernaung sejenak di indera pendengaran, membawa perasaan damai bagi setiap orang, tentunya. Tak terkecuali seorang perempuan muda yang tengah menikmati lembutnya angin malam. Cahaya bulan lebih terang malam ini.
Ia duduk dalam diam, menikmati indahnya suasana malam yang terasa damai ini. Rasanya begitu nyaman.
Wanita itu 'Aster' terlihat menggoyangkan kedua kakinya, kedua tangannya bertumpu di atas papan kayu yang juga menjadi penopang tubuhnya. Dress biru bermotif miliknya terlihat bercahaya selagi purnama tidak segan-segan untuk membagi cahayanya untuk sang dara.
Tak lama kemudian, kedua lensa pengamat menutup, senyum yang menghiasi wajah cantiknya dan menambah keelokannya.
Tampak kolam kecil yang berada di depannya bergelimang akibat biasan sang bulan. Warna jingganya yang memesona pancarkan kesejukan, kian langit berubah keunguan dengan dekorasi hitam dan biru tua di mana-mana.
Manik putih di atas sana mengerlipkan cahayanya kepada makhluk hidup yang ada di bawah, mengundang gumaman terpesona kepada mereka yang melihatnya.
"Hihihi. Aster cantik!! Hai, lihatlah Suketi di sini!!"
"OMO!!" Ketengangannya seketika terusik oleh seruan keras sosok wanita dengan gaun putihnya yang tengah duduk nyaman di-batang pohon. "Yakk!! Hantu gila, apa kau ingin membuatku terkena serangan jantung dadakan eo?!"
"Hihihi!! Suketi hanya menyapa, kenapa si cantik malah marah?"
"Siapa suruh kau muncul dan mengejutkanku? Dasar hantu!! Merusak suasana saja!!" Aster bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Suketi benar-benar mengusik ketenangan jiwanya.
__ADS_1
.
.
.
BLAM!!
"Monyet, monyet, monyet..."
Rio dan Gavin yang baru saja tiba diruang keluarga terlonjak kaget karena ulah Aster yang membanting pintu pembatas taman dan dapur dengan keras. Saking kerasnya bantingan pintu itu, sampai-sampai membuat keduanya nyaris terkena serangan jantung dadakan.
"Apa?!" Keduanya menggeleng.
Mereka mengurungkan niatnya untuk membuat perhitungan dengan Aster setelah melihat tatapan tajamnya. Jangankan untuk membuat perhitungan dengan Aster, baru melihat tatapannya saja sudah membuat Gavin dan Rio ketakutan setengah mati.
Mengabaikan mereka berdua. Aster pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dan setibanya di dalam. Aster mendapati Nathan yang sedang tertidur pulas. Aster menutup kembali pintu itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.
"Oppa, kau sudah tidur?" Ucap Aster setengah berbisik. Namun tidak ada sahutan dari Nathan.
Aster mendesah berat. Wanita itu kemudian berbaring di samping Nathan dalam posisi menyamping.
Diperhatikan wajah tampan itu dengan seksama. Meskipun perban tampak membebat mata kanannya, namun hal tersebut tak mengurangi sedikit pun ketampanannya.
Aster mendekatkan wajahnya untuk bisa mencium mata kanan Nathan yang terhebat perban. Aster tidak merasa jijik sama sekali maskipun ada bercak darah pada permukaan perbannya.
"Oppa, kau belum tidur?"
"Hn,"
"Maaf aku membangunkan-mu." Ucapnya penuh sesal.
Nathan menggeleng. "Tidurlah, ini sudah malam. Aku akan memelukmu seperti ini sampai pagi." Ucapnya lalu mengecup kening Aster, dan membiarkan bibirnya berlama-lama di sana. Dan ciuman Nathan menghantarkan Aster menuju alam mimpinya.
-
Bersambung.
__ADS_1