
Kebosanan tingkat akut mulai melanda Aster, bagaimana tidak. Sejak kampusnya rata menjadi tanah akibat insiden berdarah yang terjadi satu Minggu yang lalu, kini Jessica menjadi tidak memiliki kegiatan sama sekali.
Bisa saja dia kuliah di kampus lain jika saja Nathan mengijinkannya. Tapi ayah angkatnya itu tidak mengijinkannya dengan alasan keamanan, dan Aster tidak memiliki keberanian untuk menentangnya.
Saat ini Aster tengah berguling kesana-kemari di atas tempat tidurnya. Bahkan dia sampai terjatuh dari tempat tidurnya. Aster benar-benar merasa bosan setelah mati.
"Paman, aku bosan." Rengek Aster ketika Nathan keluar dari kamar mandi.
"Lalu kau ingin bagaimana?"
"Bawa aku jalan-jalan keluar, atau bawa aku kekantor saja. Bagaimana jika sementara aku magang di sana sebagai sekretaris pribadimu?"
"Hn, aku tidak setuju."
Mata Aster memicing. "Kenapa? Apa Paman meragukan kemampuanku?"
"Bukan,"
"Lantas?"
"Posisi itu sudah ada yang menempati, dan aku tidak yakin jika kau akan bertahan lama di sana."
"Kenapa? Ayolah Paman, pecat saja sekretaris-mu yang sudah seperti cacing kepanasan itu. Jangan terlalu kejam padaku, begini-begini aku juga bisa diandalkan. Paman, hm."
Nathan mendesah berat. "Aster dengar!! Kantor bukan tempat untuk bermain-main. Meskipun Paman adalah pemimpin di sana, tapi Paman tetap tidak bisa seenaknya merekrut pegawai baru tanpa seleksi yang ketat."
"Paman juga tidak bisa asal memecat seseorang hanya karena masalah pribadi. Mereka bekerja dengan profesional, dan semua orang yang bekerja di sana adalah orang-orang pilihan!!"
Aster hanya bisa menekuk wajahnya sambil menundukkan kepala. Lagi-lagi Nathan mengomelinya dan menceramahi-nya panjang lebar. Dan jika sudah begitu maka Aster tidak memiliki keberanian untuk menjawab dan menimpali ucapannya.
Nathan terlihat beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja. Masih ada beberapa email yang harus dia periksa dan ada dua berkas yang belum dia tanda tangani.
Nathan sengaja tidak datang ke kantor selama beberapa hari ini. Pikirannya masih sangat kacau akibat insiden yang terjadi di kampus Aster satu bulan yang lalu. Setiap kali mengingat insiden itu, membuat Nathan tidak memiliki ***** makan.
Ponsel milik Nathan tiba-tiba berdering. Nama Leon tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Nathan menggeser tanda hijau pada layar ponselnya dan menerima panggilan itu.
"Boss, ada bukti baru yang ditemukan polisi di lokasi kejadian. Sebuah rekaman CCTV berhasil di temukan, dan beberapa pria dengan tatto kalajengking di lehernya terlihat memasuki kampus dan menembaki setiap orang yang mereka temui. Dan beberapa diantaranya meratakan S.N.U dengan bom."
__ADS_1
"Tatto kalajengking? Hn, jadi mereka pelakunya. Leon, atur pertemuanku dengan pimpinan mereka. Aku ingin tau apa tujuan dan niat mereka sebenarnya."
"Tapi Boss, kenapa kita harus ikut campur dengan masalah mereka?"
"Karena istriku nyaris saja menjadi korban kekejihan mereka!!"
Pasti Nathan akan tetap menutup mata dan bersikap tidak peduli jika saja Aster tidak nyaris menjadi korban kekejihan mereka. Tapi Nathan tidak bisa diam saja ketika nyawa Aster terseret dalam bahaya.
"Maaf, Boss. Sungguh, saya tidak berpikir sampai sana. Baiklah, akan saya urus semuanya."
Nathan mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja, lalu melemparkan ponselnya ke atas meja. Sudah Nathan duga jika itu adalah perbuatan Japok. Karena hanya mereka yang bisa bertindak sampai sejauh itu.
-
Aster menghembuskan napasnya dengan bosan. Tidak ada hal berguna yang bisa dia lakukan akhir-akhir ini selain hanya bermalas-malasan di rumah. Aster meraih ponselnya yang ada di atas meja dan...
"Aahhhhh..." Wanita itu nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karena chat yang masuk ke dalam sosmed-nya.
Aster mengambil kembali kembali ponselnya yang sempat ia lemparkan. "Dasar setan sinting, bagaimana bisa dia tiba-tiba nongol di sosmed dengan mahluk ber kuncir dan bocah bocah botak seperti ini? Mana mukanya seram lagi, putih seperti bedakan tepung, astaga."
"Ahhhh.." Sekali lagi Aster histeris dan terlonjak kaget karena ponselnya yang berdering tiba-tiba. Dengan geram Aster mengangkat panggilan itu. "Yakk!! Dasar Suketi gila, apa kau ingin membuatku mati muda?!"
"Hihihi... Maaf, bagaimana pasanganku. Cool dan keren bukan?"
"Serem, kayak setan!!"
"Namanya juga setan, hihihi. Dia Pocing bernama Panjul, kami baru saja berkencan dua hari yang lalu. Suketi kangen si cantik. Kapan-kapan Suketi jalan-jalan lagi ke Seoul ya?"
"Tidak usah, di sini sedang musim virus, sebaiknya tidak usah kemari. Bisa-bisa kalian mati dua kali. Oke, aku tutup dulu ya. Bye, bye,"
Aster memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Rasanya dia ingin sekali mengumpati hantu Suketi dengan berbagai sumpah serapahnya. Bagaimana mungkin ada hantu senarsis itu di dunia ini. Dan memikirkannya membuat Aster geli sendiri.
"Aster, ada apa? Paman dengar kau berteriak. Apa ada penyusup yang datang?" Kepanikan terlihat dari sorot mata Nathan ketika dia memasuki kamar.
Aster menggeleng. "Tidak ada, Paman. Maaf, temanku tiba-tiba saja menghubungiku dan nyaris membuatku jantungan."
"Paman pikir ada apa. Tapi syukurlah." Nathan menghampiri Aster dan langsung memeluknya dengan erat. "Jujur saja, Paman masih sangat trauma dengan apa yang pernah menimpamu hari itu. Dan Paman tidak ingin hal serupa kembali terulang untuk kedua kalinya."
__ADS_1
Aster tersenyum. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan. "Semua akan baik-baik saja, Paman. Sebaiknya jangan berpikir yang tidak-tidak lagi. Lagipula tidak mungkin hal buruk terjadi padaku selama Paman ada di sampingku."
Nathan menutup matanya. "Paman tidak akan pergi kemanapun, apalagi meninggalkanmu. Paman akan selalu berada di sisimu. Paman berjanji."
Aster melonggarkan pelukan Nathan dan tersenyum nakal. Aster menunjuk bibirnya, dan selanjutnya bibir itu sudah berada dalam pagutan bibir Nathan.
Kedua mata Aster tertutup dengan perlahan. Saat merasakan pagutan bibir Nathan yang semakin dalam dan menuntut. Ciuman mereka yang semula begitu lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.
Posisi mereka tidak lagi berdiri. Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan Aster diatas pangkuannya.
Sebelah tangan Nathan menurunkan resleti** pada dress yang Aster kenakan, dan sebisa mungkin Aster membantu ayah angkat yang telah berubah status menjadi suaminya itu melepas dress yang dia pakai.
Dan Aster pun melakukan hal yang sama pada Nathan. Aster melepas semua kancing pada kemeja Nathan, lalu menanggalkannya dan membuang kain itu begitu saja. Menyisah-kan singlet hitam yang melekat pas ditubuh Nathan.
Nathan mengeram di tengah ciuman mereka,ketika Aster mengerakan jari-jarinya diatas lengan kirinya yang dihiasi Tribal Tatto dengan gerakan sensu**. Melihat Nathan yang begitu menikmatinya membuat seringai di bibir Aster kian terbuka lebar.
Aster tau jika sentuhannya membuat Nathan mudah sekali terangsa**, dan dia memanfaatkan hal itu untuk membangkitkan ga*rah dalam diri suaminya.
"Aster, hentikan!!" Geram Nathan setelah memohon. Dia benar-benar tersiksa saat ini.
"Kenapa, Paman? Bukankah Paman juga sangat menikmatinya. Keluarkan semuanya Paman, sebaiknya jangan ada yang di tahan lagi." Wanita itu mencoba memprovokasi.
"Aster!!"
Nathan membanting tubuh Aster ke atas tempat tidur dan menc*mbunya semakin keras. Bibir Nathan terus mel*mat bibir Aster dengan brutal, mel*mat bibir atas dan bawahnya secara bergantian.
Alih-alih merasa terancam. Aster justru merasa seperti berada di atas awan. "Aaahhh." Lengkuhan panjang keluar dari sela-sela bibirnya ketika sebelah tangan Nathan meremas pa**daranya dengan brutal.
Dan bagian bawahnya sudah basah sejak pertama kali Nathan mencumbunya. "Ayo, Sayang. Keluarkan semua milikmu, dan jangan ada yang di tahan lagi." Pinta Nathan dengan seringai yang sama.
"Aaahh, Paman. I...Ini, sangat nikmat." Rancau Aster ditengah kenikmatannya.
"Dan kau akan merasakan yang lebih luar biasa setelah ini!!"
-
Bersambung.
__ADS_1