
Nathan masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Luka yang dia dapat akibat kecelakaan itu lumayan fatal. Dia mendapatkan 7 jahitan pada dada kanan atasnya, empat jahitan pada pipi kiri bagian atas, dan masih ada beberapa luka lagi.
Dan banyaknya perban yang membalut di sana sini, menandakan seberapa parah luka yang dia alami. Selain kasa yang menutup luka jahit di pipi kirinya. Perban lain juga membebat keningnya, yang kemudian turun menuju mata kanannya.
Mata kanan Nathan kembali mengalami pendarahan akibat tidak sengaja berbenturan dengan benda tumpul. Nyaris saja Nathan mengalami hal fatal jika dia tidak keluar dari dalam mobilnya dengan tepat waktu.
"Jika kau menemaniku di sini, lalu bagaimana dengan, Rey? Dia bisa menangis mencari mu."
"Lalu jika aku tidak ada di sini, siapa yang akan merawat, Paman? Aku tidak bisa mempercayakan mu pada orang lain, apalagi suster di sini pada ganjen dan mata keranjang. Lihat saja matanya saat memeriksa mu tadi, seperti serigala betina yang kelaparan."
Nathan mendengus geli. Dia bisa mengerti, lagipula istri mana yang tidak kesal jika suaminya diperhatikan sampai seintens itu oleh wanita lain. Dan jika saja ia berada diposisi Aster, Nathan pun akan melakukan hal yang sama.
"Baiklah, terserah kau saja. Kemari lah, kita berbagi tempat tidur." Nathan menggeser tubuhnya dan memberikan ruang lebih pada Aster. Wanita itu tersenyum lebar, kemudian dia berbaring di samping Nathan.
Nathan memeluk Aster dengan tangannya yang bebas dari infus. Menyandarkan dagunya pada kepala coklat wanita ini. Rasa hangat seketika menjalari perasaan Aster, seiring dengan semakin eratnya pelukan Nathan.
"Paman, jujur saja aku merasa cemas dengan berbagai hal yang terjadi akhir-akhir ini. Disaat kita mulai tenang, bahaya mulai datang mengintai lagi, aku takut hal buruk sampai menimpa anak-anak."
"Tidak perlu cemas, aku pasti akan selalu menjaga dan melindungi kalian bertiga. Tidak akan aku biarkan hal buruk terjadi dan menimpa kalian lagi, meskipun harus membangkitkan kembali iblis di dalam diriku!!"
Aster bangkit dari berbaring nya kemudian pindah ke atas tubuh Nathan. Sepasang Hazel nya mengunci iris Kiri suaminya. Jari-jari lentiknya mengusap perban yang menutup mata kanannya.
Hati Aster berdenyut sakit melihat kondisi Nathan saat ini. Lagipula istri mana yang tidak akan sedih saat melihat suaminya sendiri terluka.
"Apa yang kau tangisi?" Ucap Nathan sambil menyeka air mata di pipi Aster.
"Hatiku sakit melihat, Paman, seperti ini. Dan kenapa kau tidak berhati-hati malah membuat dirimu sampai terluka separah ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau masih di dalam, saat mobil itu meledak."
Nathan menarik kepala Aster dan menyandarkan pada dadanya. "Jangan menangis, aku tidak apa-apa, sungguh. Bukankah Tuhan masih sangat menyayangiku, buktinya aku lolos lagi dari kematian."
__ADS_1
"Jangan sembarangan bicara. Mungkin hari ini kau bisa lolos dari maut karena keberuntungan, dan berhenti membuatmu merasa cemas."
Nathan mengangguk. "Baiklah, aku berjanji."
Aster menyeka air matanya kemudian kembali berbaring di samping Nathan. Wanita itu menutup matanya, sebelah tangannya memeluk suaminya dengan erat. Nathan bisa merasakan jantung Aster yang berdetak kencang, dia memahami betul apa yang dirasakannya saat ini.
Nathan turut mengeratkan pelukannya. Pria itu menutup mata kirinya, betapa dia merasa bersalah pada wanitanya ini, sekali lagi dia membuatnya cemas dan khawatir.
-
"Paman, bagaimana keadaan Daddy? Apa lukanya separah itu sampai-sampai dia harus di rawat di rumah sakit?"
Insiden yang menimpa Nathan telah sampai ke telinga putri sulungnya. Laurent telah mendengar bagaimana kondisi Ayahnya saat ini. Dia tidak sengaja mendengar perbincangan Cris dan Zhoumi, yang mengatakan jika Nathan terluka parah.
"Kami juga belum tau, karena Paman belum sempat ke sana, besok saja kita sama-sama menjenguknya." Ucap Cris yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent.
"Paman Mimi ngelindur ya? Jelas-jelas besok adalah hari ini, bagaimana mungkin aku sekolah di hari libur!!"
Zhoumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui jika besok adalah hari minggu, kenapa dia bisa sebodoh ini, padahal sudah sangat jelas mendapatkan predikat sebagai Dokter yang genius.
"Hahaha. Tentu saja Paman tau, kan Paman hanya bercanda saja, kenapa kau menganggapnya begitu serius princess? Baiklah, segera tidur gih. Ini sudah larut malam. Kami juga mau tidur."
"Baiklah, aku tidur dulu." Laurent beranjak dari hadapan Cris dan Zhoumi lalu pergi ke kamarnya yang ada dilantai dua.
Cris menepuk bahu Zhoumi. Dia berpamitan untuk tidur lebih awal. Kemudian keduanya berpisah dan pergi ke kamar masing-masing.
-
Aster masih tetap terjaga meskipun jam dinding sudah menunjuk angka 02.00 dini hari. Dia tidak bisa tidur, sedangkan Nathan sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Wanita itu bangkit dari posisinya dan dengan gerakan pelan tanpa suara. Aster meninggalkan Nathan dan pergi ke jendela kamar yang berada di sisi kanan ranjang suaminya.
Aster membuka tirai transparan dan jendela tersebut lalu mendongakkan kepalanya untuk memandang langit malam yang dipenuhi jutaan manik-manik langit yang bertaburan.
Malam ini lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Langit lebih cerah dan cuaca lebih mendukung, sehingga dia bisa leluasa memanjakan matanya dengan anugerah Tuhan yang paling indah di atas sana.
Sang Dewi Malam yang biasanya terlihat redup kini justru benderang dan menyinari sebagian bumi yang dinaungi. Membagi sinarnya dengan pada setiap mahluk yang ada di bumi.
Aster sangat menyukai suasana malam seperti ini. Karena jika ada gulungan awan hitam, dia tidak bisa melihat keelokan sinar sang penguasa malam yang selalu berhasil menarik seluruh atensinya.
"Aster, apa yang sedang kau lakukan di sana? Ini sudah lewat tengah malam, tapi kenapa kau belum tidur dan malah masih terjaga?" Tegur Nathan yang entah kapan membuka matanya.
"Paman, kenapa kau malah bangun? Kau ini sedang sakit, seharusnya lebih banyak beristirahat!!" Alih-alih menjawab pertanyaan Nathan, dia malah balik mengomeli suaminya.
Aster meninggalkan tempatnya lalu menghampiri sang suaminya. "Tidurlah lagi, ini masih malam dan Paman harus banyak istirahat!!" Nasehat Aster menuntut.
"Dasar kau ini, kau memintaku untuk tidur, sedangkan kau sendiri masih tetap terjaga. Apakah itu adil. Sebaiknya segera tidur atau~"
"Apa?!" Aster menyela cepat. "Jangan pikir Pakan bisa menindas ku lagi. Paman sedang sakit, jadi sebaiknya jangan galak-galak, harus bersikap manis dan lembut, oke."
Nathan mendesah berat. Berdebat dengan Aster dia tidak akan menang. Wanita itu begitu pandai berbicara dan membuatnya tersudut. Dan jika dilanjutkan, Omelan Aster tidak akan selesai sampai besok pagi. Jalan terbaik adalah mengalah.
"Terserah, kau mau tidur atau tidak. Sakit bukan aku yang merasakannya. Hn, aku mau tidur lagi!!"
"Ck, dasar menyebalkan!!"
-
Bersambung.
__ADS_1