
"Ayang Titi, kau di mana? Ayang Wowo sangat merindukanmu. Ayang Titi, jangan sembunyi lagi. Ayo kita rujuk.."
Mr.Wowo berteriak menyerahkan nama mantan istrinya, yakni Suketi. Berpisah dari sang pujaan hati membuat Mr.Wowo sangat tersiksa dan kesepian. Dia ingin sekali bisa rujuk dari sang mantan istri tercintanya.
"Ayang Titi, keluarlah dan mari kita bicara. Ayang Wowo merindukanmu, sungguh-sungguh merindukanmu..."
Namun sosok yang dia cari dan dia panggil tak juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal dia sudah berkali-kali memanggil namanya.
"Ayang Titi, oh Ayang Titi. Cintaku, kasihku, sayangku hanya untukmu. Percayalah."
"Tidak mau!! Kau itu tukang selingkuh!!" Mendengar ada sahutan membuat Mr.Wowo membelalakkan matanya. Hantu gondoruwo itu pun segera menengok kebelakang dan me dapati sang mantan istri tengah nangkring di atas pohon.
"Ayang Titi, kenapa sangat sulit bagiku untuk menemukanmu?! Aku sangat merindukanmu kasihku, turunlah dan ayo kita bicara. Aku masih sangat mencintaimu, kasihku.."
"Aku sudah tidak percaya lagi padamu!! Kau pembohong, kau penipu, teganya kau limakan cintaku dengan hantu-hantu centil itu. Aku membencimu, aku tidak mau rujuk denganmu!!"
Mr.Wowo menggeleng. "Itu tidak benar, Sayang. Aku tidak pernah selingkuh, tapi aku dipitnes sana si Poci kurang ajar itu! Percayalah padaku, aku jujur padamu!!"
"Bodoh, bukan di pintes, tapi di fitnes!! Pergi sana, hus, hus, hus!! Aku mau kembali ke negara Oppa-Oppa ganteng saja, bye!!" Sosok Suketi pun kemudian menghilang di balik kabur hitam. Mr.Wowo pun langsung berteriak histeris.
"Ayang Titi, jangan tinggalkan aku!!!!"
-
"Oppa, bangun." Pinta Aster sambil mengguncang pelan lengan Nathan. Tapi tidak ada respon dari pria itu.
"Oppa, kau mendengarku atau tidak, bangun!!" ulangnya lagi kali ini lebih keras dari sebelumnya, sementara itu orang yg ia panggil Oppa itu masih bergelut dengan dunia mimpi di seberang sana, sesekali merespon dengan berdehem pelan, wanita itu menghela nafas pelan berusaha sabar dan kembali tersenyum.
"Oppa, bangun..." Pinta Aster sekali lagi. Ia mengelus elus pipi pria bertampang baby face itu pelan, berharap sentuhan nya bisa sedikit mengganggu tidur suami tampannya itu, tetapi tidak sama sekali ..
Pria itu malah berbalik dan memunggungi Aster .. Wanita itu mendesis dan menyipitkan matanya melihat kelakuan sang suami yg menurutnya menyebalkan tersebut.
"Yak ! Nathan Xiao .. BANGUN!!" Wanita itu berteriak di telinga suami nya. Dan apa yang Aster lakulan membuat Nathan bangun seketika.
"Aster!!" Pria itu mengeram kesal. "Apa kau sengaja ingin membuatku tuli?" Nathan menatap Aster tajam. Sedangkan sang wanita malah memasang muka tak berdosanya.
Aster nyengir kuda, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Hehehe!! Piss," Aster mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V.
Setelah mengumpulkan semua nyawanya. Nathan pun bangkit dari berbaring-nya. Dia ingin tau apa yang Aster inginkan sampai-sampai membuat keributan malam-malam begini.
__ADS_1
"Ini masih tengah malam. Kenapa kau membangunkanku?" Tanya Nathan dingin dan datar.
"Baby Xi tiba-tiba ingin makan sesuatu yang segar, manis dan pedas. Oppa, ayo temani aku keluar untuk membeli es kacang merah, bingsu mangga dan tteok-bokki. Sungguh, ini bukan keinginanku, tapi keinginan baby di dalam perutku." Rengek Aster memohon.
Nathan mendesah berat. Sambil mendecih, pria itu beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan kearah kamar mandi. Dia butuh mencuci muka dan menggosok gigi.
Tak sampai lima menit. Nathan keluar dari dalam sana dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya. Dan di luar Aster sudah menyiapkan pakaian untuknya. Alih-alih langsung menerimanya, pria itu malah mendesah berat.
Sebuah kemeja lengan terbuka dan rompi hitam sepaha, dengan satu tarikan napas panjang sekali lagi, Nathan mengambil dua helai pakaian itu dari tangan Aster.
"Wow, lihatlah suamiku yang tampan ini. Semakin tampan dan cool saja." Ucapnya lalu berhambur ke dalam pelukan Nathan.
Nathan mendengus geli. Dengan gemas dia menarik ujung hidung mancung Aster. "Kau memang sangat aneh, Aster Xiao!!" Ucap pria itu yang hanya di sikapi kekehan oleh sang wanita.
"Dan percayalah, Oppa. Jika aku ini sangat langkah dan hanya ada satu-satunya di dunia."
"Satu saja sudah membuat orang kerepotan, apalagi kalau ada dua." Sinis Nathan menyahuti.
Lagi-lagi Aster terkekeh geli. Wanita itu memeluk lengan terbuka suaminya. "Ayo kita berangkat." Ucap Aster yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Nathan. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar mereka.
.
.
.
Aster mengusap perutnya setelah menghabiskan mangkuk terakhir bingsu-nya. Nathan tidak tau, itu perut apa karet. Buktinya Aster bisa menghabiskan sampai empat mangkok bingsu dan dua porsi Tteok-Bokki.
Tapi anehnya tubuhnya tetap saja ramping meskipun dia dalam keadaan hamil. Hanya perutnya saja yang tampak sedikit membuncit. Nathan saja hanya menghabiskan satu porsi Tteok-Bokki, itu pun tidak sepenuhnya habis
"Oppa, Baby Xi pasti kegirangan di dalam sini, karena keinginannya sudah di turuti." Ucap Aster sambil tersenyum tiga jari.
Nathan mendengus. Mengabaikan Aster, pria dingin itu pun bangkit dari duduknya. Dia harus membayar semua yang telah ia dan wanitanya makan sebelum meninggalkan kedai pinggir jalan tersebut.
"Kau ingin kemana lagi setelah ini? Pulang atau masih ada tempat yang ingin kau datangi? Mumpung kita masih di luar."
"Em, kemana ya?" Aster meletakkan jari di depan bibirnya sambil berpikir. Tempat apa lagi yang ingin dia datangi. "Namsan Town, aku ingin melihat kota ini dari ketinggian."
"Baiklah."
__ADS_1
Nathan menghentikan langkahnya saat iris kirinya menangkap sebuah pergerakan dari dua sisi, kanan dan kiri. Dia melihat 4-5 orang bersembunyi di balik semak-semak yang ada di seberang jalan. Dan pria itu juga melihat sebuah Van hitam yang sedari tadi mengikuti sejak ia meninggalkan Manson mewahnya.
"Ada apa, Oppa?" Tanya Aster melihat sikap waspada suaminya.
"Tetap melihat ke depan dan berpura-puralah tidak melihat apapun. Beberapa orang mengikuti dan mengawasi kita." Jawab Nathan tenang.
"Lalu kenapa dibiarkan saja?! Kau membawa pistol bukan?" Nathan mengangguk. "Dan aku membawa jarum beracun ku."
Awalnya Nathan tidak ingin menimbulkan keributan dengan menghabisi mereka di tempat umum. Tapi dengan beberapa jarum beracun di tangan Aster dia bisa melumpuhkan mereka tanpa menimbulkan suara apalagi keributan.
"Berikan jarum-jarum itu padaku." Aster mengangguk kemudian memberikannya pada Nathan. "Tetap di sini dan aku akan segera kembali." Lagi-lagi Aster mengangguk.
Nathan mendekati orang-orang itu. Ketika jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja. Nathan melemparkan jarum itu pada tiga orang di sisi kanannya, lalu menghabisi orang dari sisi kirinya dengan menggunakan senjata api.
Hanya tersisa satu orang lagi, namun dia berhasil melarikan diri, tapi sayangnya Aster tidak memberikannya begitu saja. Wanita itu mengambil balok yang ada di tanah lalu melemparkannya pada orang tersebut.
Buugghh...
"Aaahhh."
Tubuhnya roboh dan langsung menghantam tanah. Tapi dia tidak mati, bahkan dia masih sadar. Nathan menghampiri pria itu untuk mencari tau siapa yang telah menyuruh mereka.
"Sekarang katakan padaku, siapa yang sudah menyuruhmu. Pilihanmu hanya dua, mati atau mengaku!!"
"A..Am..Pun, Tuan. Jangan membunuh saya, daya mohon. Saya hanya suruhan, Nyonya Song-lah yang menyuruh saya. Beliau tidak terima karena Anda telah membunuh putrinya. Dan Nyonya ingin supaya Anda dan keluarga Anda mati." Jelas pria itu.
"Kembalilah pada Nyonyamu, sebaiknya dia tidak membangunkan seekor singa yang sedang tertidur pulas."
"Ba-baik, Tuan! Akan saya sampaikan seperti yang Anda perintahkan!!"
"Pergilah."
Aster menghampiri Nathan dan langsung memeluknya. "Kau baik-baik saja?" Nathan mengangguk. Meyakinkan sang istri jika dia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, ayo pulang. Takutnya Laurent bangun dan mencarimu. Besok malam saja kita pergi ke Namsan bersama putri kita juga." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
"Baiklah, Oppa." Jawabnya.
Nathan merangkul bahu Aster. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Hongdae. Menuju tempat di mana mobil Nathan di parkiran.
__ADS_1
-
Bersambung.