
"Shh.. Paman ~"
"Keluarkan semua, Sayang. Jangan ada yang ditahan lagi.."
Keadaan kamar yang sangat berantakan dengan pakaian yang berserakan di seluruh ruangan juga aroma khas yang tercium di kamar itu.
Kret! Kret! Kret!
Suara derit ranjang terdengar begitu jelas di pendengaran, sepasang anak manusia saling berbagi kehangatan dengan sang pria yang berada di bawah tubuh wanita yang sedang menikmati apa yang di lakukan prianya.
"Ahh! Ahh! Ouhh.. Paman, ini sangat nikmat~" de*ah-nya sambil merasakan tubuh Nathan yang menghujam lubang buayanya ke atas dan ke bawah tidak terlalu cepat tapi juga tidak lambat.
"Paman, leh.. bih.. ce-cepat.." ucap Aster pada peia yang saat ini tengah mengusai tubuhnya.
"Kau begitu menikmatinya, Sayang. Keluarkan semua milikmu dan jangan ada sedikit pun yang ditahan. Hm.." ujar Nathan sambil terus menghujamkan sosis beruratnya pada lubang buaya milik Aster.
"Aakhhh!"
"Ahhh!"
Desa* mereka bersamaan klima** menghampiri mereka berdua. Nathan menjatuhkan tubuhnya di atas Aster setelah menumpahkan seluruh miliknya di luar lubang milik Aster.
Nathan sengaja tidak mengeluarkannya di dalam karena tidak ingin membuat istri kecilnya itu hamil sebelum waktunya. Setidaknya sampai Aster lulus kuliah dan mencapai cita-citanya.
Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan penasaran. "Paman, kenapa harus dikuatkan diluar? Kenapa tidak di dalam saja?"
Nathan mengecup singkat bibir Aster. "Semua demi kebaikanmu." Kemudian dia bangkit dari posisi berbaringnya dan pergi ke kamar mandi. Sementara Aster masih bertahan dalam posisinya.
Kemudian Aster bergeser dan melepas sprei yang sudah tak berbentuk lagi lalu melemparnya ke dalam keranjang tempat pakaian kotor. Aster memunguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya.
Aster berjalan meninggalkan kamar dan pergi menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering. Aster menghentikan langkahnya ketika melihat sekelebat bayangan melintas di area taman.
Cemas ada penyusup yang masuk. Aster memutuskan untuk memeriksanya secara langsung.
Wanita itu pergi ke taman dan tidak menemukan seorang pun di sana, sampai dia melihat seseorang mengendap-endap mencoba masuk ke dalam kamar Nathan dengan cara memanjat tembok.
Aster kembali ke dalam dan memberi tau Nathan jika ada penyusup yang datang. Dan rupanya Nathan sudah menyadari kedatangan penyuap itu. Saat ini Nathan tengah menyiapkan sebuah kejutan untuk menyambut kedatangannya.
"Ayo tidur, jangan sampai membuatnya curiga." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
Aster mengikuti intrupsi Nathan. Dan keduanya sama-sama berbaring dengan posisi saling berhadapan. Tapi mata mereka sama-sama terbuka.
__ADS_1
Cklekk...
Terdengar suara pintu balkon di congkel dari luar. Dan tak lama setelahnya terdengar suara langkah kaki yang mendekati ranjang Nathan. Penyusup itu mengangkat tangannya yang menggenggam sebuah belati tinggi-tinggi, dan...
Grepp...
Nathan berbalik dan menahan pergelangan tangan pria itu. Membuat kedua mata orang itu membelalak saking terkejutnya. Sungguh di luar dugaannya, ternyata Nathan tidak tidur.
Nathan mendorong pria itu hingga terhuyung kemudian memberikan tendangan telak pada ulu hatinya. Akibatnya pria itu terjengkang ke lantai dan kepalanya belakangnya terbentur tembok.
Seringai tajam tersungging di sudut bibir Nathan. Pria itu bangkit dari posisinya kemudian menghampiri pria yang tampak ketakutan itu.
"Tuan, ampun jangan membunuh saya. Saya hanya di suruh saja."
"Katakan, siapa yang menyuruhmu!!" Pinta Nathan menuntut.
Darah segar tampak keluar dari leher penyusup itu, ketika Nathan menekankan pisaunya pada leher pria tersebut. "Tu-Tuan Jung, dia yang menyuruh saya. Dia meminta saya supaya membunuh Anda."
"Jadi itu perbuatan Jung Hilman?" Tanya Aster memastikan. Pria itu mengangguk membenarkan. "Bajingan tua itu benar-benar semakin keterlaluan saja!!" Aster menggeram marah.
"Tuan, apakah saya sudah boleh pergi?"
Dua anak buah Nathan datang untuk membereskan mayat pria itu, dan beberapa pelayan datang untuk membersihkan lantai dari noda darah.
Tak ada sedikit pun penyesalan meskipun telah menghabisi penyusup itu. Karena memang itulah harga mahal yang harus dia bayar karena sudah membuat Nathan marah.
"Aku sangat lelah, sebaiknya kita tidur sekarang." Aster mengangguk.
"Baiklah."
-
Semenjak Nathan mengusir mereka keluar dari rumah. Maya dan Ella harus menjalani hidupnya dengan penuh derita. Jangankan untuk bermewah-mewah. Untuk mendapatkan sesuap nasi pun rasanya sangat sulit.
Ella dan Maya kini menjadi pengemis di lampu merah supaya mendapatkan uang untuk makan.
Tak jarang mereka bertemu dengan beberapa orang kenalannya, tapi mereka tidak mengenali mereka berdua karena penampilan mereka yang super dekil.
BRAKKK!!
Maya membanting kaleng uangnya dan berteriak marah. "Aku tidak ingin mengemis lagi. Aku bosan hidup seperti ini!!"
__ADS_1
Ella yang terkejut dengan sikap putrinya langsung menarik Maya untuk kembali duduk. Kini keduanya menjadi pusat perhatian.
"Gadis bodoh, jaga sikap dan perilaku-mu!! Lihatlah, kau sekarang menjadi pusat perhatian!!"
Maya menyentak tangan Ella dan menatapnya tajam."Jangan menghentikan ku!! Bahkan untuk membelikan satu helai baju untukku saja kau sudah tidak mampu. Aku akan menemui mereka dan kembali ke rumah itu!!" Maya beranjak dan pergi begitu saja.
"Maya, kau mau kemana? Tunggu Ibu!!" Teriak Ella mengejar Maya.
Ella mengambil uang-uangnya dan segera mengejar Maya. Nathan bisa menempatkan mereka dalam masalah jika Maya tidak dihentikan sekarang juga.
-
Meskipun sekarang mereka telah resmi menjadi suami-istri. Namun Nathan tidak membatasi kebebasan Aster.
Dia tetap mengijinkan Aster untuk kuliah dan melakukan apapun yang dia inginkan. Selama itu tidak membahayakan dirinya sendiri, Nathan tidak mempermasalahkannya .
Belum banyak yang tau perihal pernikahan mereka selain Nenek Xiao dan Paman Kim. Hal itu Nathan lakukan semata-mata untuk menjaga nama baik putri angkatnya. Media akan ramai membicarakannya jika sampai tau tentang pernikahan dirinya dan Aster.
Saat ini Aster tengah siap-siap untuk kuliah. Ada kelas pagi dan Aster tidak ingin sampai terlambat dan melewatkan kelas favoritnya tersebut.
"Sudah siap?" Aster mengangguk.
Kali ini Aster berangkat kuliah dengan diantar oleh Nathan. Nathan melarangnya untuk berkendara sendiri karena keadaan yang memang tidak memungkinkan sama sekali.
"Paman, apakah malam ini kau lembur?"
"Paman rasa tidak, memangnya ada apa?"
Aster menggeleng. "Tidak ada apa-apa, hanya bertanya saja." Wanita itu tersenyum lebar.
Tiba-tiba saja Aster memiliki firasat buruk. Ia merasa jika sesuatu akan terjadi. Entah itu pada dirinya atau pada Nathan. Dan Aster hanya bisa berdoa semoga firasat buruknya bukanlah sebuah pertanda akan hal yang tidak diinginkan.
"Paman, sebaiknya kau tidak usah lembur malam ini. Entah kenapa aku memiliki firasat yang tidak enak."
Nathan menepuk kepala coklat Aster. "Tidak perlu terlalu dipikirkan. Mungkin saja itu hanya perasaanmu saja."
Aster mengangguk. "Ya, semoga saja."
-
Bersambung.
__ADS_1